Jumat, 16 Agustus 2024 0 komentar

Nasehat Pertama: Waktu Ialah Kehidpuan

بسم الله الرّحمن الرّحيم

إِعْلَمْ، أَيُّهَا الْوَلَدُ وَالْمُحِبُّ الْعَزِيْزُ أَطَالَ اللّٰهُ بَقَاكَ بِطَاعَتِهِ وَسَلَكَ بِكَ سَبِيْلَ أَحِبَّائِهِ، أَنَّ مَنْشُوْرَ النَّصِيْحَةِ يُكْتَبُ مِنْ مَعْدَنِ الرِّسَالَةِ، إِنْ كَانَ قَدْ بَلَغَكَ مِنْهُ نَصِيْحَةٌ فَأَيُّ حَاجَةٍ لَكَ فِيْ نَصِيْحَتِيْ ؟ وَإِنْ لَمْ يَبْلُغْكَ فَقُلْ لِيْ مَاذَا حَصَلْتَ فِيْ هٰذِهِ السِّنِيْنِ الْمَاضِيَةِ ؟

Wahai anakku, semoga Allah SWT mengaruniakan kepadamu umur yang panjang untuk engkau gunakan melakukan ketaatan kepada-Nya dan semoga mengilhami kepadamu tentang jalan para kekasih-Nya. Sesungguhnya nasehat itu ditulis dari sumbernya, Muhammad SAW. Jika telah sampai kepadamu suatu nasehat yang bersumber dari Rasulullah, apa perlu engkau minta nasehat kepadaku? Jika belum menerima nasehat-nasehat dari Rasul maka katakan kepadaku. Apa yang engkau peroleh dari pada waktu-waktu yang silam.  

أَيُّهَا الْوَلَدُ، مِنْ جُمْلَةِ مَا نَصَحَ بِهِ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتَهُ قَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ : عَلَامَةُ إِعْرَاضِ اللّٰهِ تَعَالٰى عَنِ الْعَبْدِ اشْتِغَالُهُ بِمَا لَا يُعْنِيْهِ وَإِنَّ امْرَأً ذَهَبَتْ سَاعَةٌ مِنْ عُمْرِهِ فِيْ غَيْرِ مَا خُلِقَ لَهُ مِنَ الْعِبَادَةِ لَجَدِيْرٌ أَنْ تَطُوْلَ عَلَيْهِ حَسْرَتَهُ وَمَنْ جَاوَزَ الْأَرْبَعِيْنَ وَلَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ عَلٰى شَرِّهِ فَلْيَتَجَهَّزْ إِلَى النَّارِ، وَفِيْ هٰذِهِ النَّصِيْحَةِ كِفَايَةٌ لِأَهْلِ الْعِلْمِ

Wahai anakku, salah satu pokok dari apa yang telah Rasulullah SAW nasehatkan pada umat Beliau adalah sabdanya, "Tanda berpalingnya Allah Yang Maha Luhur dari seorang hamba adalah ia tersibukkan dengan sesuatu yang tidak berguna. Sesungguhnya seseorang yang telah kehilangan waktu dari umurnya selain untuk melakukan  ibadah, niscaya layaklah penyesalan (kesedihan) yang panjang baginya. Dan barang siapa melewati 40 tahun dan kebaikannya tidak melebihi keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke dalam neraka". Di dalam nasehat ini ada kecukupan bagi ahlul ilmi.
Kamis, 08 Agustus 2024 0 komentar

Muqaddimah

بسم الله الرّحمن الرّحيم

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على نبيه محمد وآله أجمعين

Segala puji bagi Allah , dan akhir yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa, dan shalawat serta salam semoga atas nabinya yaitu Muhammad dan keluarganya semuanya

اعلم أن واحدا من الطلبة المتقدمين، لازم خدمة الشيخ الإمام زين الدين حجة الإسلام أبي حامد محمد بن محمد الغزالي رحمه الله

Ketahuilah bahwa ada seorang pelajar dahulu itu selalu melayani Al-Syekh Al-imam Zainuddin Hujjatul Islam Abi Hamid Muhammad Muhammad Al Ghazali semoga Allah merahmati beliau

واشتغل بالتحصيل وقراءة العلم عليه، حتى جمع دقائق العلوم، واستكمل فضائل النفس

Dan sibuk menghasilkan dan membaca ilmu kepada Imam Ghazali, sampai ia mengumpulkan ilmu-ilmu yang sulit, dan menyempurnakan keutamaan jiwa

ثم إنه تفكر يوما في حال نفسه، وخطر على باله فقال: إني قرأت أنواعا من العلوم، وصرفت في ريعان عمري على تعلمها وجمعها، والآن ينبغي أن أعلم أي نوعها ينفعني غدا ويؤنسني في الآخرة؟ وأيها لا ينفع حتى أتركه؟

Lalu ia berpikir di suatu hari, tentang keadaan dirinya dan bisikan hatinya, ia berkata: aku telah membaca bermacam-macam ilmu, dan menggunakan keindahan umurku untuk mempelajari ilmu dan mengumpulkannya, dan sekarang saya harus mengetahui apa macam ilmu yang bermanfaat besok dan menyenangkan aku di akhiran? Dan apa yang tidak bermanfaat lalu aku tinggalkan

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:” اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع” رواه مسلم وغيره

Rasulullah bersabda: wahai Allah aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat (Hr.muslim dan lainya)

فاستمرت له هذه الفكرة حتى كتب الى حضرة الشيخ حجة الإسلام محمد الغزالي رحمه الله تعالى استفتاء، وسأل عنه مسائل، والتمس منه نصيحة ودعاء

Lalu pikiran ini terus, sampai ia menulis kepada Syekh Hujjatul Islam Muhammad Al Ghazali untuk meminta fatwa, dan menanyakan kepada beliau beberapa masalah dan meminta kepada beliau nasihat dan doa

قال: وإن كانت مصنفات الشيخ كالإحياء وغيره يشتمل على جواب مسائلي، لكن مقصودي أن يكتب الشيخ حاجتي في ورقات تكون معي مدة حياتي وأعمل بها مدة عمري إن شاء الله تعالى

Ia berkata: walaupun karya-karya Syekh seperti Ihya dan lainya itu mencakup jawaban pertanyaanku tetapi tujuanku adalah agar syekh menulis kebutuhanku di beberapa lampiran yang akan bersamaku di saat hidupku dan aku melaksanakannya selama umurku insya Allah taala

فكتب الشيخ هذه الرسالة إليه في جوابه

Lalu syekh menulis kitab ini untuk menjawabnya
0 komentar

Terjemahan Ayyuhal Walad

بسم الله الرّحمن الرّحيم


  1. Nasehat Pertama: Waktu ialah Kehidupan
  2. Nasehat Kedua: Bagaimana Sepatutnya Kita Menerima Nasihat 
  3. Nasehat Ketiga: Ilmu itu Tidak Bermanfaat kecuali bila sudah diamalkan
  4. Nasehat Keempat: Kadar Balasan Mengikut Kadar amalan 
  5. Nasehat Kelima: Ikhlaskan Niatmu 
  6. Nasehat Keenam: Hakikat Hidup, Cinta Dan Amal 
  7. Nasehat Ketujuh: Dahulukan Belajar limu Yang Fardhu 'Ain
  8. Nasehat Kedelapan: Ilmu Saja belum Memberi Manfaat Akan Engkau 
  9. Nasehat Kesembilan: Tinggikan Cita-Citamu, Lawanlah Nafsumu Dan Buatlah Bekalan Akhirat 
  10. Nasehat Kesepuluh: Bangunlah Beribadah Di Waktu Malam
  11. Nasehat Kesebelas: Ibadahmu Hendaklah Mengikuti Hukum Syariat
  12. Nasehat Keduabelas: Setelah Mengamalkan limu Barulah Engkau Mengetahui Hakikatnya 
  13. Nasehat Ketigabelas: Empat Sifat Kesempurnaan Bagi Orang Yang Salik 
  14. Nasehat Keempatbelas: Wasiat Imam Asy-SyibIi ra
  15. Nasehat Kelimabelas: Delapan Wasiat imam Hatim al-Asham ra
  16. Nasehat Keenambelas: Carilah Guru Yang Mursyid 
  17. Nasehat Ketujuhbelas: Intisari limu Tasawuf
  18. Nasehat Kedelapanbelas: Hakikat 'Ubudiyah 
  19. Nasehat Kesembilanbelas: Hakikat Tawakkal
  20. Nasehat Keduapuluh: Hakikat Ikhlas
  21. Nasehat Keduapuluhsatu: Hakikat Riya'
  22. Nasehat Keduapuluhdua: Jangan Engkau Banyak Bertanya,Tapi Hendaklah Banyak Beramal 
  23. Nasehat Keduapuluhtiga: Tinggalkan Empat Perkara 
  24. Nasehat Keduapuluhempat: Kerjakan Empat Perkara
  25. Nasehat Keduapuluhlima: Penutup Dan Doa
  • Riwayat Hidup Imam al-Ghazali ra
  • Sanad Kitab "Ayyuhal-Walad"
  • Ijazah Kitab "Ayyuhal-Walad"

0 komentar

Ciri Khas Orang Yang Sombong

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Jika ia berhujjah atau diajak bertukar pikiran / diskusi niscaya ia akan marah dan benci apabila alasannya atau hujjah nya ditolak.

Jika ia diberi pengajaran atau nasehat ia akan mempertahankan prinsipnya/idealisme nya dan menolak nasehat dalam kebenaran itu. Dan kalau ia bisa memberi nasehat ia akan bersikukuh dengan nasehatnya

Jika sesuatu perkataanya ditolak niscaya ia akan marah.

Maka besar bahayanya bagi orang yang sombong. Dan sangat sulit sekali utk memberi maaf kepada org lain. Dan ciri khasnya orang sombong itu tidak akan sanggup mencintai orang-orang mukmin.

Kecintaannya adalah kebanggaan bagi dirinya sendiri. Dan ia tidak sanggup untuk merendahkan diri karena disebabkan  sangat sulitnya untuk meninggalkan kebusukan hati.  Dan ia tidak sanggup berkekalan di atas kebenaran. Karena kebenaran itu tempat kemuliaan. Dan ia tidak akan sanggup meninggalkan kemarahan. Karena menahan kemarahan adalah kemuliaan.

Dan orang yang sombong itu tidak akan sanggup meninggalkan penyakit hasud / dengki. Karena meninggalkan kedengkian adalah sifat kemuliaan.
Dan ia tidak akan sanggup kepada nasehat yg lemah lembut. Karena nasehat yang lemah lembut itu adalah kemuliaan.
Dan ia tidak sanggup menerima nasehat karena nasehat itu tempat kemuliaan.
Dan orang yang sombong itu tidak akan selamat, karena dia masuk
dalam golongan yang gila pujian.
Dan apabila beramal bersedekah berinfaq dan beribadah hanya ingin mendapatkan pujian dari manusia.
Sesuai dengan firman Allah 
Qs.Al-mukmin: 56

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Tidak ada dalam dada mereka melainkan kesombongan yang tiada dapat disampaikannya.
Maka jelas tidak ada artinya untuk diperpanjangkan lagi.
Maka tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada seberat biji sawi daripada kesombongan.
Maka penyakit orang sombong itu yang paling jahat mencegah orang lain untuk meninggalkan kebaikan daripada menerima kebenaran dan mematuhinya.
Dan Allah sangat mencela bagi orang-orang yang memiliki kesombongan.

Qs. Al-An'am: 93

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.

Kemudian Allah SWT berfirman dalam Az-Zumar: 72

قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

Dikatakan (kepada mereka): "Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya" Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

Kemudian Allah mengancam dalam firmannya Surat An-Nahl: 22

إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ

Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.

Sebagaimana firman Allah SWT Qs. Al-A'raf: 146

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.

Diibaratkan orang yang sombong menurutt ahli hikmah, tidak akan tumbuh tanaman yang ditanam pada batu yang licin. Karena ilmu hikmah itu, tidak ditempatkan kepada orang-orang yang menyombongkan diri. Tetapi ilmu hikmah itu bekerja pada hati orang-orang yang merendahkan diri. Dan demikian itu bentuk macam kesombongan yang paling buruk dan keji. Dan tidak akan merubah kepadanya selain dalam kebodohan semata mata dan kedurhakaan.

Disifatkan dalam firman Allah SWT Qs. Al-Furqon: 60

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا ۩

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang", mereka menjawab: "Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).

Bahkan mereka membelokkan diri dari berfikir dan tertutuplah mata hati mereka. Maka terus meneruslah dia dalam kegelapan dan kebodohan disebabkan tidak mentaati Allah dan Rasul dan Ulama- ulamanya nya. Dan dia menyangka bahwa pendirian itu yang benar. Itulah orang yang tidak mau mengenal tentang ilmu Allah ta'ala sehingga dirinya tidak mau taat untuk mengikuti kebenaran dan merendahkan diri kepada Rasul-rasulNya dan para ulama-ulamaNya.

Dan bahayanya manusia yang sombong / menyombongkan diri dan yang membubarkan majelis dan mencerai beraikannya maka Allah ta'ala berfirman dalam ancamannya 
Qs.Al-An'am 52 :

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).

Dan disambung dengan firman Allah Qs.Al-Kahf: 28

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Karena sifat orang yang sombog sangat besarlah kehinaannya dan memiliki tanda-tanda yang menyalahi Allah taala pada segala petunjukNya. Apabila ia mendengar dan mengetahui kebenaran dari salah seorang hamba Allah niscaya ia akan enggan menerimanya dan ia akan terus menerus mengingkarinya.

Bahkan tidak pernah cocok dalam tukar pikiran untuk membahas hal rahasia agama. Mereka akan terus menyangkal dengan kebodohannya. Dan mencari usaha daya upaya untuk menolak kebenaran. Itu adalah akhlak yang kebanyakan dimiliki orang-orang kafir dan orang-orang munafik apabila mendapatkan pelajaran atau pengajaran dari manusia mereka tidak akan mematuhi dan mentaatinya dan keluarlah daripada imannya sebagaimana difirmankan Allah dalam 
Qs.Al-Baqarah: 206

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.

Itulah orang-orang yang disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW orang yang mengingkari kebenaran. Maka Allah Ta'ala berfirman dalam surat
Qs. As-Syu'ara:215

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.
Selasa, 06 Agustus 2024 0 komentar

Nasehat Dari Syeikh Arifin bin Ali bin Hasan

بسم الله الرّحمن الرّحيم


  • Jangan pernah engkau lepaskan apa yang ada pada tanganmu/usaha/ pekerjaan,
    dan jangan pernah engkau meniru orang lain/menjadi orang lain,
    dan jangan pernah merasa jenuh/bosan dalam meraih cita-cita,
    dan jangan pernah mengatakan aku tidak bisa sebelum mencoba,
    dan jangan pernah merasa sukses sebelum merasakan kegagalan,
    dan jangan pernah merasa benar sebelum orang lain membenarkan,
    dan jangan merasa yaqin sebelum mengetahui bukti keyakinan,
    dan jangan merasa beriman sebelum mengetahui nilai kecil dosa,
    dan jangan pernah merasa telah memiliki amal pahala/shaleh kebaikan sebelum mengetahui keikhlasannya,
    dan jangan pernah mengatakan ikhlas sebelum mengetahui sakitnya balasannya/cobaannya besar,
    dan jangan pernah mengatakan ini ujian sebelum mengetahui diri kita beriman pada Allah,
    dan jangan pernah mengatakan kami sudah beriman sebelum mengetahui ujian dari Allah,
    dan jangan pernah merasa memiliki/bangga sebelum merasakan penghinaan,
    dan jangan mengatakan cinta/mahabah sebelum berjuang dan berkorban, maka HIKMAH adalah dimulai dengan NIAT dan CITA-CITA dalam kesungguhan untuk meraihnya

  • Harta apakah yang paling menggembirakan bagi orang yang berakal?
    Dan harta manakah yang bisa menolong untuk menolak kesedihan?
    Dan harta apakah yang membuat ketenangan dalam hidupnya?
    Ahli hikmah menjawab:
    1. Harta yang paling menggembirakan setiap kali berbuat amal yang sholeh atau baik
    2. Harta yang dia rela dengan yang ditentukan oleh Qadha atau ketetapan Tuhannya.
    3. Orang yang Qanaah
  • "Masa muda adalah kesempatan untuk mencapai cita-cita dan menggapai derajat yang tinggi disisinya, maka raihlah dengan semangat serta kesungguhan demi mencapai kemuliaan dan tidak ada unsur terlambat untuk meraihnya. Kegagalan merupakan pintu menuju kesuksesan dan jangan menyerah oleh keadaan dan mulailah dengan YAKIN untuk memperolehnya" AMIN"
  • Manusia yang cerdas selalu memikirkan bekal amal akherat, kecerdasan akal adalah karunia dari Tuhanku, kesalahan akal hanya digunakan untuk mencapai kesuksesan dunia melupakan akherat, akal adalah alat, penggunaan alat adalah orang-orang yang berakal, orang yang berakal adalah orang-orang yang berilmu, disebut orang yang berilmu yang tidak menggunakan akal, karena orang yang tidak menggunakan akal hidupnya penuh dengan penyesalan-penyesalan disebabkan dengan kebodohannya, kebodohannya disebabkan kecintaannya pada dunia, dan dunia telah mempermainkannya, yang mempermainkannya adalah sifat dari iblis jahanam laknatullah, maka berusahalah MERAIH KEHIDUPAN AKHERAT untuk KEABADIANNYA.
0 komentar

Do'a Imam Ghazali

بسم الله الرّحمن الرّحيم


اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ النِّعْمَةِ تَمَامَهَا وَمِنَ الْعِصْمَةِ دَوَامَهَا وَمِنَ الرَّحْمَةِ شَمُوْلَهَا وَمِنَ الْعَافِيَةِ حُصُوْلَهَا وَمِنَ الْعَيْشِ أَرْغَدَهُ وَمِنَ الْعُمْرِ أَسْعَدَهُ وَمِنَ الْإِحْسَانِ أَتَمَّهُ وَمِنَ الْإِنْعَامِ أَعَمَّهُ وَمِنَ الْفَضْلِ أَعْذَبَهُ وَمِنَ اللُّطْفِ أَقْرَبَهُ وَمِنَ الْعَمَلِ أَصْلَحَهُ وَمِنَ الْعِلْمِ أَنْفَعَهُ وَمِنَ الرِّزْقِ

أَوْسَعَهُ اَللّٰهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَا تَكُنْ عَلَيْنَا.

اَللّٰهُمَّ اخْتِمْ بِالسَّعَادَةِ آجَالَنَا وَحَقِّقُ بِالزِّيَادَةِ أَعْمَالَنَا وَاقْرُنْ بِالْعَافِيَةِ غُدُوَّنَا وَآصَالَنَا وَاجْعَلْ إِلَى رَحْمَتِكَ مَصِيْرَنَا وَآمَالَنَا وَاصْبُبْ سِجَالَ عَفْوِكَ عَلَى ذُنُوْبِنَا وَمُنَّ عَلَيْنَا بِاإِصْلَاحِ عُيُوْبِنَا وَاجْعَلِ التَّقْوَى زَادَنَا وَفِي دِينِكَ اجْتِهَادَنَا وَعَلَيْكَ تَوَ كُّلَنَا وَاعْتِمَادَنَا إِلَهَنَا3x ثَبِّتْنَا عَلَى نَهْجِ الْإِسْتِقَامَةِ وَأَعِذْنَا مِنْ مُوْ جِبَاتِ النَّدَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَخَفِّفْ عَنَّا ثِقَلَ الْأَوْزَارِ وَارْزُقْنَا عَيْشَةَ الْأَبْرَارِ وَاكْفِنَا وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ الْأَشْرَارِ وَأَعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ ابَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا مِنَ النَّارِ وَالدَّيْنِ وَالْمَظَالِمِ يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ يَا كَرِيمُ يَا سَتَّارُ يَا حَلِيمُ يَا جَبَّارُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ وُصَحْبِهِ

ALLAAHUMMA INNAA NAS-ALUKA MINAN NI'MATI TAMAA MAHAA WA MINAL 'ISHMATI DAWAAMAHAA WA MINAR-ROHMAATI SYUMUULAHAA WA MINAL 'AAFIYATI
HUSHUULAHAA WA MINAL 'AYSYI ARGHODAH, WA MINAL 'UMRI AS'ADAH, WA MINAL
IHSAANI ATAMMAH, WA MINAL IN'AAMI A'AMMAH WA MINAL FADHLI A'DZABAH, WA
MINAL LUTHFI AQROBAH. WA MINAL 'AMALI ASHLAHAH, WA MINAL 'ILMI ANFA'AH, WA
MINAR RIZQI AWSA'AH. ALLAAHUMMA KUN LANAA WALAA TAKUN 'ALAYΝΑ.
ALLAAHUMMΜΑΚΗΤΙΜ BIS-SA'AADARI AAJAALANAA WA HAQQIQ BIZ ZIYAADATI
A'MAALANAA WAQRUN BIL 'AAFIYATI GHUDUWANAA, WA AASHOOLANA WAJ 'AL ILAA
ROHMATIKA MASHIIRONAA WA AAMAAALANAA WASHBUB SIJAALA 'AFWIKA 'ALAA
DZUNUUBINAA WA MUNNA 'ALAYNAA BI ISHLAAHI UYUUBINAA WAJ 'ALIT TAQWAA ZAADANAA WA FI DIINIKAJTIHAADANAA WA 'ALAYKA TAWAK-KULANAA WA'TIMAADANAA.
ILAAHANAA (tiga kali), TSABBITNAA 'ALAA NAHJIL ISTIQOOMAH, WA AIDZ MA MUN MUUJIBAATIN NADAAMATI YAUMAL QIYAAMAH, WA KHAFFIF 'ANNAA TSIQOOLAL AWZAARI WARZUQNAA 'AYSYATAL ABROORI WAKFINAA WASHRIF 'ANNAA SYARROL ASYROORI WA A'TIQ RIQOOBANAA WA RIQOOBA AABAA-INAA WA UMMAHAATINAA MINAN NARI WAD DAYNI WAL MAZHALIMI YAA 'AZIIZU YAA GHOFFARU YAA KARIIMU YAA SATTAARU YAA HALIIMU YAA JABBAR, BIROHMATIKA YA ARHAMAR ROOHIMIIN. WA SHOLLALLAAHU 'ALAA KHOIRI KHOLQIHI MUHAMMADIN WA AALIHI WA SHOНВІНІ AJMA'IIN.

"Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu nikmat yang sempurna, penjagaan yang senantiasa, rahmat yang meliputi, kesehatan yang tetap, kehidupan yang paling menyenangkan, umur yang paling membahagiakan, ihsan yang paling sempurna, nikmat yang paling merata, anugerah yang paling enak, kebaikan yang paling dekat, amal yang baik, ilmu yang paling bermanfaat, dan rezeki yang paling luas. Ya Allah, jadilah Engkau sebagai penolong kami, bukan yang menghadapi (melawan) kami.
Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan kebahagiaan, wujudkanlah amal kami semakin bertambah, sertailah saat pagi dan petang kami dengan kesehatan, jadikanlah akhir perjalanan kami dan harapan kami adalah menuju rahmatMu, tuangkanlah limpahan-limpahan ampunan Mu terhadap dosa-dosa kami, berikanlah kepada kami anugerah diperbaikinya aib-aib kami, jadikanlah takwa sebagai bekal kami, agama sebagai perjuangan kami, serta tawakal dan ketergantungan kami hanya kepadaMu.
Tuhan kami (tiga kali), tetapkanlah kami pada jalur istiqomah, lindungilah kami dari hal-hal yang dapat menyebabkan penyesalan di hari kiamat, ringankanlah beban dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari kejahatan orang-orang yang jahat, bebaskanlah kami, ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami dari neraka, hutang dan kedholiman. Wahai Yang Maha Mulia, wahai Yang Maha Pengampun, wahai Yang Maha Pemurah, wahai Yang Maha Menutupi, wahai Yang Maha Penyantun, wahai Yang Maha Perkasa, dengan rahmatMu, wahai Yang Paling Penyayang diantara yang penyayang. Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada makhluk terbaik Nya juga kepada keluarga dan para sahabatnya".


Diamalkan selepas sholat fardhu 1x
Fadhilahnya, Insya Allah: 
  1. Dikabulkan segala hajatnya
  2. Diampuni segala dosa-dosanya dan keluarganya
  3. Dimurahkan rezekinya
  4. Diakhirkan umurnya Khusnul Khotimah
0 komentar

Tentang Penuntut Ilmu

بسم الله الرّحمن الرّحيم

QS. AL AN'AM 153

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ * وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٥٣)

WA ANNA HAAZAA SHIROOTHII MUSTAQIIMANG FATTABI'UUH, WA LAA TATTABI'US-SUBULA FA TAFARROQO BIKUM 'ANG SABIILIH, ZAALIKUM WASHSHOOKUM BIHII LA'ALLAKUM TATTAQUUN
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa".

Seseorang itu tidak dapat menemuh perjalanan dhahir dan bathin kecuali dengan semangat yang tinggi dan penuh dengan kesungguhan. Sedangkan orang-orang yang bodoh membiasakan dengan kemalasannya, lemah, kurang akal dan suka menunda-nunda, sedikit yang dapat menyelesaikan suatu urusan dan tidak pernah mendapatkan apa yang dituju kecuali hanya sekedar pemberian Allah yang ia kehendaki dan penuh dengan keraguan yang tidak memiliki prinsip yang tetap, yang imannya selalu berubah-ubah (taqlit). Maka Al Imam Abdullah bin Alwi Al Haddad bermasah dalam syairnya:

يَا طَالِبَ التَّحْقِيقِ قُمْ وَبَادِرْ

وَانْهَضْ عَلَى سَاقِ الْهِمَمْ وَخَاطِرْ

وَاصْبِرْ عَلَى قَمْعِ الْهَوَى وَصَابِرْ

وَاصْدُقُ وَلَا تَبْرَحْ مُلَازِمَ الْبَابُ

Wahai penuntut Tahqiq, bangun dan bersegeralah

Dengan penuh semangat dan kemauan, bangkitlah

Bersabarlah dalam mengendalikan hawa nafsu

Berkatalah yang benar dan bersiaplah selalu di pintu

Sedangkan menurut Sayyidina Al Imam Al Arifbillah Ahmad bin Hasan Al Athas dalam kitab Qirthos mengatakan "Puncak anugerah Ilahiyyah terbagi menjadi 3:
  1. Kesungguhan dalam mencari
  2. Pengabdian diri sebagai hamba yang baik
  3. Niat yang benar
Apabila 3 syarat ini dimiliki bagi penuntut ilmu maka telah tercapai maksud dan cita-citanya. Maka dengan niat bersungguh-sungguh untuk mencari puncak anugerah Ilahiyyah dan penuh semangat merupakan puncak awal/dasar semua amal kebaikan, karena niat adalah ruh segala ketaatan. Dan semangat merupakan dasar modal semua amal kebaikan, apabila dibangun amal shaleh dan akhlak yang baik maka tercapailah tujuan menuntut ilmu. Maka yang didapatkannya akan mengetahui kelemahan-kelemahan pada diri sendiri. Karena semakin menuju tingkat kemuliaan akan semakin bertambah pula kelelahan dalam mencapainya. Dan kemuliaan itu tidak akan pernah diperoleh kecuali dengan proses yang perlahan-lahan dan membutuhkan waktu yang sangat lama dan tidak ada terwujud cita-cita itu hanya dengan mengaku-aku dan panjang angan-angan.

Menuntut ilmu menurut Asy Syeikh Al Imam Al Quthub As Sayyid Al Arifbillah Abdullah bin Abubakar Al Idrus mengatakan "Apabila penuntut ilmu semangatnya lemah dan kurang, dan malas maka membuat mata hati menjadi gelap, jiwa atau hati menjadi keras dan pikiran membeku dan tidak akan pernah tercapai cita-citanya yang diinginkan dan tidak akan pernah sampai kepada yang dicintainya. Dan barangsiapa yang menghendaki kejernihan hatinya dan masuk dalam alam Robbani, maka hendaklah ia banyak beribadah/sholat di tengah malam.

Menurut Al Imam Asy Sayyid Al Arifbillah Ahmad bin Zein Al Habsyi mengatakan "Seseorang itu tidak akan dapat mencapai sesuatu kedudukan kecuali seseorang itu benar-benar fokus pada kedudukan itu. Dan apabila seseorang itu banyak cabang pikirannya niscaya ia tidak akan sampai mencapai kedudukan itu. karena Allah tidak akan memberi kepada seorang hambaNya kecuali memiliki persiapan dan niat untuk itu. Berapa banyak orang-orang yang disebut sholeh yang semuanya tidak mampu untuk menambahkan atau menaikannya kepada kedudukan yang lebih tinggi sehingga ia tetap pada maqom kedudukan yang semula. Maka dengan persiapan melakukan aktivitas atau kegiatan dan berjuang di jalan Allah akan didapatkan keberkahan dan akan diperoleh pemberian Nya. Maka dengan mujahadah akan didapatkan Musyahadah (penyaksian kepada Allah), sesuai dalam firman Allah SWT

QS. Al Ankabut 69:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ، وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٦٩

WALLAZIINA JAAHADUU FIINAA LANAHDIYANNAHUM SUBULANAA, WA INNALLOHA LAMA'AL-MUHSINIIN

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang- orang yang berbuat baik".


Dalam syairnya, Al Mutanabbi berkata:

عَلَى قَدْرِ أَهْلِ الْعَزْمِ تَأْتِي الْعَزَائِمِ

 وَتَأْتِي عَلَى قَدْرِ الْكِرَامِ الْمَكَارِمُ 

وَتَعْظُمُ فِي عَيْنِ الصَّغِيْرِ صِغَارُهَا 

وَتَصْغُرُ فِي عَيْنِ الْعَظِيمِ الْعَظَائِمِ

Semangat kan datang senilai pemiliknya
Pun kemuliaan kan tiba sepadan pemiliknya
Hal sepele tampak besar di mata orang kecil
Hal besar di mata orang besar menjadi kecil

Dan penuntut ilmu harus siap dan mengetahui karena setiap kebaikan itu pasti banyak ujian dan
cobaannya dan rintangannya. Maka yang perlu dibutuhkan bagi penuntut ilmu adalah kesabaran
untuk menghadapinya dan barangsiapa yang bisa bersabar dalam menghadapi ujian dan kesulitan
maka ia akan sampai kepada tujuan, kesenangan dan mendapatkan kemudahan-kemudahanNya.
 
;