Jumat, 02 November 2018 0 komentar

Zuhud

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Sebagai upaya menambah materi pelajaran dari apa yang kudapat di Daruzzahro, aku mengambil les privat dari Ustadzah Maryam, Puteri Habib Ali Masyhur, mufti (orang yang berwenang memberi jawaban terhadap permasalahan umat) Tarim saat ini. Beliau adalah seorang ustadzah yang aktif bergerak dalam bidang dakwah dan juga mengajar di Darul faqih, sebuah madrasah khusus puteri yang ada di Tarim ini juga. Aku belajar memahami tentang hadits-hadits Rosulullah SAW dari beliau seminggu sekali.

Sore ini beliau mengupas hadits :
“Zuhudlah (hilangkan dari hatimu kecintaan) terhadap harta dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah (hilangkan dar hatimu keinginan) terhadap apa yang dimiliki orang lain niscaya engkau akan dicintai mereka.”

Ustadzah Maryam kemudian menjelaskan padaku arti zuhud dan gambarannya dalam praktek kehidupan manusia. Seperti keteladanan Nabi Muhammad SAW yang lebih memilih untuk mengganjal perutnya dengan batu karena menahan lapar dan rela tidur di atas tikar usang darpada selalu kenyang dan hidup dalam kenyamanan. Atau seperti Nabi Isa AS yang sampai hari beliau diangkat ke langit tak pernah memiliki rumah sebagai tempat tinggal. Begitu juga para hamba-hamba pilihan Allah yang lebih memilih untuk meninggalkan kesenangan dunia demi meraih kebahagiaan akhirat.

Aku jadi tertarik dan bertanya:
“Ustadzah, masih tersisakah di zaman sekarang ini orang yang bersifat zuhud, sementara godaan untuk mementingkan dunia sedemikian beratnya?”

“Tentu masih ada” jawab beliau.

“Di dunia ini masih akan selalu asa hamba-hamba pilihan Allah yang memahami untuk apa mereka di ciptakan, mereka menyadari hakikat dunia yang esok atau lusa akan mereka tinggalkan. Mereka berhasil meyakinkan diri bahwa taka da yang akan mereka bawa ketika masuk kubur nanti kecuali kain kafan, dan bahwa dunia yang tampak menyenangkan ini hanya akan menyisakan hisab (perhitungan dan pertanggung jawaban di hari kiamat) yang panjang. Mereka sungguh orang-orang yang pandai, tak mau senang sesaat namun kemudian membawa petaka yang maha berat. Tak menginginkan kebahagian sebentar tetapi membawa penyesalan berkepanjangan”
Sejenak beliau diam dan minum segelas air putih di hadapannya lalu beliau melanjutkan penjelasannya:
“Pertanyaanmu tadi mengingatkanku akan kejadian kemarin, ketika aku sedang berada di Madrasah Darul Faqih pada jam istirahat. Kala itu aku sedang berada di kantor dengan beberapa orang guru, tiba-tiba seorang anak remaja memanggilku dan memintaku mendekat, aku lalu mengajaknya menepi di sudut ruangan untuk berbicara dengannya.

“Ustadzah, aku harap ustadzah berkenan menjadi saksi untuk ibuku.”
Aku mendengarkannya, dengan lebih serius.

“Saksi atas apa, nak?”

“Ibuku sepanjang hidupnya tak memiliki apapun kecuali 2 buah baju. Satu ia kenakan sementara yang lain ia cuci. Ia juga hanya memiliki 2 buah kerudung, mukena, sepasang sandal, sebuah sisir, cermin, piring, Al-Qur’an, tasbih dan sajadah. Dia tak memegan satu sen pun uang, tak memiliki perhiasan, rumah, barang, atau perabot apapun. Di masa tuanya beliau tinggal dengan kakak tertuaku. Apabila salah satu dari anaknya memberinya uang, dia akan menerimanya dengan senang hati dan mendoakannya namun keesokan harinya uang tersebut sudah tidak lahi di tangannya.
Dan ketika beberapa hari yang lalu seseorang memberinya hadiah selembar kain, beliau berkata:
“Jika umurku sampai Ramadhan nanti, jahitkan kain ini untuk baju sholatku sebagai pengganti mukena yang lama. Namun jika tidak, tolong berikan kepada ‘si fulanah’ yang rumahnya disana, kulihat mukena yang di pakainya terlihat usang dan tak lagi layak di pakai.

Anak remaja di hadapanku menunduk, dia menyembunyikan air matanya yang perlahan menetes sebelum akhirnya kemudian berkata:
“Ustadzah” panggilnya lirih
“Ibuku meninngal tiga hari yang lalu… ku harap ustadzah berkenan menjadi saksi bahwa beliau telah berhasil menjalani kehidupan seperti yang diinginkannya. Karena setiap kali aku protes dengan caranya menolak harta dunia dia selalu berkata:

“Tahukah kau nak? Cita-citaku adalah termasuk dalam kelompok orang yang di ceritakan nabi Muhammad SAW bahwa saat proses hisab masih berlangsung, dan Shirotol mustaqim (jembatan yang tebentang di atas neraka jahannam yang harus dilewati setiap manusia untuk menuju syurga) masih dibentangkan, ada sekelompok orang yang telah menanti Nabi Muhammad SAW di pintu-pintu syurga, hingga malaikat bertanya ;

“Siapakah kalian yang telah berada disini padahal proses hisab masih berlangsung dan belum selesai?”

“Kami adalah sekelompok orang dari Umat Nabi Muhammad SAW yang keluar dari dunia seperti kami masuk ke dalamnya. Tak ada yang harus di hisab dari kami..” jawab mereka
Anakku… aku ingin keluar dari dunia ini tanpa membawa apapun kecuali sekedar yang aku perlukan untuk bertahan hidup sehingga tak harus ada proses hisab yang panjang menantiku di depan.”
Begitu selalu jawab ibuku dan dia berhasil menjalani hidupnya tepat seperti yang dia mau. Aku bercerita padamu agar kelak engkau berkenan menjadi saksi kebaikannya” kata remaja itu mengakahiri ceritanya..”

Aku takjub mendengar cerita Ustadzah Maryam dan kagum luar biasa pada wanita yang beliau ceritakan itu.

Betapa sederhana hidup sesungguhnya… Ya sangat sederhana, andai kita tidak menganggap penting sesuatu yang sebenarnya memang tidaklah penting. Harta dunia yang karenanya banyak orang berlomba hingga mau berbuat apapun untuk meraihnya, pada akhirnya akan ditinggalkan begitu saja.
Hidup ini sederhana saja sebenarnya.. Kita sendirinya yang suka membuat sesuatu menjadi lebih rumit. Cinta dunia sering kali mengelabui kita dari memahami makna hidup yang sesungguhnya.

Tarim 2000
0 komentar

Sang Pembawa Pesan

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Kota ini



Di kota ini tak ada embun pagi

Tak ada gemericik air sungai

Atau kicauan burung

Di Dahan Pepohonan



Di kota ini tak ada cemara

Tak ada laut atau muara

Tak ada pegunungan hijau

atau hutan belantara



Namun di kota ini 

Ada tasbih yang bergemerincing

Lebih damai

Dari arus sungai



Ada lisan menyenandung 

Sholawat di jalanan

Ada suara penyeru kebaikan 

di tiap sudut rerumahan



Tarim....

Apa yang ada padamu

Memberiku lebih 

dari yang kumau.

Tak pernah terbayangkan dalam benakku bahwa aku akan menjalani kehidupan seperti ini. Harus berjalan kaki paling tidak 2 km setiap hari. Melewati jalalanan terjal bebatuan bahkan naik turun gunung tanpa pepohonan rindang.

Baru 2 hari yang lalu ketika genap setahun aku menempati rumah yang dulu. Yang tak jauh dari Daruz Zahro tempat aku menuntut ilmu. Masa kontrakan habis dan untuk memperpanjangnya, pemilik rumah minta uang sewa dinaikkan dan kami yang hanya pelajar tanpa penghasilan tambahan kecuali mengharap kiriman dari orang tua nun jauh disana, tak dapat berbuat apa-apa kecuali menyerah pada keadaan. Rela meninggalkan rumah kontrakkan yang telah kami tempati selama ini.
Maka siang itu selepas sholat dhuhur, sepulang aku dari belajar, kakak ku menyuruhku segera mengemasi barang.

“Mau pindah kemana kita kak?” tanyaku penasaran
“Aku juga belum tahu, tapi yang aku tahu Allah tak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang dalam keadaan terjepit seperti kita” Jawabnya tanpa beban sambil menutup pintu dan keluar.
Kalau di piker-pikir ada betulnya juga, apalagi terhadap pelajar seperti kami. Bukankah ada jaminan khusus untuk para penuntut ilmu, dimana Allah akan memenuhi kebutuhan mereka dari arah yang tidak disangka-sangka?

Maka ketika kakakku tiba di rumah, beberapa jam setelah kepergiannya, dari raut wajahnya aku tahu Allah telah menepati persangkaannya.
“Kita dapat ruah indah di lereng gunung. Di bagian atas bangunan masjid yang baru selesai di bangun. Seseorang sewaktu aku sholat Ashar di masjid tadi menunjukkannya. Aku sudah melihatnya dan aku yakin kamu pasti menyukainya.” Katanya penuh semangat.

●●●

Dan rumah itu memang indah. Memang berada di lereng gunung batu. Dari halaman rumahku bahkan bisa terlihat nyaris seluruh kota Tarim lengkap dengan kebun-kebun kurmanya yang tampak indah di musim berbuah kali ini. Dan rumah itupun benar-benar di atas sebuah masjid , tapi bukan di atas bangunan masjid yang besar itu, tepatnya ia berada di atas tempat wudhu dan kamar mandi masjid yang aku hitung berjumlah dua belas.

Merupakan adat istiadat dan tradisi di negri ini setiap membangun masjid selalu membangun sarana yang mendatangkan penghasilan untuk masjid. Ada yang membangun ruko-ruko yang di kontrakkan, kebun kurma di halaman belakang atau rumah kontrakkandi samping atas masjid seperti rumah yang aku tempati ini.

Sebuah tradisi yang baik dan bijaksana kukira. Hingga tak kudapati masjid-masjid meletakkan kotak amal di pintu-pintu masuknya. Bahkan selalu kulihat Masjid di tiap pelosok di negeri in lebih mewah dari rumah-rumah warganya.

Rumah itupun tak hanya indah tapi murah. Karena terletak di daerah yang masih sepi. Sangat sepi bahkan nyaris tak kudapati rumah di sekitar rumah ini yang sedang di huni. Pantas saja pengurus masjid begitu senang ketika kami sampaikan keinginan kami tinggal di sini. Hitung-hitung sekalian memakmurkan masjid pikirnya. Karena di butuhkan orang untuk menyalakan dan mematikan lampu tiap pagi dan sore hari. Dan itu bisa kami lakukan, apalagi kakakku tidak keberatan untuk mengumandangkan adzan di tiap waktu sholat yang dia sedang berada di rumah. Pengurus masjid hanya meminta kami membayar 1500 reyal (mata uang Negara Yaman) sekitar 150 ribu rupiah perbulannya. Nilai uang yang sangat kecil di bandingkan biaya kontrakan rumah pada umumnya.
Maka lengkaplah rumah ini sebagai sebuah pertolongan dari Allah. Bangunannya indah, pemandangannya bagus, dekat masjid, murah lagi.

Satu-satunya masalah yang kemudian muncul hanyalah kenyataan bahwa rumah ini jauh dari tempat kami belajar. Jarak tempuhnya dari Daruzzahro lebih dari 500 meter. Yang jika aku berangkat sekolah pagi di pagi hari, kembali di siang hari untuk kemudian berangkat lagi di sore hari menghadiri rauhah (semacam pengajian umum yang di lakukan di sore hari) dan pulang pada malam harinya berarti aku berjalan kaki sekurang-kurangnya 2 km setiap hari. Selanjutnya silahkan hitung sendiri berapa kilo meter yang aku tempuh dalam tiap bulannya. Sungguh betul-betul sebuah perjlanan berat lagi melelahkan apalagi perjalanan itu berupa naik turun gunung batu nan terjal tanpa aspal. Terlebih jika dilakukan seperti saat ini, di musim panas yang suhunya mencapai 40 sampai 50 derajat celcius. Sungguh lengkap perjuangan hidup ini, membuat aku merasa seolah-olah menjadi seorang pendekar yang naik turun gunung untuk mengalahkan musuh besarnya.

Dan katakanlah:



"Berbuatlah engkau.........

Niscaya Allah, Rasul-Nya

dan orang-orang mukmin

akan melihat perbuatanmu



Dan engkau akan

dikembalikan kepada Allah

Dzat Yang Maha Mengetahui 

segala yang ghaib

dan yang nyata



lalu dia memperlihatkan

kembali semua yang telah engkau perbuat.



(At-Taubah 105)

Maka kala pagi ini aku menyandang tas besar berisi kitab-kitab yang akan ku pelajari, buku tulis, beberapa bolpen dan sebuah alat rekam menelusuri jalanan terjal bebatuan, aku jadi berfikir seolah sedang membawa persenjataan menumpas musuh besar. Ya, betul juga kurasa, bukankah musuh dalam hidup kita yang terbesar adalah setan? Aku pernah mendengar bahwa yang paling disukai setan pada diri manusia adalah kebodohan, dan yang paling di takutinya adalah ilmu pengetahuan yang bisa mendekatkan seorang hamba pada Tuhan. Berarti tatkala aku berangkat belajar bukankah aku sedang berperan melawan musuh besar? Jika memang begitu, bagiku sungguh terkalahkannya setan sebagai musuh pengganggu perjalanan hidupku adalah harga yang pantas dibayar untuk kelelahan yang sedang aku lakukan.

Kakiku masih tetap melangkah bersama tetesan-tetesan keringat yang mengalir deras dan kakiku mulai terasa lemas. Akupun lalu berfikir tentang segala hal yang menjadikan semua kelelahan ini tidak sia-sia. Ya, agar perjalanan ini menjadi lebih bermakna, agar tiap langkah yang kutempuh tak membawa penyesalan. Bersama tiap langkah kakiku, aku mulai menghitung-hitung niat yang terfikir di benakku.

“Aku tinggal jauh di rumah masjid itu dengan niat agar langkah-langkahku menempuh kebaikan menjadi lebih banyak, berarti lebih banyak pula nilai pahalaku, dan tinggal yang bersatu dengan masjid memudahkanku beri’tikaf setiap waktu terutama karena masjid itu belum ramai di kunjungi orang. Pemandangan indah di sekitar masjid, pegunungan dengan bebatuan aneka warna bisa memudahkanku bertafakkur dan mensyukuri keindahan alam ciptaan Tuhan.”

Saat aku berjalan keluar menuju sekolah, kuniatkan setiap langkahku sebagai bentuk khidmah (pelayanan terhadap agama) kepada Allah dan Rosul-Nya juga berharap berkah dari para wali (orang yang dicintai Allah karena ketakwaan kepada-Nya) di negri ini. Dan aku niatkan bersama tiap degup jantungku, seiring langkah-langkahku sebagai sarana men-syiarkan agama islam karena aku melangkah untuk menuntut ilmu yang akan aku sampaikan pada saudara-saudara seiman ketika aku pulang ke negeriku nanti. Dan aku niatkan pula tiap desah nafasku untuk menyenangkan hati Rosulullah Saw di alam Beliau sana karena dari sekian umatnya banyak lupa syariatnya, aku adalah satu dari sedikit mereka yang mau lelah mempelajari ajarannya untuk ku sebarluaskan kepada umatnya.

Aku masih menghitung-hitung niat yang bisa kuhadirkan dalam hatiku sampai langkahku kemudian terhenti ketika dikejutkan suara wanita yang sedang menyapu, memanggilku.

“Ya Bunayyah..(panggilan sayang untuk anak-anak)” panggilnya sambil sejenak berhenti menyapu dan pandangannya lurus menghadapku.
Aku menghampirinya.
Diletakkakannya sapu di tangannya di bawah pohon kurma kemudian tersenyum penuh sayang. Dia menepuk-nepuk pundakku seraya berkata perlahan. Sangat perlahan seolah dia tak ingin aku kehilangan satu katapun dari apa yang dia ucapkan. Dia berkata:
“Wahai anakku.. Allah akan memberi sesuai dengan apa yang kau niatkan”
Aku berdiri kebingungan nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Aku memintanya kembali mengulangi ucapannya dan dia berkata lagi:
“Allah akan mengkaruniakanmu sesuai dengan niat-niatmu” katanya kemudian.

Aku masih berdiri keheranan, ketika dia kembali mengambil sapu dan meneruskan pekerjaannya. Sejenak kemudian aku tersadar dan mengucapkan terimakasih padanya lalu melanjutkan perjalanan sambil tak habis mengerti bagaimana sesuatu yang aku pikirkan bisa dibaca oleh seorang wanita yang bahkan tak pernah kukenal ini.
Kebetulan?....
Kurasa itu terlalu jauh dari kemungkinan.

Melihat senyum dan caranya bertutur, aku begitu yakin bahwa ucapannya tak hanya sekedar kebetulan semata. Dia penyampai kabar gembira dari Tuhannya.

Menyadari hal itu aku kembali menoleh ke belakang dan mendapati wanita itu masih menyapu halaman rumahnya. Namun pandangankucpadanya berubah menjadi sebuah kekaguman. Kagum bahwa dia adalah hamba yang Allah pilih jadi penyampai kabar gembira pada hamba-hambaNya. Perantara antara Allah dan makhlukNya. Pemberi pelajaran-pelajaran kehidupan.

Hari ini ia telah memberi pelajaran berharga yang takkan pernah kulupa:
"Allah, Tuhanku akan selalu memberiku sesuai dengan niatku"

Hingga tatkala kudapati kesalahan dalam sesuatu, kutahu ada yang salah pula dalam niatku.

"Hati-hatilah dengan firasat seorang mukmin, ia bisa melihat dengan cahaya Allah.
(H.R Tirmidzi dan Thabrani)
0 komentar

Hubabah Tiflah (Ajarkan Aku Berdoa Sepertimu)

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Allah SWT berfirman:
Seruanmu memanggil nama-Ku
adalah jawaban-Ku.

Kerinduan pada-Ku
adalah pesan-Ku untukmu.

Segala upayamu
untuk menggapai-Ku
pada hakikatnya adalah
upaya-Ku menggapaimu.

Ketakutan dan cintamu
adalah simpul untuk
mendapati Aku.

Dalam keheningan yang mengelilingi setiap seruan:
'Allah'

menanti seribu jawaban
'Di sinilah Aku'

Lebaran pertamaku di perantauan. Tanpa ketupat, tanpa opor, tanpa sambal goreng kesukaan, tanpa kue-kue kering makanan khas lebaran. Tanpa orang tua, tanpa saudara tanpa teman-teman sepermainan. Tanpa siapapun yang sebelumnya kukenal kecuali kakak laki-lakiku yang memang bersamanya aku merantau ke negri orang.

                Dengan baju baru yang dibelikan kakak semalam, aku berjalan keluar rumah sendirian. Kakakku sudah lebih dulu keluar, ada acara uwadh semacam open house, silaturrahmi antar ulama dan masyarakat. “Khusus Laki-laki” jawabnya ketika kuutarakan niatku ikut bersamanya.

Maka aku pun berjalan sendirian. Takbir Idul Fitri sudah tidak lagi terdengar. Karena selepas sholat ied pagi tadi masjid-masjid sudah berhenti mengumandangkan takbir. Dari kejauhan tampak deretan pohon kurma yang tidak sedang berbuah. Sekarang musim dingin dan pohon-pohon kurma baru akan berbuah pada musim panas. Kabarnya angin panas padang pasir yang biasa disebut Samum (Nama angin yang mengeluarkan hawa panas) itulah yang membuat masak buah kurma. Pantas saja pohon kurma tak berbuah di negeri Indonesia. Angin disana tidak panas malah sejuk menerpa wajah.

Jalanan telihat lengang hanya sesekali saja kulihat mobil-mobil pribadi yang mungkin membawa penumpangnya bersilaturahmi saling berkunjung pada lebaran seperti ini.

Kuketuk pintu rumah ustadzah Zainab AlKhotib. Seorang Ustadzah dari Taiz, sebuah kota pertanian di daerah Yaman Selatan yang kini menetap di Tarim (nama sebuah kota di profinsi Hadramaut Republik Yaman) dan mengajar di Daruz Zahro (nama lembaga pendidikan agama semacam pesantren putri), Ma’had (semacam pesantren di Indonesia) dimana aku bersekolah disana. Suaminya Ustadz dan pengurus Darul Musthofa (nama lembaga pendidikan agama yang didirikan oleh Da’I ila Allah Al Habib Umar Bin Hafidz), yayasan yang membawahi Daruz Zahro. Kebetulan kemarin disaat bejumpa dengannya di masjid, sewaktu sama-sama sholat tarawih terakhir , beliau mengajakku mungkin karena kasihan terhadap anak-anak yang berlebaran sendirian berkunjung ke beberapa orang tua di negeri ini.

Senyum Muhammad putera ustadzah segera menyambutku kala ia membukakan pintu.

“Kamu Halimah dari Indonesia ya?” tanyanya dengan dialek arab yang fashih. Usianya kutaksir 7 tahunan. Aku mengangguk mengiyakan dan diapun segera berlari kedalam memberitahukan ibunya setelah sebelumnya mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruang tamu. Sebuah ruangan tanpa kursi khas arab hanya bantal-bantal tebal tersusun sebagai sandaran.

Tak lama Ustadzah Zainab menemuiku dengan sebaki nampan penuh makanan. Ada berbagai jenis halawa (kue manis biasanya terbuat dari wijen), kacang-kacangan, gela (sejenis kwaci) dan secangkir teh dengan ni’na (daun mint) minuman khas daerah ini.

Setelah berbasabasi sebentar menanyakan keadaan dan aku menjawabnya dengan bahasa arab ala kadarnya karena baru kurang lebih sebulan aku tinggal di negeri ini, Ustadzah Zainab menerangkan padaku siapa yang akan kami kunjungi hari ini. “Kita biasa memanggilnya Hubabah Tiflah” katanya.

“Seorang perempuan tua, ahli ibadah yang lisannya tak pernah berhenti berdzikir. Orang-orang biasa memanggilanya dengan nama itu (dalam bahasa arab artinya bayi) mungkin karena beliau sampai dimasa tuanya masih tetap seperti bayi, tak pernah menyakiti siapapun.”

Rumah itu sangat sederhana kalau tidak malah bisa dibilang miskin. Tak ada permadani tebal atau sandaran-sandaran empuk layaknya rumah-rumah yang lain pada umumnya. Hanya karpet tipis yang mulai lapuk menutupi tanah tak bersemen di bawahnya. Dindingnya hanya separuh yang di cat. Selebihnya berwarna coklat asli tanah yang dilaburkan begitu saja. Ada tumpukan bantal dan selimut usang di sudut ruang. Kurasa diruangan itu pula mereka biasa tidur di malam hari. Sungguh keadaan yang memprihatinkan. Sangat tidak sesuai dengan raut wajah mereka yang menyambut kami kala masuk rumah tadi. Senyum mereka begitu lepas tanpa beban, tawa ceria anak-anak kecilpun tetap terdengar, sambutan berupa pelukan dan di barengi ucapan ahlan wa sahlan (ungkapan selamat datang dalam bahasa arab) terdengar berulang-ulang seolah kami adalah kerabat dekat yang selalu dinanti bertandang. Sungguh… aku jadi betul menyadari memang benar bahwa kebahagiaan tak selalu diukur dengan materi.

Sekilas kudengar Ustadzah Zainab memperkenalkan aku kepada keluarga itu sebelum akhirnya menarik tanganku menemui seorang wanita tua yang duduk bersandar di sudut ruangan.

Wanita itu segera tersenyum demi menyadari keberadaan kami. Aku berpikir ini pasti Hubabah Tiflah yang diceritakan Ustadzah Zainab di rumahnya tadi. Usianya kutaksir di atas tujuh puluhan. Kulitnya sawo matang berkeriput.

Dan Ya Allah…
ternyata beliau buta…
pantas saja beliau tidak ikut berdiri bersama yang lain kala menyambut kami. Aku perhatikan raut wajahnya. Dia tidak cantik namun dari wajahnya terlihat seolah tak pernah ada beban atau masalah apapun dalam hidupnya. Beliau betul-betul seperti bayi. Aku diam di hadapannya, tak tahu harus berbuat apa. Hingga tatkala kulihat Ustadzah Zainab duduk dan mencium tangan wanita itu, akupun cuma mengikuti saja di belakangnya. Dan sambil kupegangi tangannya, aku memperkenalkan diri

“Halimah dari Indonesia” Kataku kataku dengan lahjah (dialek) yang ketara bukan orang arab tentunya.

Dia balas memegang erat tanganku lama sekali hingga kurasa hangat tangannya menjalari tanganku. Lalu dia meraba-raba wajahku dengan kedua tangannnya. Mungkin untuk mempermudah dia membayangkan rupaku.

Kemudian diletakkannya tangan kanannya di dadaku, dan lalu ia mendoakanku. Dia terus berdoa dan tak henti-hentinya berdoa untukku. Seolah saat itu tak ada yang lebih penting darinya kecuali aku. Perempuan asing yang bahkan baru ia kenal beberapa menit yang lalu. Ia masih saja berdoa dengan satu kalimat sederhana. Ya, ia berdoa dengan satu kalimat saja. Satu kalimat doa yang tak akan pernah kulupa. Apalagi tatkala kemudian diiringinya doa tersebut dengan linangan air mata. Sungguh membuat aku terpana, lemas tak mampu bahkan untuk mengangkat tanganku mengaminkan doanya…

“Semoga Allah takkan tega menyengsarakanmu anakku..” doa it uterus di ulangnya berkali-kali dengan cucuran air mata…

Ya Allah, sampai kapanpun, dimanapun, jangan pernah tega untuk menyengsarakan hidupnya”..
katanya lagi dan lagi dengan air mata yang membanjiri wajah tuanya. Membuatku tak kuasa membendung luapan airmata dan akupun ikut menangis terguguk di lantai itu juga.

“Ya Allah… kabulkan doanya.” Teriakku dalam hati. Jangan pernah tega menyengsarakan aku sekarang, nanti dan selamanya, di sini dan di sana. Di dunia ini ataupun hari setelahnya.

Tangisku tumpah ruah. Kukutuki diri dan dosa-dosa yang cukup membuat Allah murka dan berkemungkinan membuatku sengsara. Aku malu atas gunung-gunung dosa yang kutimbun tak habis-habisnya.

“Ya Allah, dan maafkan aku yang tak mengerti bagaimana berdoa pada-Mu. Maafkan aku yang jika untuk keselamatan diriku sendiri harus ada orang lain yang memohonkan dengan linangan air matanya. Sesuatu yang bahkan tak kuingat pernah kulakukan”

“Dan terimakasih Ya Allah… Kau perkenalkan aku pada wanita ini yang berdoa untukku ribuan kali lebih baik dariku.”

“Terima kasih untuk air mata kesungguhannya yang mungkin tak kudapat dari orang-orang yang mengaku mencintaiku sekalipun.”

“Terima kasih pula telah Kau bawa aku ke rumah ini. Rumah yang aku yakini di mata malaikat-Mu lebih indah dari rumah bermarmer mewah namun penghuninya tak pandai mensyukuri nikmat-Mu.”

“Terima kasih Ya Allah untuk sebuah pelajaran berharga”

"Doamu untuk sesama adalah hadiah terindah yang dapat kau berikan padanya

- Tarim Idul Fitri 1999

0 komentar

Tentang Bidadari Bumi

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Tentang bidadari bumi
Oleh Syarifah Halimah Alaydrus

Jika dalam hidup ini ada kebahagiaan yang harus saya bagi pada sesama, maka mungkin inilah saat yang tepat bagi saya untuk mencoba.

Perjumpaan dengan wanita-wanita mulia disela-sela masa belajar saya di Tarim, sebuah kota kecil di propinsi Hadhramaut, merupakan satu anugrah Allah yang tak terkira dari sekian banyak anugrah-Nya yang membahagiakan hati saya. Rasanya seperti mimpi indah yang menjadi nyata. Sebab ternyata wanita-wanita mulia itu ada, mereka hidup di masa saya dan saya berjumpa dengan mereka, menerima banyak mutiara-mutiara berharga dai pelajaran dan perjalanan hidup mereka…
Ya, mereka bukan wanita-wanita dari negeri dongeng, bukan bidadari yang ada di surga sana, mereka ada di sini. Di bumi ini…

Mereka adalah para bidadari bumi.

Memang sejak kecil hingga remaja, saya saya selalu kesulitan untuk mencari sosok wanita idola untuk saya teladani dalam mengarungi kehidupan ini. Benar, bahwa saya-seperti juga yang lain tentunya-sudah di kenalkan dengan semisal Sayyidah Khodijah istri Nabi atau Sayyyidah Fatimah puteri Nabi yang bukan hanya sekedar wanita mulia bahkan mereka adalah pemimpin para wanita surga. Tapi bukankah zaman mereka berbeda…? Sementara saya membutuhkan contoh yang lebih dekat dan nyata dengan kehidupan zaman sekarang ini. Saya membutuhkan Khodijah dan Fatimah abad 20 begitulah kira-kiranya…

Maka ketika pada akhirnya saya berjumpa satu demi satu dengan wanita-wanita yang saya ceritakan nanti, ada keinginan dalam hati saya untuk berbagi cerita tentang pengalaman saya ini agar tatkala ada anak yang kesulitan mencari idola seperti halnya saya di masa lalu, maupun remaja atau perempuan di usia berapapun yang saat ini sibuk mengekor kepada wanita yang kurang tepat karena tak punya pilihan idola yang seharusnya, maka cerita-cerita tentang mereka ini semoga bisa memberi inspirasi dan penyemangat bahwa di zaman sekarang ini saat maksiat dan dosa menjadi sesuatu yang lumrah dan merajalela di mana-mana ternyata masih banyak wanita-wanita bak mutiara berkilau yang begitu indah menjalani kehidupannya. Dan tentu saja jika mereka bisa melakukanya kitapun tentu bisa belajar menteladani mereka.

Saya tidak sedang mencoba menyajikan suatu hal yang muluk tentang wanita sempurna yang bisa kita jadikan teladan dalam semua aspek kehidupannya, karena bahkan diantara mereka ada yang tidak benar-benar saya ketahui seluruh hidupnya. Namun sekelumit dari kisah yang saya ceritakan ini paling tidak memberi gambaran tentang satu potret kehidupan nyata yang akan bisa kita praktekkan dalam satu sisi kehidupan kita.

Bagi saya, pribadi mereka adalah orang-orang yang mengerti tentang makna dan tujuan hidup yang Allah anugrahkan bagi mereka. Mereka berupaya menjadikan dunia ini sebagai ladang amal untuk menuai hasilnya di masa yang akan datang, di masa setelah kematian. Setidaknya, itu menurut saya, namun seperti apapun penilaian anda tentang mereka, mari kita sama-sama membaca dan kemudian berkaca agar hidup kita menjadi lebih bermakna dan tidak lagi menyia-nyiakan karunia hidup yang telah Allah anugrahkan kepada kita.


Mari menjadi hamba Allah yang mulia.
0 komentar

Bidadari Bumi: 9 Kisah Wanita Soleha

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Bidadari Bumi: 9 Kisah Wanita Soleha

Buku ini berkisah tentang wanita-wanita mulia yang patut dijadikan teladan dalam kehidupan. Terutama bagi wanita muslimah yang di abad ini mengalamai krisis keteladanan wanita-wanita salehah. Kisah-kisah kehidupan yang menyentuh hati, dramatik, mengalir, apa adanya disajikan secara indah dalam buku ini. 

Penulis menghadirkan kisah pengalaman suka dukanya selama belajar di kota Tarim – Hadramaut – Yaman, saat ia berjumpa satu persatu dengan tokoh-tokoh yang diceritakannya. Membacanya seolah berhadapan langsung dengan mereka, dan kita serasa ikut serta memetik pelajaran yang sangat berharga.

Daftar Isi:
  1. Hubabah Tiflah (Ajarkan Aku Berdoa Sepertimu)
  2. Sang Pembawa Pesan
  3. Zuhud
  4. Malam Panjang Di Mina
  5. Wanita Di Bis
  6. Erika
  7. Pesta Agung
  8. Doktor Hati
  9. Hari-hari bersama Hubabah Bahiyyah
Minggu, 28 Oktober 2018 0 komentar

16 Shafar 1440 (26 Oktober 2018)

بسم الله الرّحمن الرّحيم

  1. Barangsiapa mengharapkan pertolongan Allah SWT bacalah La Ilahailallah Al-Malikul Haqqul Mubbin sebanyak 100x setelah sholat dhuhur, niscaya Allah SWT akan memberikan pertolongannya. (14:00 WIB)
  2. Bentuk doa itu bukanlah sekedar dibaca saja tetapi lebih kepada benar-benar mengharapkan pertolongan dari Allah SWT. (14:01 WIB)
  3. Tempatkanlah amal itu pada tempatnya niscaya apa yang menjadi hajatmu akan kamu dapatkan, maka dari itulah menuntut ilmu agar manusia itu dapat menempatkan amalnya. (14:02 WIB)
  4. Tinggalkan sesuatu yang tidak manfaat kecuali kamu bermanfaat dan sedikitkan bicaramu lalu perbanyaklah berdzikir kepada Allah SWT niscaya Tuhanmu tidak akan meninggalkanmu. (14:04 WIB)
  5. Barangsiapa membaca Surat Al-Ikhlas 3x saat hendak keluar rumah dan masuk rumah, malaikat akan menjagamu selama pergi dan mengantarmu pulang, begitu masuk rumah mendapatkan ampunan dari Allah SWT. (14:05 WIB)
  6. Sesungguhnya rusaknya dunia ini disebabkan tangan-tangan manusia yang tidak amanah lagi terhadap Tuhannya. (14:09 WIB)
  7. Perhatikanlah sesuatu yang kecil menurut pandanganmu bisa jadi itu besar menurut pandangan Allah SWT, maka itulah bentuk ketelitian terhadap ilmu Allah SWT. (14:10 WIB)
  8. Manusia yang tidak pernah muhasabah dan mencari kelemahan dirinya niscaya dia akan terus sibuk dengan kelebihannya, dan apabila manusia tidak meletakkan sisi lemah dihadapan Allah SWT niscaya akan jauh dari pertolongan Allah SWT. (14:16 WIB)
  9. Apabila Allah sudah mencabut nikmat dari diri seorang niscaya manusia itu tidak akan merasakan puas dan nikmat dalam hal apapun sehingga dia terus mencari kenikmatan yang ada di dunia ini. (14:17 WIB)
  10. Apabila manusia itu sudah diberikan kenikmatan oleh Allah SWT niscaya apapun yang terjadi terhadap dirinya pasti dia akan merasakan nikmat. Dan nikmat itu diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang ridha. (14:18 WIB)
  11. Rugilah manusia yang menghadap gurunya untuk urusan dunia, karena apabila manusia menghadap untuk mencari ridhanya Allah SWT niscaya segala bentuk permasalahan dunianya akan selesai. (14:22 WIB)
  12. Apabila sudah yakin terhadap Allah SWT janganlah memasukkan selainNya maka itulah yang disebut Tauhid. (14:15 WIB)
  13. Tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT, karena Allah SWT itu menghendaki atas apa yang dikehendaki dan berkuasa atas segala sesuatu. (14:27 WIB)
  14. Apabila manusia menggantungkan dirinya pada hawa nafsu tentulah dia akan banyak angan-angan, sehingga amal ibadahnya mengharapkan selain Allah SWT. (14:39 WIB)
  15. Setiap manusia itu mengurus dunia sudah pasti akan terjatuh kepada kesalahan. (14:43 WIB)
  16. Apabila kamu tidak bisa bersama Allah SWT maka bertemanlah dengan orang yang dekat kepada Allah SWT. (14:50 WIB)
  17. Manusia apabila berilmu pastilah memiliki sifat Allah SWT. Dia tidak mementingkan kepentingan dan urusannya. (14:54 WIB)
  18. Bentuk orang yang bersama Allah SWT pastilah lebih mengutamakan manfaat untuk orang banyak. (14:57 WIB)
  19. Puncaknya manusia menuntut ilmu adalah Hikmah, sehingga apabila manusia bisa mengambil sebuah hikmah maka akan bertambahlah kebaikannya. (14:59 WIB)
  20. Bersihkanlah hatimu dari segala keinginan yang dibenci oleh Allah SWT. (15:03 WIB)
  21. Apabila ada Waliyullah yang memiliki kekayaan sesungguhnya bukanlah Wali tersebut ingin kaya tetapi Allah SWT yang menjadikan kaya. (15:04 WIB)
  22. Hancurkanlah badanmu sehingga hatimu memiliki kekuatan, maka hancurkanlah hatimu sehingga kamu bersama Allah SWT. (15:08 WIB)
  23. Sesungguhnya ibadah itu bukanlah untuk mencari karomah, melainkan ibadah itu untuk mendekat kepada Allah SWT. (15:17 WIB)
  24. Bukanlah banyaknya ilmu yang kau dapat, dan tingginya ilmu yang kau miliki tetapi seberapa manfaat ilmu yang kau miliki adalah keutamaan. (15:19 WIB)
  25. Bebaskanlah hatimu menghadapi manusia, dimuliakan atau tidak karena kemuliaan itu letaknya pada ketakwaan. (15:31 WIB)
  26. Seorang murid adalah orang yang menyadarkan diri dalam menempuh jalan Allah SWT untuk mendapatkan keterbukaan rahasia. (15:43 WIB)
  27. Barangsiapa memperbaiki ilmu dhahirnya maka akan membantu batinnya, dan barangsiapa yang memperbaiki tauhidnya akan membantu dhahirnya. (15:44 WIB)
  28. Hakikat tidak akan dibangun dengan syariat yang lemah, maka syariat yang kuat akan meninggikan ilmu hakikatnya. (15:46 WIB)
  29. Semua perbuatan orang yang arif adalah bentuk sifat Allah SWT. (15:56 WIB)
  30. Apabila manusia memperbaiki dhahir maka niscaya kamu akan berharap kepada Allah SWT. Apabila memperbaiki batin niscaya akan merasa takut kepada Allah SWT, maka perbaikilah dhahir dan batinmu. (16:08 WIB)
  31. Janganlah ragu terhadap janji Allah SWT meski belum terlaksana saat tiba waktunya, jagalah hatimu agar tidak memadamkan cahaya di hatimu, karena doa ini semua dikabulkan tetapi terbagi 3 macam, ada yang langsung diberikan, ada yang ditunda, ada yang disimpan kelak diberikan di akhirat. (16:14 WIB)
  32. Perbanyaklah berdoa kepada Allah SWT niscaya doa yang pantas akan diberikan di dunia, sedangkan yang tidak pantas Allah SWT simpan sebagai pahala kelak diberikan di akhirat. (16:15 WIB)
  33. Manusia yang tidak mengetahui bahwa doa yang tidak diberikan di dunia selalu berburuk sangka kepada Allah SWT, sehingga dia berputus asa, padahal kelak dia akan mendapatkannya di akhirat. (16:16 WIB)
  34. Amal ibadah laksana kerangka tubuh, sedangkan ruhnya adalah ikhlas. (16:18 WIB)
  35. Setelah manusia berdzikir baik tidur, berdiri, dan berjalan maka niscaya setelah dzikir itu penuh manusia akan dapat bertafakkur kepada Allah SWT. (16:30 WIB)
Minggu, 21 Oktober 2018 0 komentar

9 Safar 1440 H (19 Oktober 2018)

بسم الله الرّحمن الرّحيم

  1. Beristighfar itu tidaklah menunggu musibah, hendaknya mereka memohon ampun sebelum Allah SWT jatuhkan bencana kepadanya. (13:44 WIB)
  2. Sesungguhnya istighfar itu dapat menahan hukuman Allah SWT, maka barangsiapa yang banyak beristighfar kepada Allah SWT niscaya dia akan dijauhkan dari hukuman dan musibah. (13:46 WIB)
  3. Manusia yang sakit diberi kenikmatan makanan dia tidak akan merasakan kelezatannya, seperti halnya manusia yang beribadah apabila masih memiliki penyakit maka dia tidak akan merasakan kelezatan dalam ibadahnya. (13:47 WIB)
  4. Musibah yang datang kepada manusia bisa jadi sebuah hukuman dan peringatan bagi yang banyak dosa, dan sebuah ujian bagi yang dekat kepada Allah SWT. (13:47 WIB)
  5. Bentuk musibah itu adalah penghapusan dosa bagi seorang hamba, sedangkan bagi mereka yang taat dan beriman merupakan bentuk ujian untuk diberikan kemuliaan apabila bersabar. (13:48 WIB)
  6. Sesungguhnya orang yang beriman itu diberikan sesuatu yang halal itu takut, karena mengetahui akan hisab dan perhitungannya. (13:49 WIB)
  7. Apabila seorang manusia itu sudah dihinakan oleh Allah SWT niscaya semua manusia akan menghinakannya, maka kemuliaan itu terletak kepada ketakwaan kepada Allah SWT. (13:50 WIB)
  8. Ujian kekurangan dan kesempitan dalam ekonomi itu adalah bentuk ujian yang paling ringan dari Allah SWT, karena ujian yang paling besar adalah saat dibukakan kemudahan, kelonggaran dan kelebihan dalam harta. (13:51 WIB)
  9. Manusia yang diberikan kelonggaran dalam rezekinya lalu disempitkan kembali disebabkan dia lupa kepada Allah SWT. (13:52 WIB)
  10. Dua orang mukmin dan kafir berangkat mencari rezeki mengail ikan, setiap jala diangkut orang kafir dan menyebut nama berhalanya lalu dapat ikan banyak, sedang orang mukmin menyebut Asma Allah SWT pada saat jala diangkat hampa, sampai menjelang waktu maghrib baru terasa akan memperoleh ikan tetapi setelah diangkat ternyata kosong dan ia pulang dengan tangan kosong. Lalu orang kafir pulang dengan penuh ikan. Malaikat penjaga orang mukmin menyesal dan ketika naik langit diperlihatkan kepadanya tempat orang mukmin di surga berkata,  "Demi Allah SWT tidak seberapa penderitaannya di Dunia jika persediaan tempatnya semacam ini" dan ketika diperlihatkan kepadanya tempat orang kafir di neraka, ia berkata "Demi Allah SWT harta di Dunia yang diperolehnya tiada artinya jika kelak dikembalikan ditempat semacam ini." (14:02 WIB)
  11. Allah SWT menciptakan Nabi dan Rasul itu sebagai ibrah kepada umat manusia agar dapat mengambil pelajaran didalamnya. (14:04 WIB)
  12. Ilmu itu meletakkan amal sesuai dengan tempatnya, bukanlah ilmu itu bentuk kesaktian, dan orang bodoh itu adalah orang yang paling dibenci. (14:07 WIB)
  13. Ilmu itu berpegang kepada syariat Nabi Muhammad SAW, apabila tidak memiliki syariat maka tidak bisa disebut orang yang memiliki ilmu. (14:12 WIB)
  14. Bentuk pengurangan kenikmatan atau rezeki oleh Allah SWT kepada hambanya, disebabkan Allah SWT hendak menggantikan sesuatu yang lebih baik kepada dirinya. (14:19 WIB)
  15. Manusia yang berharap mendapatkan sesuatu kemuliaan dari Allah SWT lepaskanlah sesuatu yang dapat menjadi penghalang dirimu dengan Allah SWT. (14:20 WIB)
  16. Doa yang diterima itu tidak perkara dia dalam kondisi kaya atau miskin, tetapi doa itu dapat diterima apabila dia selalu memakan makan yang halal. (14:40 WIB)
  17. Sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu akan kembali kepada dirimu, apabila kamu terhina sesungguhya bukanlah Allah SWT yang menghinakanmu melainkan kamu sendiri yang menghinakan dirimu. (14:47 WIB)
  18. Apabila doamu tidak terkabul dan jauh dari orang alim ulama, maka periksalah makananmu. Apabila makananmu tidak halal,  maka akan menjadi hijab bagi dirimu sendiri. Sekalipun mendapatkan ilmu tetapi tidak menjadi manfaat. (14:49 WIB)
  19. Apabila kita senang dalam bersedekah maka Allah SWT juga senang untuk memberi balasannya kepadamu, tetapi bila kamu berat dalam bersedekah maka Allah SWT juga akan berat dalam membalasnya. (14:59 WIB)
  20. Orang yang memiliki harta lebih apabila bersedekah itu adalah hal yang wajar, tetapi lebih dicintai oleh Allah SWT orang yang dalam kondisi kekurangan tetapi dia tetap bersedekah. (14:59 WIB)
  21. Siapa yang mencari kenikmatan dunia ini niscaya tidak akan dapat merasakan kenikmatan di akhirat. (15:00 WIB)
  22. Ibnu Qayyim dalam perkataannya: "Ilmu itu terbagi menjadi 3, tidak ada keempatnya, yang haq mempunyai kejelasan, ilmu tentang sifat-sifat Allah SWT dan perbuatannya, juga Asma yang Maha Pengasih, perintah dan larangan sebagai agamanya, dan balasannya pada kehidupan yang kedua." (15:09 WIB)
  23. Janganlah kamu mengingat manusia baik yang kau cintai sekalipun dan jangan masuk sampai kedalam hatimu.  Sampai kamu pikirkan siang dan malam dan berkhianat kepada Allah SWT. (15:12 WIB)
  24. Jadilah manusia yang menerangi umat, jangan berharap akan pemberian dan perhatian dari manusia, tetapi tinggikanlah Allah SWT. (15:15 WIB)
  25. Yang disebut ikhtiar itu mencari petunjuk dari Allah SWT, maka orang yang bekerja tanpa petunjuk Allah SWT pasti menggunkaan hawa nafsu dan akan menjadi sulit urusannya. (15:19 WIB)
  26. Seburuk-buruk ulama adalah ulama yang diakhir zaman, dan seburuk-buruk manusia adalah manusia di akhir zaman, maka kurangilah urusanmu dan sedikitkanlah dalam bergaul agar kamu selamat. (15:22 WIB)
  27. Orang yang mati itu adalah bukti bahwa diri kita akan menyusul, sehingga manusia itu menyiapkan bekal untuk mati, karena itu adalah perjalanan yang jauh dan tidak akan kembali lagi. (15:38 WIB)
  28. Barangsiapa ketika mandi dia berpikir bahwa suatu saat dia akan dimandikan dan menjadi mayat dan mengingat Tuhannya niscaya itu lebih utama daripada beribadah ribuan tahun lamanya. (15:40 WIB)
  29. Rasulullah SAW bersabda: "Jika benar kau cinta kepadaku, bersiaplah menerima ujian dengan baju yang tebal, karena hal itu sangatlah cepat menimpa orang yang mencintaiku melebihi banjir atau air bah yang turun dari gunung kedalam jurang." (15:49 WIB)
  30. Cinta kepada Rasulullah SAW adalah dengan cara mengikuti langkah Beliau. (15:51 WIB)
  31. Barangsiapa membaca LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU YUHYI WA YUMITU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR sebanyak 10x maka dia mendapatkan pahala seperti halnya membebaskan budak-budak di zaman Nabi Ibrahim as. (16:08 WIB)
  32. Orang yang bangga dengan hartanya dan menginginkannya maka dia telah menyekutukan Allah SWT, karena dia telah sibuk dengan pemberianNya bukan sibuk dengan Yang Maha Memberi. (16:12 WIB)

 
;