Senin, 25 April 2022 0 komentar

Risalah al-Mustarsyidin, Tuntunan Bagi Para Pencari Petunjuk

بسم الله الرّحمن الرّحيم


Pendahuluan

Risalah Al-Mustarsyidin

  • Jiwa yang Jernih Tidak Perlu Mengandalkan Guru dan Baiat
  • Pertanyaan Asy-Syathibi kepada Ibnu Abbad An-Nafzi tentang Guru Pendidik dan Guru Pengajar
  • Sering Melakukan Hal Mubah Akan Mengundang Perbuatan Makruh dan Haram
  • Contoh Wara'Orang Zaman Dahulu
  • Adanya Uang Halal di Tengah Merebaknya Uang Haram
  • Merebaknya Uang Haram Tidak Bisa Menghalangi Kita dari Jual Beli dan Makan Minum
  • Keutamaan Niat Baik dan Kehinaan Niat Buruk
  • Para Salaf Berniat Sebelum Berbuat
  • Pembagian Macam Lintasan Pikiran
  • Pendapat Ibnul Qayyim Tentang Lintasan PikiranKarakter
  • Mukmin Menurut Al-Hasan Al-Bashri
  • Para Syaikh Mengevaluasi Diri Sebelum Tidur
  • Allah Dekat dengan Orang yang Berdoa Secara Diam-diam
  • Semakin Besar Kesulitan, Semakin Dekat Jalan Keluarnya
  • Kisah Keluarnya Seorang Budak Wanita Kulit Hitam dari Kesulitan
  • Raja yang Membutuhkan Allah
  • Jawaban Ulama: “Saya Tidak Tahu,” adalah Kemuliaan baginya
  • Pernyataan “Saya Tidak Tahu” adalah Setengah dari Ilmu
  • Jika Anda Menjawab, “Saya Tidak Tahu,” maka Orang Lain pun akan Mengajari Anda sampai Anda Tahu
  • Al-QâdhiIyas dan Orang yang Menggunjing Saudara Seagamanya
  • Cara Ibnu Wahab Membuang Sifat Ghibah dengan Bersedekah
  • Ujian Bisa Berbentuk Kesenangan dan Kesusahan
  • Delapan Kondisi yang Dialami Seluruh Manusia
  • Sokongan bagi Manusia yang Diciptakan untuk Masuk Surga dan yang Masuk Neraka
  • Nikmat dan Sengsara adalah Tamu
  • Kesulitan adalah Kenikmatan yang Berdampak Positif
  • Musibah adalah Ujian untuk Mengujinya dan Memberinya Manfaat
  • Ridanya Akal Menerima Takdir adalah Ibadah Paling Sempurna
  • Barangsiapa Meninggalkan Hal yang Haram karena Allah Niscaya Dia Memberikan yang Halal Kepadanya
  • Kisah Menakjubkan tentang Meninggalkan yang Haram dan Mendapatkan yang Halal
  • Penghambaan Manusia Sesuai dengan Kedudukan Masing-masing
  • Diamnya Ahli Ibadah atau Orang Zahid terhadap Kemungkaran Mempercepat Datangnya Hukuman
  • Pengertian “Itulah Selemah-lemahnya Iman”
  • Kemiskinan yang Tercela dan Kemiskinan yang Terpuji
  • Lima Orang yang Mencapai Puncak Ibadah
  • Cara Merasakan Nikmatnya Iman pada Takdir
  • Barangsiapa Tidak Meyakini Takdir, Hidupnya Tidak Akan Bahagia
  • Jangan Jadikan Takdir Sebagai Alasan untuk Bermaksiat
  • Takdir Tidak Bisa Menjadi Alasan Pembenaran Maksiat
  • Lima Peristiwa Sebagai Bukti bahwa Takdir Tidak Terkalahkan
  • Orang yang Mengetahui Peristiwa JamâjimTidak Akan Bisa Tertawa Lagi
  • Kelebihan Seseorang Bisa Menyelamatkannya dari Kezaliman
  • Bunan Al-Hammal Hanya Diendus oleh Singa
  • Beberapa Hikmah yang Dipetik oleh Ar-Rafi’i dari Kisah Bunan Al-HammalAl-Manshûr
  • Abu Amir Batal Menghukum Mati Seseorang karena Keliru Menulis Perintah Tiga Kali Berturut-turut
  • Al-Hajjaj Membebaskan Amir ibn Hiththan setelah Menyuruh Algojo Memenggalnya
  • Prajurit yang Hendak Diselamatkan oleh Panglimanya tapi Malah Tewas
  • Seisi Dunia Gelap Gulita, Kecuali Majelis Para Ulama
  • Dampak Bergaul dengan Tokoh-tokoh Saleh
  • Proses Melekatnya Kebaikan pada Hati Berkat Bergaul dengan Orang Saleh
  • Duduk bersama Para Ulama dan Orang-orang Saleh untuk Mengambil Petunjuk dan Meniru Watak dan Kepribadian Mereka
  • Menghadiri Majelis Imam Ahmad untuk Belajar Akhlak dan Watak yang Baik
  • Mengikuti Majelis Abdullah ibn Mas'ud Satu Kali Lebih Berpengaruh daripada Beramal Satu Tahun
  • Satu kali Mengikuti Majlis Ubaidillah Lebih Disukai oleh Umar ibn Abdil Aziz daripada Dunia Seisinya
  • Pernyataan Amr ibn Ubaid: "Antara Aku dan Kebenaran Tidak Ada Per musuhan"
  • Pernyataan Ubaidillah Al-Anbari, "Aku Kembali kepada Kebenaran dan Aku Rela Dihina untuk Itu."
  • Manfaat-manfaat Zikir Memotivasi Orang untuk Berzikir
  • Zikir kepada Allah Mencakup Banyak Hal
  • Kekuatan dan Keberkahan Zikir Menurut Ibnu Taimiyah
  • Pernyataan Ibnu Taimiyah: “Zikir bagi Hati Bagaikan Air bagi Ikan”
  • Ibnu Taimiyah Menjadikan Zikir kepada Allah Sebagai Makanan
  • Beragam Zikir Rasulullah s.a.w.
  • Zikir yang Disyariatkan dan Zikir yang Dilarang
  • Imam Ahmad Menyalahkan Orang yang Melagukan Bacaan Al-Qur`an
  • Pernyataan Imam Asy-Syathibitentang Zikir yang Dilarang
  • Ibnu Hajar Menolak Zikir yang Dilarang
  • Penolakan Imam Malik terhadap Zikir yang Dilarang
  • Penolakan al-Qurthubi terhadap Zikir yang Dilarang
  • Penjelasan Imam Asy-Syathibi Mengenai Kemungkaran Zikir yang Dilarang
  • Waspada terhadap Zikir Menyebut Nama Allah dengan Cara yang Tidak Disyariatkan
  • Syair tentang Ciri Tasawuf yang Benar
  • Nasihat Umar r.a.
  • Tips Memberi Nasihat dari Al-Hasan An-Naji’
  • Nasihat Ibnul Jauzi kepada Khalifah al-Mustadhî` Billâh
  • Kriteria Orang yang Pantas Menyuruh atau Melarang Penguasa
  • Nasihat Al-Hasan Al-Bashri agar Bergaul dengan Orang-orang yang Suka Mengingatkan
  • Keutamaan dan Dampak Kejujuran
  • Sulitnya Menghindari Hal-hal yang Tidak Berguna
  • Imam Syafi'i Memuji Tindakan Meninggalkan Hal yang Tidak Berguna
  • Proses Menguatnya Kejujuran dan Kebohongan dalam Hati
  • Bohong yang Tercela dan Bohong yang Diperbolehkan
  • Pingsan akibat Membayangkan Siksa Akhirat
  •  Pingsannya Ar-Rabi'ibn Khutsaim
  • Ibnu Mubarak Tersentuh ketika Mendengar Berita tentang Akhirat
  • Ibnu Wahab Terkena Serangan Jantung Mendengar Berita tentang Akhirat
  • Kalian adalah Bahan Cerita Maka Perbaguslah Cerita tentang Kalian
  • Doa Orang yang Dizalimi Terkabul Meskipun Dia Kafir
  • Yahya Al-Barmaki Dipenjara akibat Doa Orang yang Dizalimi
  • Panah Doa Orang yang Dizalimi Sangat Mematikan
  • Dua Bait Syair yang Memuji Keadilan dan Mengecam Kezaliman
  • Hartaku Kusimpan di Sisi Tuhanku, dan Tuhanku Kusimpan untuk Anakku
  • Definisi Perdebatan
  • Perbedaan antara Mendebat dan Memahamkan
  • Perdebatan yang Dicela dalam Islam
  • 10 Etika Berdebat
  • Lalainya Manusia akibat Godaan Dunia
  • Dampak dan Keburukan Nafsu
  • Keterikatan Kaum Sufi dengan Al-Qur`an dan Sunnah
  • Kecaman Sebagian Kaum Sufi terhadap Ilmu Lahir Bisa Membatalkan Keislaman Mereka
  • Kapankah Kebatilan Mengalahkan Kebenaran?
  • Siapakah Orang yang Disuruh untuk Meminta Fatwa kepada Hatinya?
  • Barangsiapa Beribadah tanpa Dasar Ilmu, Kerusakan yang Dia timbulkan Lebih Besar daripada Perbaikan yang Dia Lakukan
  • Kisah Pemilik Bagal yang Selamat Dari Upaya Pembunuhan
  • Bersikap Wara'itu Susah Sekaligus Mudah
  • Ulama Salaf Banyak Melantunkan Syukur dan Pujian
  • Mereka Menanyakan Keadaan Seseorang Hanya Agar Orang itu Memuji Allah
  • Ibnu Umar Pergi ke Pasar Agar Ditanyai Kabarnya sehingga Dia Memuji Allah
  • Dampak Negatif Menyimpan Rasa Permusuhan dalam Hati
  • Kisah Salm ibn Qutaibah Yang Gagal Mengajukan Perkara ke Pengadilan
  • Hasil Baik Akan Diperoleh oleh Orang yang Gagal Bermusuhan atau Dendam
  • Biarlah Tuhan Membalas Dendam
  • Ketekunan Imam Ahmad di Depan Mata Pengadilan dan Penyiksaan
  • Dorongan untuk Imam Ahmad Tetap Keras Kepala Saat Disiksa Berasal dari Pencopet Pendamping Bernama Abu Haitsam
  • Buah Kesalehan
  • Imam Bukhari Menjaga Masjid dari Kotoran
  • Tekad Abu Daud untuk Mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW
  • Ibnu Taimiyyah's Sabar dan Terbuka Keajaiban Penjara
  • Panggilan Abu Wafa ibn Uqail untuk Mengorbankan Jiwato Allah
  • Syuqran al-Qairawani's Nasihat untuk Dzun Nun Al-Mishri
  • Kebajikan dan Manfaat Dekat dengan Adil, Ulama, dan Taat
  • Puisi tentang Bergaul dengan Adil dan Adil
  • Intisari Sufisme Meninggalkan Hal-hal yang Tidak Berguna
  • Untuk mengetahui legalitas harta benda, ketahui hukum agama sebelum bekerja
  • Contoh Wara 'dari Abu Hanifah
  • Contoh Wara' dari Ibn Abdurrahim Al -Maqdisi
  • Bait Syair Nan Indah tentang Mencari Petunjuk Agama Sebelum Menggunakan Akal
  • Akal Senantiasa Membutuhkan Agama
  • Umur Terlalu Singkat dan Hidup pun Segera Lenyap
  • Atha` ibn Abi Rabah Sangat Berhati-hati untuk Tidak Berlebihan dalam Bicara
  • Memenuhi Kebutuhan Jasmani Secukupnya
  • Berbagai Bentuk Sikap Berlebihan
  • Tobatnya Fudhail ibn Iyadh Si Mantan Perampok dan Penyamun
  • Beruntunglah orang yang Mati ketika Dosanya Juga Mati Seperti Dirinya
  • Melarikan Diri dari Allah Menuju Allah
  • Orang yang Diam Saja Tanpa Menyatakan Kebenaran Bagaikan Setan Bisu
  • Setan Mempercantik Wanita Nonmahram untuk Merayu Pria
  • Perzinahan Hindun binti Khuss dengan Budaknya karena selalu dekat
  • Pengharaman Mendengarkan Alat Musik dan Segala Hal yang Mencelakakan.
  • Thawus Ibn Kaisan Al-Yamani, Keberkahan bagi penduduk Yaman
  • Waspadai kisah palsu tentang thawus dan Al-Manshur
  • Keteladanan Kaum Salaf dalam Menjaga Jarak dari Ahli Bid'ah
  • Enam Sosok Teladan dalam Mengevaluasi Diri
  • Apakah Jamaah yang Kita Harus Berada di Dalamnya?
  • Definisi Syubhat, Pengaruhnya Terhadap Hati, dan Larangan Memperturutkan Hati untuk Melakukannya
  • Meskipun Para Sahabat Bercanda Sambil Melemparkan Biji Semangka, Namun Mereka Tetap Tokoh Mumpuni
  • Tamu Datang Membawa Rezki
  • Mengapa Redaksi Perintah Shalat: "Dirikanlah Shalat"?
  • Bertetangga dengan Baik adalah Sifat Orang Islam
  • Landasan Setiap Amal
  • Buhlul Al-Qairawani Cemas Kalau-kalau Berbuat Bid'ah
  • Perbedaan antara Mudah Bergaul (Mudarah) dan Mencari Muka (Mudahanah)
  • Kerendahan Hati Murid Terhadap Guru di Kalangan Salaf
  • Etika Abu Hanifah Terhadap Gurunya dan Etika Abu Yusuf Terhadap Abu Hanifah
  • Etika Imam Ahmad Terhadap Gurunya, Imam Syafi'i
  • Agungnya Hak Seorang Guru
  • Cara Membalas Pemberian
  • Etika Dalam Mengalamatkan Sesuatu Kepada Allah
  • Para Ulama Selalu Menjaga Waktu
  • Cara Al-Khatib Al-Baghdadi Menggunakan Waktu
  • Abu Wafa' Ibn Uqail Al-Hanbali, Penjaga Waktu yang Luar Biasa
  • Ilmu Bagaikan Air Bah yang Berhimpun dari Satu Titik ke Titik Lain
  • Ibnul Jauzi, Imam dalam Hal Menjaga Waktu
  • Sabda Rasulullah SAW kepada Hazhalah
  • Memenuhi Hak Para Malaikat Pengawas
  • Dua Bait Syair tentang Pengawasan Malaikat
  • Sikap Ubaid Ibn Umar Mengubah Wanita Penggoda nan Jelita Menjadi Wanita Ahli Ibadah
  • Wanita Cabul Asal Samarkand Meminta Doa kepada Buhlul Al-Qairawani agar Selalu Bertobat
  • Dua Contoh dari Salaf dalam Menyembunyikan Amal
  • Perbedaan antara 'Azm dan Hazm
  • Kealiman Buhlul Al-Qairawani
  • Uzlah yang Terpuji
  • Uzlahnya Ibnul Jauzi
  • Dampak Mengonsumsi Makanan Halal
  • Pesan Istri Salaf Kepada Suaminya
  • Maksiat Berbau Busuk, Ketaatan Beraroma Harum
  • Abu Hanifah Beristighfar atau Mendirikan Shalat Agar Diberikan Jalan Keluar dari Kesulitan
  • Kebaikan Membawa Cahaya Sedangkan Keburukan Membawa Gulita
  • Penjelasan Ibnul Qayyim Tentang Balasan Meninggalkan atau Melakukan Dosa
  • Dosa Berdampak Malapetaka dan Bencana
  • Dosa Berakibat Hujan Tak Kunjung Turun
  • Nasihat Ibnul Jauzi agar Waspada Terhadap Dosa
  • Orang Yang Terus-menerus Berbuat Dosa Tak Berbeda dengan Binatang
  • Siapakah Orang yang Hidupnya Lebih Nyaman daripada Raja?
  • Kisah Penguasa yang Didengki sehingga Nyawanya Selalu Terancam
  • Takwa adalah Watak yang Paling Mulia
  • Sikap Lapang Dada Menyebabkan Orang Masuk Surga
  • Hina di Dunia Lebih Baik daripada Hina di Akhirat
  • Salah satu Hal yang Melindungimu adalah ketidakpunyaanmu
  • Menuntut Ilmu lebih Afdal daripada Ibadah Sunah
  • Imam Ahmad Tidak Mendirikan Shalat Sunah karena Hendak Belajar bersama Abu Zur'ah
  • Imam Ibnu Wahab Tidak Beribadah Sunah karena Hendak Mengajar
  • Doa Muhammad Ibn Wasi' Al-Bashri ketika Seseorang Mengungkapkan Cinta Kepadanya
  • Kedermawanan Buhlul Si Fakih kepada Sipir Penjaranya
  • Alasan Penaklukan Amoria
  • Dua Contoh Pengagungan terhadap Allah
  • Shalat itu Ditunggu Bukan Menunggu
  • Tangisan Yazid Ibn Martsad karena Takut terhadap Allah

Lampiran I: Biografi Penulis

  • Silsilah Keturunan, Tanggal Lahir dan Wafatnya
  • Hadis yang Dia Riwayatkan dan Orang yang Meriwayatkan darinya
  • Ibadah, Keilmuan, Ketokohan dan Karyanya
  • Penghargaan Ulama Besar terhadap Al-Muhasibi
  • Metode Penulisan Al-Muhasibi tentang Jiwa
  • Kritikan Beberapa Ahli Hadis terhadap Karya Al-Muhasibi
  • Dua Macam Bid'ah Menurut Imam Syafi'
  • Alasan Lain Abu Zur'ah dan Imam Ahmad Melarang Mengikuti Jejak Al MuhaSibi
  • Sanjungan Imam Ibnu Taimiyah dan Selainnya kepada Al-Muhasibi
  • Alasan Lain Imam Ahmad Menolak Al-MuhaSibi
  • Imam Ahmad Mengkritik Al-Muhasibikarena Memasuki Ranah Ilmu Kalam
  • Nasihat Tajuddin ibn as-Subki untuk Selalu Beretika terhadap Ulama Pendahulu
  • Kebenaran TaSaWuf Al-MuhaSibi-398
  • Penghargaan Beberapa Ulama Terhadap Al-Muhasibi dan Buku-buku Karangannya
  • Keindahan dan Kelugasan Bahasa Al-Muhasibi
  • Kepribadian Al-Muhasibi
  • Pemikiran Al-MuhaSibi
  • Karangan Al-Muhasibi

Lampiran II: Resensi Buku Cetakan Pertama

  • Tasawuf Murni yang Benar
  • Tasawuf yang Dibuat-buat dan Menyimpang
  • Tasawuf Palsu

Lampiran III: Pengakuan Imam Asy-Syathibi Bahwa Kaum Sufi Sejati Benar-Benar Mengikuti Sunah, Bukan Pembuat Bid'ah; dan Bahwa Membahas Tasawuf Bukanlah Bid'ah

Lampiran IV: Komentar Pelengkap

  • Dasar Hukum Zikir dengan Suara Nyaring, Baik Sendirian Maupun Berjamaah

Lampiran V: Fatwa Tentang Bolehnya Shalat Sunah Secara Berjamaah Menurut Mazhab Syafi'i dan Hanbali

Setiap hari ada saja orang mengumumkan, “Si A meninggal dunia, si B meninggal dunia.” Suatu saat pastilah ada orang mengumumkan, “Umar meninggal dunia.” — Umar ibn Khaththab r.a.
Kita mati dan hidup setiap malam serta pagi pasti suatu hari 'kan mati tanpa hidup lagi Kita di dunia bak tumpangi kapal layar persegi rasa diam di tempat, padahal zaman antar pergi

 

Senin, 18 April 2022 0 komentar

18 April 2022

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Syeikh Abdul Aziz Ad-Darani (Kitab Thaharatul Qulub)
Ada 4 macam orang mukallaf yaitu sebagai berikut
  1. Orang-orang yang diciptakan Allah SWT untuk melayaniNya dan masuk surga
  2. Orang-orang yang diciptakan Allah SWT untuk masuk surgaNya.
  3. Orang-orang yang diciptakan Allah SWT tidak untuk melayaniNya dan tidak untuk masuk surgaNya.
  4. Orang-orang yang diciptakan Allah SWT untuk melayaninya tetapi tidak untuk surgaNya.
Perbedaan manusia dalam masuk surga, kebanyakan orang awam akan masuk surga karena ingin kenikmatannya dan takut akan siksanya, sedangkan mahluk yang masuk surga tapi tidak bisa menikmatinya itu seperti halnya malaikat. Mereka hanyalah pelayan-pelayan di surga pemberi kenikmatan. Sedangkan orang khusus mereka masuk surga disebabkan karena ingin berkumpul dengan Baginda Nabi Muhammad SAW.

Abu Sulaimana berkata: Aku mendapatkan riwayat bahwasanya bernafasnya orang fakir tanpa syahwat setara dengan 2000 tahun ibadahnya orang kaya.

Syahwat adalah sebuah hawa nafsu, bagaimana manusia mengatur nafas tanpa hawa nafsu padahal dalam beribadah pun manusia tidak lepas dari perihal hawa nafsu. Dengan syahwat itulah yang akan merusak amal ibadah seseorang. Maka orang fakir yang dijalan Allah ini adalah manusia yang benar-benar menuju kepada Allah dan tidak lagi memandang harta dunia, bukan fakir yang dijalan-jalan yang pengangguran.

Keyakinan itu berbeda dengan spekulasi, orang menentukan sesuatu atas keyakinan karena dia mengetahui betul apa yang menjadi pilihannya, baik beramal dan beribadah. Namun orang yang spekulasi dia tidak mengetahui apa yang menjadi pilihannya namun dia berharap jika itu menjadi baik, dan bersiap jika tidak baik. Maka inilah iman penjudi.


Jumat, 15 April 2022 0 komentar

15 April 2022

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Qs. Fatir:1
Rasulullah SAW pada ayat ini ditunjukkan oleh Allah SWT bagaimana bentuk malaikat, sifatnya, dan pujiannya karena melihatnya. Maka orang yang melihat keindahan itu pasti memujinya, mana mungkin orang dapat memuji apabila tidak melihat atau menyaksikan apa yang disaksikannya.

Dan dijadikan malaikat itu untuk mengurus berbagai macam urusan, bahkan sampai hal terkecil dan detail pun Allah perintahkan Malaikat untuk mengurusinya.

Qs. Fatir:2
Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seseorang tidak ada seorangpun yang mampu menghinanya, begitupun sebaliknya apabila tidak Allah kehendaki kebaikan kepada seseorang maka apapun yang dikerjakannya pasti tidak akan baik.

Maka perihal tersebut adalah bentuk rahmat, maka orang yang tidak mendapatkan rahmat itu memang tidak pantas mendapatkannya.

Qs. Fatir:3
Orang akan tahu sesuatu kenikmatan itu apabila merasakan kesusahan, orang akan tahu betapa nikmatnya makan saat pernah kelaparan. Apabila manusia tidak pernah merasakan perihal lapar, bahkan cenderung nikmat dan berlebihan pasti dia tidak akan merasakan kenikmatannya.

Hakikat nikmat itu bukanlah rasa, maka hakikat rasa menurut orang Tauhid ialah dia tahu pemberian itu dari Tuhannya, dan dia merasakan betapa tidak pantasnnya namun diberikan kepadanya yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain.

Yang bisa merasakan nikmat itu adalah orang yang jauh dari nikmat. Orang bisa merasakan pedihnya lapar saat dia tidak bisa makan dan melihat orang lain sedang makan.

Qs.Fatir: 4
Sudah banyak manusia ingkar dari jaman Rasulullah SAW apalagi hari ini. Berapa triliun manusia yang dari dulu sampai kini menderita di dalam kuburnya.

Qs. Fatir: 5
Ketahuilah rahmat itu dari Allah, maka janganlah bangga dengan kehidupanmu, jangan bangga akan apa yang kamu miliki. Dan rahmat itu diberikan kepada hanya orang yang berbuat baik.

Maka saat manusia diperdaya dengan dunia sejatinya dia telah ditipu oleh setan, sehingga tidak percaya lagi kepada janji-janji Allah. Bahkan sekalipun orang dermawan dan bakhil tidak bisa ditentukan dari seberapa besar pemberiannya. Tapi dilihat sebagaimana dia yakin akan janji-janji Allah. 

Qs. Fatir: 6
Maka orang yang senang hasud, dengki dia telah masuk kedalam golongan setan. 

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Hati terdalam hamba yang sholeh adalah keindahan dengan keharuman urusan Allah SWT. Hati mereka bersinar dengan mengagungkannya, dan karena kebesarannya. Sedangkan hati orang yang meremehkan menjadi putus sebab kerugian yang diteguk, menyesali masa lalu yang disia-siakan dan kepedihannya berlipat ganda saat didebat tentang ketergelincirannya yang buruk. 

Betapa ruginya orang yang telah memikul amanah lalu saat catatan amalnya dibuka ternyata mengkhianatinya. Maha Suci Allah yang mementukan dan membagi, memastikan dan menghukumi, menciptakan cahaya dan kegelapan, dan menjadikan taubat para hambanya adalah penyesalan, serta mengetahui yang sudah dan akan ada.

Manusia itu ada yang yakin, ragu-ragu, dan tidak yakin. Kalau orang yakin pasti tidak akan ada pertimbangan dan teori dalam memutuskan, dan langsung melaksanakan atas apa yang telah diyakini. Sedangkan orang yang ragu-ragu itu banyak pertimbangan dalam melakukan setiap hal. Dan yang terakhir adalah orang yang tidak yakin, orang yang seperti ini tidak perlu diberikan nasehat.

Orang yang menerima uang warisan itu adalah orang yang sangat kekurangan, dan perihal itu disebabkan karena banyaknya dosa-dosa. Dan setiap harinya hanya menghimpun dosa-dosanya. Tanpa disadari oleh pelakunya mau beramal sholeh dia mengalami kesusahan.



Wahai Tuhanku sungguh perbuatan dhalim yang kami lakukan merata, lautan kelalaian dihati kami sudah meluap, kelemahan telah menyeluruh, kepungan dosa telah terjadi, menyerahkan diri itu lebih menyelamatkan kami, karena Engkau (Allah SWT) lebih mengetahui kondisi kami.

Wahai Tuhanku kami bermaksiat kepadamu bukan karena kami tidak mengetahui siksamu, bukan pula karena ingin mendekati siksamu, dan bukan karena meremehkan derajatmu. Tetapi nafsu kami menguasai diri ini, kesengsaraan kami menolong nafsu itu lalu kami tertipu oleh tutupan aib yang Engkau lakukan. 

Banyak manusia menyesal akan dosa-dosanya tetapi tidak melakukan perbuatan, bahkan tidak ada amal solehnya kepada Allah, lalu ditambahkan lagi tidak ada kepeduliannya dengan orang sekitarnya.



Ada 6 Hal yang bila mendekati dosa kecil ia akan menjadi dosa besar, dan jika 6 hal itu ada pada dosa besar maka ia akan semakin besar dan meningkat:
  1. Ishrar (Terus menerus)
  2. Menganggap remeh sebuah dosa
  3. Bahagia dengan dosa, karena sesungguhnya hati hamba menjadi hitam sesuai dengan kebahagiaan atas dosa yang dilakukan.
  4. Meremehkan nikmat Allah SWT, yaitu nikmat yang berupa tidak diketahuinya, perbuatan dosa yang ditutupi oleh Allah SWT, dan kesabarannya untuk menunda balasan atasnya, juga tidak menyegerakan siksanya.
  5. Menampakkan dosa, maksudnya dengan melakukan maksiat secara terang-terangan, dan menceritakannya lalu berbangga diri karena telah melakukannya
  6. Pelaku dosa itu adalah alim yang telah dihormati.\


Seandainya seorang lelaki melakukan ibadah seperti ibadahnya 70 Nabi maka pada hari kiamat ia akan terhitung sedikit, hal ini karena kegentingan yang ia lihat pada hari itu. 

Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya diantar orang mukmin ada orang yang diberi catatan amalnya tertutup setelah melewati jembatan shirath. Dalam catatan amal itu disebutkan 'engkau melakukan ini dan ini, sesungguhnya Aku (Allah) malu menampakkannya kepadamu, berangkatlah sungguh Aku telah mengampunimu' Maha Suci Dia yang malu terhadap hamba yang bermaksiat kepadaNya. Ini tiada lain adalah wujud kedermawanan yang murni.

Minggu, 10 April 2022 0 komentar

Gallery Foto Habib Hasan bin Hafidz bin Syeikh Abu Bakar bin Salim

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Habib Hasan bin Hafidz bin Syeikh Abu Bakar bin Salim


Jumat, 11 Maret 2022 0 komentar

Gallery Foto Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf (Jeddah)

بسم الله الرّحمن الرّحيم
















0 komentar

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf (Jeddah) Dan Muridnya Bertemu Rasulullah SAW

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Dikatakan oleh Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya'roni : "Seseorang akan bisa mendengar ucapan Rasulullah SAW secara langsung tentulah ia telaj mencapai 79 ribu maqam dan berhasil menghilangkan 247 ribu hijab dalam hatinya."

Sosok Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah. Suatu ketika ada seorang muhibbin datang kepada Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf seraya berkata :
"Wahai Habib, sudah bertahun-tahun aku ikut ta'lim denganmu. Dan sudah lama pula aku rindu ingin bertemu Rasulullah SAW. Namun hingga saat ini keinginanku tersebut belum dikabulkan Allah SWT. Aku ingin engkau berkenan menjadi wasilahku bertemu dengan Rasulullah SAW."

Mendengar permohonan si muhibbin tadi, Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf mengajaknya ziarah ke makam Rasulullah SAW. Tatkala sudah tiba di makam Rasulullah SAW, beliau membaca salam dan beberapa aurod. Tak berapa lama Rasulullah SAW menjawab salam dari Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf. Bahkan Rasulullah SAW nampak keluar dari pusaranya yang mulia tersebut.

Mendengar jawaban salam dan melihat Rasulullah SAW, si muhibbin gemetar seakan tak bisa mengendalikan dirinya, serasa tubuhnya akan luluh lantak menatap keindahan wajah Rasulullah SAW. Akhirnya Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf memegangnya sehingga ia mampu mengendalikan dirinya.
Selasa, 08 Maret 2022 0 komentar

Manaqib Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Atthas (Keramat Empang - Bogor)

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Kawasan Empang Bogor Selatan, Kota Bogor menjadi terkenal karena di lokasi itu berdiri Masjid Keramat An Nur yang lokasinya tepat di Jalan Lolongok.

Masjid Keramat An-Nur

Di Kompleks Masjid An nur itulah, Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas di makamkan, bersama dengan makam anak-anaknya yaitu Al Habib Mukhsin Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Zen Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Husen Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al Athas, Sarifah Nur Binti Abdullah Al Athas, dan makam murid kesayangannya yaitu Al Habib Habib Alwi Bin Muhammad Bin Tohir.

Sebelah Masjid Menuju Makam

Makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Atthas (Keramat Empang - Bogor)


Pintu Makam

Dalam Manakibnya disebutkan bahwa Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas adalah seorang “ Waliyullah” yang telah mencapai kedudukan mulia dekat dengan Allah SWT. Beliau termasuk salah satu Waliyullah yang tiada terhitung jasa-jasanya dalam sejarah pengembangan Islam dan kaum muslimin di Indonesia. Beliau seorang ulama “Murobi” dan panutan para ahli tasawuf sehingga menjadi suri tauladan yang baik bagi semua kelompok manusia maupun jin.

Al Habib Abdullah bin Mukhsin bin Muhammad bin Abdullah. bin Muhammad bin Mukhsin bin Al-Quthb Husen bin Syekh Al Quthb Anfas Al Habib Umar bin Abdurrohman Al Atthas bin ‘Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman as-Seqqaf bin Muhammad maulad dawilah bin Ali maulad dark bin Alwy al-Ghayyur bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad shahib marbath bin Alwy khali’ qatsam bin Alwy bin Muhammad bin Alwy Ba’Alawy bin Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-naqib bin Ali al-uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam Husein as-sibth bin Ali bin Abi Thalib Wa Sayidatina Fatimah az-Zahra binti Rasulullah SAW,  adalah seorang tokoh ruhani yang dikenal luas oleh semua kalangan umum maupun khusus. Beliau adalah “Ahli kasaf” dan ahli Ilmu Agama yang sulit ditandingi keluasan Ilmunya, jumlah amal ibadahnya, kemulyaan maupun budi pekertinya, pada zamannya.
 
Al-Habib Abdullah bin Muchsin Al-Atthas dilahirkan didesa Haurah, salah satu desa di Al-Kasri, Hadhramaut, Yaman, pada hari selasa 20 Jumadil Awal 1265 H. Sejak kecil beliau mendapatkan pendidikan rohani dari ayahnya Al-Habib Muchsin Al-Atthas.rhm, Beliau mempelajari Al-Quran dari mu’alim Syekh Umar bin Faraj bin Sabah.rhm. setelah menghatamkan Al-quran beliau diserahkan kepada ulama-ulama besar dimasanya untuk menimba ilmu Islam, dan Al-Habib Abdullah bin Muchsin Al-Atthas pernah belajar kitab risalah Jami'ah karangan Al-Habib Ahmad bin Zen Al-Habsyi.ra, Kepada Al-Habib Abdullah Bin Alwi Al-‘Aydrus.rhm
 
Dalam Usia 17 tahun beliau sudah hafal Al Qur’an. Kemudian beliau oleh Ayahnya diserahkan kepada ulama terkemuka di masanya. Beliau dapat menimba berbagai cabang ilmu Islam dan Keimanan.

Diantara guru–guru beliau, salah satunya adalah As-sayid Al Habib Al Quthb Ghauts Abu Bakar bin Abdullah Al Atthas.rhm, dari guru yang satu itu beliau sempat menimba Ilmu–Ilmu rohani dan tasawuf, Beliau mendapatkan do’a khusus dari Al Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Atthas, sehingga beliau berhasil meraih derajat kewalian yang patut. Diantaranya guru rohani beliau yang patut dibanggakan adalah yang mulya Quthb Al Habib Sholeh bin Abdullah Al-Atthas penduduk Wadi a’mad, Hadhramaut.

Beliau berguru kepada :
  1. Syaikh Umar bin Faraj bin Sabbah 
  2. Habib Abubakar bin Abdullah Al-Atthas 
  3. Habib Sholeh bin Abdullah Al-Atthas, di desa Ammad, Hadramaut. 
  4. Habib Ahmad bin Muhammad Alhabsyi 
  5. Habib Abdullah bin Alwi Alaydrus, di desa Burdi, Hadramaut, disini ia bermukim cukup lama untuk menuntut ilmu dan membaca beberapa kitab diantaranya  kitab yang dikarang oleh Habib Ahmad  bin Zain Alhabsyi. 
  6. Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdor 
  7. Habib Ahmad bin Abdillah Al-bar 
  8. Syekh Abdullah bin Ahmad Baswedan, di Karbah, Hadramaut, ia juga bermukim disini. 
  9. Syekh Muhammad bin Abdullah Basaudan.
Habib Abdullah bin Mukhsin al-Aththas pernah membaca Al-Fatihah dihadapan Habib Sholeh dan al-Habib Sholeh menalkinkan Al-Fatihah kepadanya. Al A’rif Billahi Al Habib Ahmad bin Muhammad Al Habsyi, ketika melihat Al Habib Abdullah bin Mukhsin al-atthas yang waktu itu masih kecil, beliau berkata sungguh anak kecil ini kelak akan menjadi orang mulya kedudukannya.

Al Habib Abdullah Bin Mukhsin pernah belajar Kitab risalah karangan Al Habib Ahmad Bin Zen Al Habsyi kepada Al Habib Abdullah Bin A’lwi Alaydrus sering menemui Imam Al Abror Al Habib Ahmad Bin Muhammad Al Muhdhor. Selain itu beliau juga sempat mengunjungi beberapa Waliyulllah yang tingal di hadramaut seperti Al Habib Ahmad Bin Abdullah Al Bari seorang tokoh sunah dan asar. Dan Syeh Muhammad Bin Abdullah Basudan. Beliau menetap di kediaman Syeh Muhammad basudan selama beberapa waktu guna memperdalam Agama.

Al Habib Abdullah bin Mukhsin pernah belajar Kitab risalah karangan Al Habib Ahmad bin Zein Al Habsyi kepada Al Habib Abdullah bin Alwi Alaydrus yang tinggal di Bur.

Beliau juga sering menemui Imam Al Abror Al Habib Ahmad bin Muhammad Al Muhdhor tinggal di kota Quwaireh di Lembah Do’an. Selain itu beliau juga sempat mengunjungi beberapa Waliyulllah yang tinggal di Hadramauth seperti Al Habib Ahmad bin Abdullah Al Bari seorang tokoh sunah dan atsar dan Syekh Muhammad bin Abdullah Basaudan, yang merupakan putra Imam Besar Syekh Abdullah bin Ahmad Basaudan yang tinggal di kota Khuraibah di lembah Do’an yang dikenal termasuk Sab’i Abdallah (Tujuh Abdullah) yang mana satu Abdullah diberi karomah oleh Allah SWT mampu mengajar dan mendidik umat muslim satu negeri. 

Ketujuh Abdullah tersebut adalah :
  1. Habib Abdullah bin Husein bin Thohir
  2. Habib Abdullah bin Umar bin Yahya
  3. Habib Abdullah bin Husein Bil-Faqih
  4. Habib Abdullah bin Ali bin Shahab
  5. Habib Abdullah bin Abu Bakar Ba'Alawy
  6. Syeikh Abdullah bin Salim bin Smeir Al-Hadrami
  7. Syeikh Abdullah bin Ahmad Basaudan
Beliau menetap di kediaman Syeikh Muhammad Basaudan (Lembah Do’an) selama beberapa waktu guna memperdalam agama.

Pada tahun 1282 Hijriah, Habib Abdulllah Bin Mukhsin menunaikan Ibadah haji yang pertama kalinya, selama ditanah suci beliau bertemu dan berdialog dengan ulama-ulama Islam terkemuka. Kemudian, seusai menjalankan ibadah haji, beliau pulang ke Negrinya dengan membawa sejumlah keberkahan. Beliau juga mengunjungi Kota Tarim untuk memetik manfaat dari wali–wali yang terkenal.

Setelah dirasa cukup maka beliau meninggalkan Kota Tarim dengan membawa sejumlah berkah yang tidak ternilai harganya. Beliau juga mengunjungi beberapa Desa dan beberapa Kota di Hadramaut untuk mengunjungi para Wali dan tokoh–tokoh Agama dan Tasawuf baik dari keluarga Al A’lwi maupun dari keluarga lain.

Pada tahun 1283 H, Beliau melakukan ibadah haji yang kedua. Sepulangnya dari Ibadah haji, beliau berkeliling ke berbagai peloksok dunia untuk mencari karunia Allah SWT dan sumber penghidupan yang merupakan tugas mulia bagi seorang yang berjiwa mulia. Dengan izin Allah SWT, perjalanan mengantarkan beliau sampai ke Indonesia. beliau bertemu dengan sejumlah Waliyullah dari keluarga Al Alwi antara lain Al Habib Ahmad Bin Muhammad Bin Hamzah Al Atthas.

Sejak pertemuanya dengan Habib Ahmad beliau mendapatkan Ma’rifat. Dan, Habib Abdullah Bin Mukhsin diawal kedatangannya ke Jawa memilih Pekalongan sebagai Kota tempat kediamannya. Guru beliau Habib Ahmad Bin Muhammad Al Atthas banyak memberi perhatian kepada beliau sehinga setiap kali gurunya menunjungi Kota Pekalongan beliau tidak mau bermalam kecuali di rumah Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Atthas.

Dalam setiap pertemuan Habib Ahmad selalu memberi pengarahan rohani kepada Habib Abdullah Bin Mukhsin sehingga hubungan antara kedua Habib itu terjalin amat erat. Dari Habib Ahmad beliau banyak mendapat manfaat rohani yang sulit untuk dibicarakan didalam tulisan yang serba singkat ini.

Dalam perjalan hidupnya Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Atthas pernah dimasukan kedalam penjara oleh Pemerintah Belanda, mungkin pengalaman ini telah digariskan Allah. Sebab, Allah ingin memberi beliau kedudukan tinggi dan dekat dengannya. Nasib buruk ini pernah juga dialami oleh Nabi Yusuf AS yang sempat mendekam dalam penjara selama beberapa tahun. Namun, setelah keluar dari penjara ia diberi kedudukan tinggi oleh penguasa yang telah memenjarakannya.

Karomah dan Kekeramatan Habib Abdullah 

Dalam perjalanan hidupnya, beliau Al Habib Abdullah bin Muhchsin Al-Atthas pernah dimasukkan kedalam penjara oleh pemerintah Belanda pada masa itu dengan alasan yang tidak jelas (difitnah). Selama dipenjara, kekeramatan beliau makin nampak yang mengundang banyak pengunjung untuk bersilahturahmi dengan beliau. Sampai mengherankan pimpinan penjara dan para penjaganya, bahkan sampai mereka pun ikut mendapatkan keberkahan dan manfaat dari kebesaran beliau.

Setiap permohonan dan hajat yang pengunjung sampaikan kepada Habib Abdullah Bin Mukhsin selalu dikabulkan Allah SWT, para penjaga merasa kewalahan menghadapi para pengunjung yang mendatangi beliau Mereka lalu mengusulkan kepada kepala penjara agar segera membebaskan beliau. Namun, ketika usulan dirawarkan kepada Habib Abdullah beliau menolak dan lebih suka menungu sampai selesainya masa hukuman. 

Dalam kejadian di penjara, pada suatu malam pintu penjara tiba-tiba telah terbuka dan telah datang kepada beliau kakek beliau Al Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas (Shohibul Ratib), seraya berkata,”jika engkau ingin keluar penjara keluarlah sekarang, tapi jika engkau bersabar, maka bersabarlah.”. Dan ternyata beliau memilih bersabar dalam penjara. Pada malam itu juga, beliau telah di datangi Sayyidina Al Faqih Muqaddam dan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Pada kesempatan itu Sayyidina Al Faqih Muqaddam memberikan sebuah kopyah Al Fiyah kepada beliau, dan Syekh Abdul Qadir Jaelani memberikan surbannya kepada beliau. Ternyata di pagi harinya kopyah tersebut masih tetap berada di kepala al-Habib Abdullah bin Muhsin Alattas. Padahal beliau bertemu dengan al-Faqih al-Muqadam hanya dalam mimpi.

Para pengujung terus berdatangan kepenjara sehingga berubahlah penjaraan itu menjadi rumah yang selalu dituju, Beliau pun mendapatkan berbagai kekeramatan yang luar biasa mengingatkan kembali hal yang dimiliki para salaf yang besar seperti Habib Abu Bakar As-Sakran dan Habib Umar Al-Mukhdor 

Diantara karomah beliau yang diperoleh, seperti yang diungkapkan : Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi.rhm (Surabaya). Bahwa Al Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Atthas ketika mendapatkan anugerah dari Allah, beliau tenggelam penuh dengan kebesaran Allah SWT, hilang akan hubungannya dengan alam dunia dan seisinya. "ketika aku mengunjungi Al Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Atthas dalam penjara, aku lihat penampilannya amat berwibawa, dan beliau terlihat diliputi akan pancaran cahaya ilahi. Sewaktu beliau melihat aku, beliau mengucapkan bait-bait syair Al Habib Abdullah Al Haddad, dengan awal baitnya :
"Wahai yang mengunjungi aku dimalam dingin, ketika tak ada lagi orang yang akan menebarkan berita fitnah… Selanjutnya kami saling berpelukan dan menangis."

Karomah, kemuliaan yang Allah SWT limpahkan kepada kekasih-Nya, Al Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Atthas yang lain diantaranya adalah sewaktu dipenjara, setiap kali beliau memandang  borgol yang dibelenggu dikakinya, maka terlepaslah borgol tersebut.
 
Disebutkan juga bahwa ketika pimpinan penjara menyuruh sipir untuk mengikat leher beliau dengan rantai besi, maka dengan izin Allah rantai itu terlepas dengan sendirinya, dan pemimpin penjara beserta keluarganya menderita sakit panas, sampai dokter tak mampu lagi untuk mengobati. Hingga akhirnya pimpinan penjara itu sadar bahwa sakit panas tersebut disebabkan karena telah menyakiti Al Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Atthas yang sedang dipenjara. Lalu pimpinan penjara itu mengutus utusan untuk memohon doa agar penyakit panas yang menimpa keluarganya dapat sembuh, dan berkatalah Al Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Atthas "ambillah borgor dan rantai ini, ikatkan di kaki dan leher maka akan sembuhlah dia" maka setelah itu dengan izin Allah penyakit pimpinan penjara dan keluarganya pun dapat sembuh.

Setelah beliau keluar dari penjara, beliau mencari tempat yang sunyi, yang jauh dari banyak orang, dan ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lalu dipilihlah daerah Bogor (Empang), yang akhirnya Al Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Atthas bertengger ditempat ini, beliau membeli tanah, membuat rumah sederhana dan beliau menyendiri sampai diangkat derajatnya oleh Allah SWT.


Perjalanan ke Empang

Dari sumber lain disebutkan, bahwa awal mula kedatangan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Atthas ke Indonesia, pada tahun 1800 Masehi, waktu itu beliau diperintahkan oleh Al Habibul Imam Abdullah bin Abu Bakar Al-Idrus, untuk menuju Kota Mekah. Dan sesampainya di Kota Mekah, beliau melaksanakan sholat dan pada malam harinya beliau mimpi bertemu dengan Rasullah SAW, entah apa yang dimimpikannya, yang jelas ke esok harinya beliau berangkat menuju Negeri Indonesia.

Sesampainya di Indonesia, beliau dipertemukan dengan Al Habib Ahmad Bin Hamzah Al Atthas yang da dipakojan Jakarta dan beliau belajar ilmu agama darinya, lalu Habib Ahmad Bin Hamzah Al Atthas memerintahkan agar beliau datang berziarah ke Habib Husen di luar Batang, dari sana sampailah perjalanan beliau ke Bogor. Beliau datang ke Empang dengan tidak membawa apa-apa,

Pada saat belau datang ke Empang Bogor, disana disebutkan bahwa Empang yang pada saat itu belum ada penghuninya, namun dengan Ilmu beliau bisa menyala dan menjadi terang benderang Diceritakan, ada kekeramatan yang lain terjadi pula ketika beliau tengah makan dipinggiran empang, kebetulan pada saat itu datang kepada beliau seorang penduduk Bogor dan berkata "Habib, kalau anda benar-benar seorang Habib Keramat, tunjukanlah kepada saya akan kekeramatannya.."

Pada saat itu kebetulan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas tengah makan dengan seekor ikan dan ikan itu tinggal separuh lagi. Maka Habib Abdukkah berkata "Yaa sama Anjul ilaman Tabis," ( wahai ikan kalau benar-benar cinta kepadaku tunjukanlah) maka atas izin Allah SWT, seketika itu juga ikan yang tinggal sebelah lagi meloncat ke empang. Konon ikan sebelah tersebut sampai sekarang masih hidup dilaut.

Masjid Keramat Empang didirikan sekitar tahun 1828 M. pendirian Masjid ini dilakukan bersama para Habaib dan ulama-ulama besar di Indonesia. Di Sekitar Areal Masjid Keramat terdapat peninggalan rumah kediaman Habib Abdullah, yang kini rumah itu ditempati oleh Khalifah Masjid, Habib Abdullah Bin Zein Al-Atthas. Didalam rumah tersebut terdapat kamar khusus yang tidak bisa sembarang orang memasukinya, karena kamar itu merupakan tempat khalwat dan zikir beliau. Bahkan disana terdapat peninggalan beliau seperti tempat tidur, tongkat , gamis dan sorbannya yang sampai sekarang masih disimpan utuh.

Kitab-kitab beliau kurang lebih ada 850 kitab, namun yang ada sekarang tinggal 100 kitab, sisanya disimpan di “Jamaturkhair atau di Rabitoh”. Tanah Abang Jakarta. Salah satu kitab karangan beliau yang terkenal adalah “Faturrabaniah” konon kitab itu hanya beredar dikalangan para ulama besar,

Adapun karangannya yang lain adalah kitab “Ratibul Atthas dan Ratibul Hadad.” Kedua kitab itu merupakan pelajaran rutin yang diajarkan setiap maghrib oleh beliau kepada murid-muridnya dimasa beliau masih hidup, bahkan kepada anak dan cucunya, Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Atthas menganjurkan supaya tetap dibacanya.

Habib Abdullah mengadakan pengajian/majelis ta’lim  dirumah lalu di Masjid  yang didirikannya dekat rumahnya yang diberi nama  Masjid An-Nur. Muridnya banyak sekali, diantaranya adalah :
1. Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir Al-Haddad, Bogor. 
2. Syeikh Abdullah bin Muhammad Arfan Baraja’, yaitu sewaktu berkunjung ke Indonesia, dimana ia mencatat banyak nasehat-nasehat  dari habib Abdullah, kemudian kembali ke Tarim, Hadramaut dan wafat disana.

Hakikat Pengabulan Doa

SESUNGGUHNYA ketika engkau berdoa kepada Allah, maka Allah menjawab doamu. Jika engkau berkata, “Wahai Tuhanku,” maka Dia berkata, “Labbaik hamba-Ku.” Setiap doa pasti dijawab oleh Allah. Adapun mengenai permintaan yang kau ajukan dalam doamu, maka Allah akan melihatnya terlebih dahulu. Jika yang kau minta itu baik dan bermanfaat untukmu, maka Allah akan memberikannya. Tetapi, jika yang kau minta itu buruk dan tidak bermanfaat untukmu, maka Allah tidak akan memberikannya. Allah hanya akan memberikan sesuatu yang menurut-Nya baik untukmu, bukan sesuatu yang menurut-Nya buruk meskipun menurutmu baik. Sesungguhnya apa yang kau pinta itu akan Dia berikan sesuai dengan ilmu-Nya. 

Sebagai contoh, jika anakmu yang masih kecil yang kau sayangi datang menemuimu dan meminta sesuatu yang akan membahayakan dirinya sedangkan dia tidak tahu bahwa apa yang dia minta itu berbahaya baginya, apa yang akan kau lakukan? Kau akan mengabulkan permintaannya atau menolaknya? Dengan cara demikian sesungguhnya penolakanmu adalah sebuah pemberian, sebab engkau mencegahnya dari sesuatu yang akan membahayakan dirinya. Begitulah perlakuan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah selalu memilihkan yang terbaik bagi mereka, sebab Dia menyayangi mereka lebih daripada kasih sayang mereka kepada dirinya sendiri. Dan Dia lebih mengasihi mereka daripada kedua orang tua mereka.

Habib Abdullah Bin Al-Atthas, adalah seorang Waliyullah dengan kiprahnya menyebarkan Agama Islam dari satu negeri kenegeri lain. Di Kampung Empang beliau menikahi seorang wanita keturanan dalem Sholawat. Dari sanalah beliau mendapatkan wakaf tanah yang cukup luas, sampai sekarang 85 bangunan yang terdapat di kampung Empang didalam sertifikatnya atas nama Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al-Atthas.
 
Habib Abdullah Bin Al-Atthas, adalah seorang Waliyullah dengan kiprahnya menyebarkan Agama Islam dari satu negeri ke negeri lain. Di Kampung Empang beliau menikahi seorang wanita keturunan dalem Sholawat. Dari sanalah beliau mendapatkan wakaf tanah yang cukup luas, sampai sekarang 85 bangunan yang terdapat di kampung Empang didalam sertifikatnya atas nama Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al-Atthas.

Semasa hidupnya sampai menjelang akhir hayatnya beliau selalu membaca Sholawat Nabi yang setiap harinya dilakukan secara dawam di baca sebanyak seribu kali, dengan kitab Sholawat yang dikenal yaitu “ Dala’il Khoirot” artinya kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT.
 
Sampai pada hari selasa tanggal 29 bulan Dzulhijah 1351 H, diawal waktu dhuhur beliau dipanggil kehadirat Allah SWT. Jenazah beliau dimakamkan keesokan harinya setelah sholat dhuhur. Tak terhitung jumlah manusia yang ingin ikut mensholatkan jenazah beliau, yang dimakamkan dibagian barat mesjid beliau. Sebelum wafat beliau yang dikarenakan flu ringan, kebanyakan waktunya ditenggelamkan dalam dzikirnya dan doanya kepada Allah SWT. Sampai beliau pulang kepangkuan Allah SWT.

Setiap tahunnya, di kawasan Empang Bogor selalu dibanjiri ribuan peziarah yang datang dari berbagai pelosok tanah air, bahkan mancanegara. Semua para pecintanya hendak menghadiri acara haul beliau. Haul al-Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Atthas diselenggarakan setiap tahunnya tanggal 23 Rabiul Awal (Bulan Maulud) di Jl. Lolongok kompleks Masjid Keramat an-Nur Empang Bogor.
 
;