Jumat, 06 Maret 2020 0 komentar

11 Rajab 1441 H (6 Maret 2020)

بسم الله الرّحمن الرّحيم


  1. Tabiat itu berasal dari kebiasaan, meninggalkan sebuah kebiasaan itu sangatlah sulit terutama kebiasaan buruk, obat yang pertama adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, dan membaca Istighfar. (13:48 WIB)
  2. Sesungguhnya bacaan Istighfar itu hukumnya sunnah, namun meminta ampun kepada Allah SWT itu hukumnya wajib. (13:49 WIB)
  3. Hadits Qudsi: Segala amal dan perbuatan manusia itu adalah hak miliknya, kecuali puasa, karena puasa bagiKu itu Aku (Allah yang membalasnya), karena amal itu sangat rahasia dan yang mengetahui hanyalah Aku sendiri, dan Aku yang akan membalasnya. (13:52 WIB)
  4. Sesungguhnya pahala orang yang berpuasa itu malaikat tidak akan mampu mencatatnya. (13:54 WIB)
  5. Puasa yang mengosongkan diri itu sesungguhnya menuju sifat Allah, sedangkan puasa yang tidak mengosongkan diri itu menuju sifat manusia. (13:57 WIB)
  6. Apabila manusia itu berselisih perkara agama dan tauhid niscaya dia termasuk orang yang tidak memiliki dasar yang cukup. (14:05 WIB)
  7. Tanda orang yang banyak mengeluh itu sesungguhnya dia termasuk golongan orang yang kufur. (14:23 WIB)
  8. Sesungguhnya orang yang kufur itu disebabkan kecintaannya pada dunia, dan orang yang cinta dunia pasti akan di akhirkan su'ul khotimah. (14:26 WIB)
  9. Orang yang takut kaya itu tidak akan takut hartanya berkurang, sedangkan orang yang takut miskin dia akan takut hartanya berkurang. Padahal harta yang berkurang itu pasti akan ditambah, sedangkan harta yang tidak mau dikurangi pasti akan habis. (14:30 WIB)
  10. Orang yang tidak mau mengeluarkan hartanya niscaya dia akan dihabiskan oleh Allah SWT, entah itu dicabut keberkahannya atau berakhir dalam kesakitan. (14:30 WIB)
  11. Tidak sempurna iman seseorang itu sebelum menyempurnakan keimanan keluarganya, saudaranya, tetangganya, sahabat-sahabatnya. (14:34 WIB)
  12. Tanda-tanda hati yang sehat, banyak berdzikir dan tubuhnya rela letih untuk urusan dengan Allah SWT, ketika dia beribadah sirnalah keinginannya terhadap dunia, dan termasuk orang yang kikir dalam urusan waktu yang digunakan untuk Allah melebihi dari orang yang paling kiri terhadap dunia. (14:39 WIB)
  13. Orang yang berhati sehat dia menghabiskan waktunya hanya kepada Allah SWT saja, dan sangat kikir terhadap suatu urusan yang tidak berhbungan dengan Allah SWT. (14:40 WIB)
  14. Yang disebut dzikir itu hanya mengingat Allah SWT semata, segala sesuatu dzikir yang masih kepikiran selain Allah SWT maka tidak bisa disebut dzikir. (14:43 WIB)
  15. Orang yang bodoh itu merasa untung meninggalkan ibadahnya, karena dia merasa ada keuntungan yang lain, bagi orang yang beriman sangat rugi besar meninggalkan waktu yang tidak terulang kembali. Maka janganlah terhalang sesuatu yang menuju kepada Tuhanmu. (14:44 WIB)
  16. Bila seorang hamba meremehkan amal, Allah SWT akan mengujinya dengan kecemasan. Dan barangsiapa yang meremehkan ilmu maka bersiaplah menerima kebodohan, dan orang yang bodoh itu pasti musibah. (14:46 WIB)
  17. Ilmu itu ditempatkan kepada ahlinya, bukan untuk membodohi orang yang bodoh. Mengaku berilmu tetapi tidak ada satupun yang mengakuinya dia orang yang berilmu. (14:48 WIB)
  18. Tidak akan mengetahui orang yang berilmu itu melainkan orang yang mempunyai ilmu juga. (14:49 WIB)
  19. Seorang penyair berkata: "Orang bodoh mati sebelum kematian datang menjemput, jasad-jasad mereka telah menjadi mayat sebelum mereka dikubur, arwah mereka merasa sedih dalam jasad-jasadnya, sampai hari kiamatpun mereka tidak akan bangkit. (14:50 WIB)
  20. Orang yang bodoh itu mati sebelum mati, yaitu mereka yang hidupnya hanya memikirkan isi perut saja. (14:51 WIB)
  21. Sesungguhnya apa yang tersimpan dalam hatimu itu akan kamu bawa mati, maka apabila tidak ada kalimat Allah didalam hatimu maka celakalah kamu, akan terucap apa yang menjadi dominan didalam hatimu. (15:02 WIB)
  22. Perbaruilah apa yang menjadikan niatmu, niscaya akan diperbarui hati dan segala urusanmu, hadapkanlah jasadmu kepada kiblat dan jadikan pandanganmu memandang Allah SWT. (15:03 WIB)
  23. Letakkan badanmu dimana saja, karena itu kelak akan menjadi sebuah mayat, tetapi letakkan hatimu pada genggaman Allah SWT. (15:05 WIB)
  24. Barangsiapa yang tidak bisa beribadah kepada Allah, niscaya dia terhalang oleh banyak dosa-dosanya. (15:18 WIB)
  25. Tempatkanlah segala urusanmu kepada sebuah hukum, sehingga kamu melakukan segala urusan dengan akhlaq. (15:38 WIB)
  26. Mudahkanlah urusan makmum apabila kamu menjadi imam, dan letakkan makmu itu pada posisi orang awam. (16:15 WIB)
  27. Sesungguhnya orang yang awam itu lebih afdhol sholat berjamaah daripada sendiri, dan orang yang tassawuf itu lebih afdhol sholat sendiri daripada berjamaah. (16:17 WIB)
0 komentar

Galllery Foto KH. Zainuddin Syahbana (Banjarmasin)

بسم الله الرّحمن الرّحيم



Rabu, 04 Maret 2020 0 komentar

Kesukaan Para Sahabat Nabi Muhammad SAW

بسم الله الرّحمن الرّحيم


 عِنْدَمَا سُئِلَ أَبُو بَكر، مَاذَا تُحِبُّ يَا أَبَا بَكر؟
Indamaa su`ila Abu Bakar: "Maadzaa tuhibbu yaa Abaa Bakar?
Ketika Abu Bakar ditanya: "Apa yg engkau sukai ya Abu Bakar?


قَالَ: أُحِبُّ ثَلاَثاً يَا رَسُولَ اللَّه
Qoola: "Uhibbu tsalaatsan ya rasuulallaah"
Beliau menjawab: "Aku menyukai tiga hal, ya Rasulullah


قَالَ: مَا هِيَ؟
Qoola: "Maa Hiya?"
Nabi SAW bertanya: "Apa itu?


قَالَ: أُحِبُّ إِنْفَاقَ مَالِي عَلَيْكَ، وَالجُلُوْسَ بَيْنَ يَدَيْكَ، وَإِدَامَة النَّظَـر إِلَيْكَ
Qoola: "Uhibbu infaaq maalii 'alai-ka, wal-juluus bayna yadai-ka, 
wa idaamah an-nazhor ilai-ka"
Abu Bakar menjawab: "Aku suka menginfaqkan hartaku atasmu, duduk bersebelahan denganmu, dan senantiasa memandangmu


"وَأَنْتَ يَا عُمَر؟"
Wa anta, yaa 'Umar?
"Dan engkau, wahai Umar?", tanya Nabi SAW


قَالَ: وَأَنَا ثَلاَثاً يَا رَسُوْلَ اللَّه، أُحِبُّ الحَقّ، وَقَوْلَ الحَقّ، وَالنَّـهْي عَنِ المُنْكَر
Qoola: "Wa ana tsalaatsan, yaa rasuulallaah, uhibbul-haq, wa qowlal-haq, wa-naHya 'anil-munkar"
Umar berkata: "Aku juga menyukai tiga hal ya Rasulullah; Aku suka yg Haq, berkata yg Haq dan mencegah kemungkaran


"وَأَنْتَ يَا عُثْمَان؟"
Wa anta, yaa 'Utsman?
"Dan engkau, wahai Utsman?", tanya Nabi SAW


قَالَ: أُحِبُّ إِطْعَامَ الطَعَام، وَإِفْشَاء السَّلاَم، وَالصَّلاَة اللَّيْل وَالنَّاس نِيَام
Qoola: "Uhibbu ith'aamat-tho'aam, wa ifsyaa`a-ssalaam, was-sholaatal-layl wan-naasu niyaam"
Utsman menjawab: "Aku suka memberi makan kepada faqir miskin, menyebarkan salam, dan sholat malam di saat manusia sedang terlelap


"وَأَنْتَ يَا عَلِيّ؟"
Wa anta, yaa 'Ali?
"Dan engkau, wahai 'Ali?", tanya Nabi SAW


قَالَ: أُحِبُّ إِكْرَامَ الضَّيْف، وَالصَّوْمَ فِي الصَّيْف، وَقَتْـلَ العَدُوّ بِالسَّيْف

Qoola: "Uhibbu ikroomad-dhayf,was-shaum fis-shaif, wa qotlal-'aduww bis-saif"'
Ali menjawab: Aku suka menghormati tamu, puasa pada musim kemarau, dan memerangi musuh Islam dgn pedang!


"وَأَنْتَ يَا أَبَا ذَر؟"
Wa anta, yaa Abaa Dzar?
"Dan engkau, wahai Abu Dzar?", tanya Nabi SAW


قَالَ: أَنَا أُحِبُّ أَشْيَاءً غَرِيْبَة

Qoola: "Ana uhibbu asy-yaa`an ghoriibah"
Abu Dzar menjawab: "Aku menyukai sesuatu yg asing


قَالَ: مَا هِيَ؟
Qoola: "Maa Hiya?"
Nabi SAW bertanya: "Apa itu?"


قَالَ: أُحِبُّ الجُوْعَ، وَأُحِبُّ الْمَرَض، وَأُحِبُّ الْمَوْتَ
Qoola: "Uhibbul-juu', wa uhibbul-marodh,wa uhibbul-maut"
Abu Dzar menjawab: "Aku menyukai lapar, aku menyukai sakit, dan aku menyukai kematian"


قَالَ: لاَ أَحَد يُحِبُّ هَذَا يَا أَبَا ذَر!؟
Qoola: "La ahad yuhibbu Haadzaa yaa Abaa Dzar!?"
Nabi SAW berkata: "Tidak ada seorangpun yang menyukai hal ini, wahai Abu Dzar!?


قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللَّه، أَنَا إِنْ جُعْتُ رَقَّ قَلْبِي، وَإِذَا مَرِضْتُ خَفَّ ذَنْـبِي، وَإِذَا مُتُّ لَقِيْتُ رَبِّـي 
Qoola: "Ya Rasuulallaah, ana in ju'tu roqqo qolbii, wa idzaa maridh-tu khoffa dzanbii, wa idzaa muttu laqiitu Robbii"
Abu Dzar pun menjawab: "Ya Rasulullah.. Jika aku lapar, hatiku menjadi lembut,jika aku sakit, dosaku berkurang, dan jika aku mati, aku berjumpa dengan Tuhanku"


رَضِىَ اللَّهُ عَنْـهُمْ جَمِيْعًا
Rodhiya-Llaahu 'an-Hum jamii'an..
Semoga Allah SWT meridhoi mereka semua.._________

0 komentar

Kisah Pernikahan Sayyidatina Khadijah RA.

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Sayyidatina Khadijah RA. adalah istri pertama Nabi Muhammad SAW yang paling dicintainya, beliau adalah sosok wanita karir yang sukses, memiliki harta dan pengaruh yang kuat pada zamannya, maka tidaklah heran jika beliau bergelar Sayyidatina Khadijatal Kubra yang artinya besar, seorang wanita pembesar yang memiliki kedudukan.

Khadijah adalah seorang janda yang pernah menikah dua kali, pada pernikahan pertamanya dengan 'Atiq bin 'Aidz beliau tidak memiliki anak, sedangkan di pernikahan keduanya dengan Abu Halah beliau dikarunia seorang anak namun tidak berumur panjang.

Kisah ini berawal dari paman Nabi Muhammad yakni Abu Thalib yang sangat menyayangi keponakkannya ini seperti anaknya sendiri, namun kemiskinan cukup menyulitkan kondisi Abu Thalib, maka untuk membantu menopang ekonomi Abu Thalib menawarkan kepada Muhammad untuk bekerja membantunya.

Maka berangkatlah Abu Thalib kepada Khadijah, karena beliau merasa bahwa Khadijah adalah orang yang mempunyai harta yang sangat banyak dan perdagangan yang cukup sukses, beliau menawarkan Muhammad untuk dijadikan karyawannya dan membantu berdagang ke negeri syam dengan upah dua ekor unta, dikarenakan reputasi Abu Thalib dimata Khadijah sangat baik, dan juga Nabi Muhammad dikenal sebagai orang yang rajin, cerdas, dan jujur, maka Khadijah tidak keberatan memberikannya upah lebih dari dua unta.

Waktu berjalan lambat laun mebuat Khadijah sangat gembira dengan dengannya dan perlahan kemudian mulai menyukai sosok pemuda bernama Muhammad ini, kejujurannya, manis dalam bertutur, membuatnya banyak disukai orang dan membawa keuntungan yang melimpah karena banyak orang yang suka berdagang dengan dirinya, bahkan rekannya Maisarah yang ikut berdagang dengan beliau merasakan keajaiban yang dibawa Muhammad seperti jarak yang terasa dekat waktu melakukan perjalanan, kemudian awan mendung yang selalu memayungi, sampai sebuah ramalan seorang rahib bernama Buhaira yang meramalkan akan datangnya seorang nabi yang telah dijelaskan dalam kitab injil dan taurat, dan ciri-ciri itu sangat cocok dengan Muhammad.

Hingga suatu hari kedukaan menghampiri Khadijah dengan meninggalnya Ayah tercinta, kemudian anak pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal datang melipur laranya dan dia berkata bahwa hidup ini bukan akhir segalanya, Allah memberikan pahala atau hukuman menurut amal masing-masing umat. Dan Ayah Khadijah menurut Waraqah termasuk orang yang beruntung sebab dia adalah orang yang baik.

Mendengar itu Khadijah berkata "kenapa kau tidak sampaikan hal ini kepada orang-orang agar hanya berharap kepada Allah dan berhenti menyembah berhala", lalu Waraqah menjawab "Ini bukanlah tugasku, akan datang nanti seorang Nabi akhir zaman yang telah diceritakan dalam kitab-kitab sebelumnya, dialah yang kelak akan menyampaikan petunjuk ini."

Kemudian Khadijah teringat akan perkataan Maisarah mengenai Muhammad, kemudian Waraqah meyakinkan jika memang itu benar maka kelak dialah Nabi umat kita. Semakin menjadi-jadi perasaan cinta Khadijah kepada Muhammad, sosok yang rajin, cerdas, shalih, dan membuatnya tidak mampu membendung perasaan ini, kemudian menceritakan perihal ini kepada saudaranya, yang kemudian saudaranya ini menyampaikan perihal tersebut kepada Muhammad.

Banyak pembesar suku Quraisy yang ingin melamar Khadijah, tetapi ditolak semua lamaran itu, sedangkan Nabi Muhammad pada saat itu hanyalah seorang pemuda yang tidak mempunyai apa-apa untuk bekal pernikahan. Akhirnya Khadijah membicarakan niatnya kepada paman-pamannya sebagai wakil ayahnya mengenai maksud tersebut, dan membicarakan kepada Muhammad mengenai kesediaannya. Dan Muhammad sendiri berkenan dengan maksud Khadijah walaupun sebenarnya dia belum memikirkan hal pernikahan.

Hari pernikahan telah ditentukan, dengan 20 ekor unta sebagai mas kawinnya, sepulang dari berdagang ke syam pesta pernikahan diselenggarakan di rumah Khadijah, pintu dibuka lebar-lebar, makananpun disediakan, semua orang di undang mulai dari para pembesar quraisy sampai fakir miskin. Pada saat menikah umur Muhammad 25 sedangkan Khadijah berumur 40.

Dari pernikahan tersebut dikaruniai anak sebanyak 6 orang, dua diantaranya laki-laki yaitu Al-Qasim dan Abdullah Ath-Thahir yang wafat saat berusia belia. Sedangkan empat lainnya adalah seorang perempuan yaitu, Zainab, Ummu Kultsum, Ruqayyah, dan seorang wanita yang mewarisi kebesaran ibunya, wanita yang akan melahirkan keturunan yang banyak menjadi Alim Ulama yakni Sayyidatina Fatimah.

Nabi Muhammad mencintai sosok Khadijah melebihi hasrat jasmani, dan keistimewaan beliau dalam hati baginda tidak tergantikan, beliaulah wanita pertama yang dinikahinya, wanita yang menyelimutinya disaat Nabi menggigil setelah bertemu dengan jibril menerima wahyu yang pertama, dan beliau adalah wanita yang masuk islam dan membenarkan apa yang dikatakan suaminya disaat banyak orang yang mendustainya, beliau juga yang membela Nabi Muhammad dengan kedudukannya melawan pembesar quraisy yang menentangnya.

Banyak yang berpendapat buruk mengenai Nabi Muhammad yang mempunyai banyak istri, padahal semasa Khadijah hidup beliau tidak pernah menikah, beliau menikah lagi sepeninggal Khadijah dengan motif politik, kepentingan agama, seperti menikahi wanita pembesar suku lain yang berniat memerangi islam, sehingga demi terhindarnya perang dan pertumpahan darah beliau menikahinya, kemudian menikahi janda yang ditinggal mati suaminya dalam peperangan demi membela agama, bahkan Sayyidatina Aisyah mengetahui betapa cintanya Nabi Muhammad terhadap Khadijah sehingga terkadang membuatnya cemburu.

Sumber: https://majelisalmunawwarah.blogspot.com/2015/03/kisah-pernikahan-sayyidatina-khadijah-ra.html
Jumat, 28 Februari 2020 0 komentar

4 Rajab 1441 H (28 Februari 2020)

بسم الله الرّحمن الرّحيم


  1. Rasulullah SAW bersabda: "Rajab adalah bulan Allah, sedangkan Sya'ban adalah bulanku, Ramadhan adalah bulan hambaku".
  2. Sesungguhnya bulan Rajab itu adalah bulan ampunan atas semua dosanya, dan di bulan itu para Nabi-nabi mendapatkan pertolongan, dan disucikan pulan pada bulan itu darah tidak boleh mengalir. (13:34 WIB)
  3. Malam 27 Rajab adalah malam Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, dan barangsiapa yang berpuasa dia akan mendapatkan fadhilah pahala berpuasa selama 60 tahun. (13:36 WIB)
  4. Barangsiapa yang berbuat baik di bulan Rajab maka akan dilipat gandakan sebanyak 70x, sedangkan mereka yang berbuat maksiat juga akan dilipat gandakan dosanya 70x. (13:37 WIB)
  5. Sesungguhnya makan di tempat orang alim / ulama itu lebih berkah daripada kamu menjalankan puasa sunnah, karena makanan yang dari orang alim / ulama itu sudah pasti keberkahannya, sedangkan puasamu masih dipertimbangkan keutamaannya. (13:44 WIB)
  6. Sesungguhnya orang awam berpuasa menjaga perutnya, sedangkan orang beriman menjaga badan dan hatinya, sedangkan hakikat puasa yang sebenarnya adalah mengosongkan diri dari segala keinginan. (13:47 WIB)
  7. Sesungguhnya sholat dhuha itu berat bagi orang pendosa, karena pada hakikatnya sholat dhuha itu adalah meminta taubat, tetapi banyak dari kita menganggapnya adalah meminta rezeki, padahal rezeki yang sesungguhnya adalah pengampunan dari Allah SWT. (13:52 WIB)
  8. Jagalah sholat dhuhamu, apabila tertinggal maka qodho'lah sholat tersebut. Apabila tidak ada waktu himpunlah sholat dhuha selama seminggu di hari jumat setelah tahiyatul masjid. (13:54 WIB)
  9. Sholat taubat dua rakaat setelah maghrib adalah sholatnya orang yang bertaubat (awwabin), apabila tidak bisa gantilah dengan sholat dhuha. (13:56 WIB)
  10. Apabila kamu diberikan sebuah penghormatan, maka balaslah penghormatan itu lebih baik daripadanya atau paling tidak yang serupa. (13:59 WIB)
  11. Apabila kamu tidak mampu membalas kebaikan / pemberian dari seseorang maka balaslah dia dengan Al-Fateha / doa. (14:00 WIB)
  12. Barangsiapa berbicara sebelum memberi salam hendaknya jangan dijawab. (14:02 WIB)
  13. Sesungguhnya musibah yang terbesar adalah tercabutnya keyakinan atau iman didalam hatimu, sehingga setiap ibadahmu tidak lagi memiliki rasa. (14:09 WIB)
  14. Sesungguhnya yang lebih menakutkan dari fitnah dajjal, lebih buruk dari orang-orang yang bermaksiat. Yaitu mereka yang mengaku beriman tetapi melakukan apa yang telah dilarang oleh Allah SWT. (14:12 WIB)
  15. Banyak manusia takut akan terjangkit penyakit yang mematikan, tetapi sedikit mereka yang takut imannya terlepas dari dadanya. (14:14 WIB)
  16. Sesungguhnya orang yang beriman itu takut sunnahnya tertinggal apalagi wajibnya. (14:15 WIB)
  17. Hitunglah amalmu sebelum dihitung oleh Allah SWT, dan janganlah kamu sibuk menghitung amal kebaikan orang lain. (14:16 WIB)
  18. Setiap hal itu pasti akan memiliki batasan, dan orang yang melampaui batas itu pasti akan mendapatkan hukuman, dan orang yang bodoh itu tidak mengetahui batasan. Maka orang yang bodoh itu pastilah dia akan mendapatkan musibah. (14:20 WIB)
  19. Sesungguhnya orang yang beruntung adalah orang-orang yang khusyuk. (14:25 WIB)
  20. Janganlah kamu peduli orang yang tidak memperdulikanmu, tinggalkanlah orang yang bodoh, karena apabila kamu bergaul dengan orang yang bodoh maka rusaklah segala aspek agamamu. (14:26 WIB)
  21. Sesungguhnya Allah tidak melihat sholatmu, dzikirmu, ibadahmu, tetapi melihat dari hatimu. Karena hati itu apabila bagus maka seluruhnya akan juga bagus, tetapi apabila buruk maka semuanya akan buruk. (14:31 WIB)
  22. Janganlah kamu sibuk memeriksa keburukan orang lain, karena sesunggunya dirimu sendiri banyak menyimpan kebusukan didalam hatimu sendiri. (14:31 WIB)
  23. Seorang mukmin yang melihat dosanya dia seakan berada di kaki gunung dan takut akan menimpanya, sedangkan orang yang munafik dia melihat dosa seperti lalat yang menempel di hidungnya cuma sepele dan dikibas saja. (14:35 WIB)
  24. Sesungguhnya orang yang hatinya gelap itu dia tidak akan bisa menerima sebuah nasehat. Mustahil seseorang menunjukkan jalan atau gambar kepada orang yang buta. (14:36 WIB)
  25. Tidak disebut orang yang bertaubat yang tidak sholat dhuha. (14:37 WIB)
  26. Isilah hatimu dengan hikmah, dan jangan kamu isi dengan selainnya, karena niscaya itu adalah sebuah musibah walaupun kamu belum tertimpa musibah. (14:40 WIB)
  27. Sesungguhnya orang yang sukses itu bukan perkara di materi, hanya orang bodoh yang beranggapan sukses itu adalah mereka yang memiliki harta banyak. (14:46 WIB)
  28. Orang yang banyak meminta ampun kepada Allah SWT dibulan rajab akan dihapuskan semua dosanya, dan kebaikannya akan dilipat gandakan 70x, dan pada bulan Sya'ban di tinggkatkan lagi menjadi 100x, sedangkan pada bulan Ramadhan dia akan dilipat gandakan 1000x. (15:02 WIB)
  29. Wanita yang soleh dia akan menjadi 9 akal 1 nafsu, sedangkan lelaki apabila diperbudak oleh hawa nafsu dia akan menjadi 9 nafsu 1 akal. (15:14 WIB)
  30. Janganlah kamu takut akan rejeki, selama kamu masih hidup rejeki itu pasti ada, sedangkan orang yang meninggal itu adalah orang yang telah habis jatah rejekinya. (15:23 WIB)
  31. Sesungguhnya lebih utama orang yang bershalawat dengan datang di majelis, daripada orang yang membaca ribuan sholawat dengan sendirian. (15:31 WIB)
  32. Ingatlah mati, ingatlah dosa-dosamu, niscaya akan terlepas sifat-sifat sombong dari dirimu. (15:44 WIB)
  33. Sifat sombong itu tersimpan didalam hati tetapi tanda-tandanya tampak pada diri manusia diantaranya ialah:
    1. Merasa bangga melihat dirinya, lebih maju dari orang lain
    2. Suka menonjolkan diri kepada orang lain
    3. Senantiasa ingin tampil dihadapan majelis-majelis pertemuan
    4. Bermegah diri dan angkuh ketika berjalan
    5. Suka membantah teguran orang lain, meskipun bicaranya salah
    6. Tidak meng indahkan nasehat atau teguran orang lain
    7. Suka menindas muslim yang miskin dan lemah
    8. Senantiasa menganggap dirinya benar, dan tidak pernah salah
    9. Suka memuji diri sendiri
    10. Membanggakan nenek moyangnya yang ternama / ahli agama
    11. Membanggakan keturunannya. (15:50 WIB)
0 komentar

Do'a Lingkungan Yang Baik

بسم الله الرّحمن الرّحيم


رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا


rabbanā akhrijnā min hāżihil-qaryatiẓ-ẓālimi ahluhā, waj'al lanā mil ladungka waliyyā, waj'al lanā mil ladungka naṣīrā
"Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!".
(Qs. An-Nisa ayat 75)

Kamis, 27 Februari 2020 0 komentar

Pengajian Ke Duapuluh Lima: Keutamaan Bulan Rajab (Jilid 1)

بسم الله الرّحمن الرّحيم


إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

(Surat Taubat Ayat 36)

BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM.
INNA 'IDDASTASY SYUHUURI 'INDALLAHITS NAA 'ASYARA SYAHRAN FII KITAABILLAAHI YAUMA KHALAQAS SAMAAWAATI WAL ARDHA MINHAA ARBA'ATUN HURUM, DZAALIKAD DIINUL QAYYIMU; FALAA TAZDLIMUU FIIHINNA ANFUSAKUM, WA QAATILUL MUSYRIKIINA KAAFFATAN KAMAA YUQAATILUUNAKUM KAAFFATAN; WA'LAMUU ANNALLAAHA MA'AL MUTTAQIINA.
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, didalam kitab Allah. pada hari Allah menciptakan langit dan bumi, dan  dari antara bulan-bulan itu ada empat yang suci (tidak boleh berperang didalam bulan-bulan itu ya'ni bulan Dzulqaedah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab). Demikian itu agama yang lurus, oleh sebab itu janganlah kamu sekalian menganiaya dirimu sendiri didalam bulan-bulan itu. Perangilah orang-orang musyrik (orang-orang yang menyekutukan Tuhan) semua, sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah itu bersama dengan orang-orang yang bertaqwa.

Diriwayatkan bahwa Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallama bersabda:

رَأَيْتُ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ نَهْرًامَاؤُهُ اَحْلٰى مِنَ الْعَسَلِ وَاَبْرَدُ مِنَ الثَلْجِ وَاَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ فَقُلْتُ لِجِبْرَائِيْلَ: يَاجِبْرَئِيْلُ لِمَنْ هٰذَا؟ قَالَ: لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ فِى رَجَبٍ.

RA-AITU LAILATAL MI'RAAJI NAHRAN MAA-UHU AHLAA MINAL 'ASALI WA ABRADU MINATS TSALJI WA ATHYABU MINAL MISKI, FAQULTU LI JIBRAA-ILA: "YAA JIBRAA-ILU LIMAN HAADZA?" QAALA: "LIMAN SHALLAA 'ALAIKA FII RAJABIN"
Pada malam Mi'raj saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari pada madu, lebih sejuk dari pada es dan lebih harum dari pada minyak misik; maka saya bertanya kepada Jibril: "Hai Jibril untuk siapakah sungai ini?" Jibril menjawab : "Untuk orang yang membaca shalawat untuk engkau dibulan Rajab"

Nabi Besar Muhammad 'alaihish shalaatu wassalaamu bersabda:

اَنِيْبُوْا اِلٰى رَبِّكُمْ وَاسْتَغْفِرُوْا مِنْ ذُنُوْبِكُمْ وَاجْتَنِبُوا الْمَعَا صِىَ فِى الشَّهْرِ الْحَرَامِ وَهُوَ رَجَبٌ

ANIIBUU ILAA RABBIKUM WASTAGHFIRUU MIN DZUNUUBIKUM WAJ TANIBUL MA'AASHIYA FISY SYAHRIL HARAAMI WA HUWA RAJABUN
Tobatlah kamu sekalian kepada Tuhanmu, minta ampunlah dari semua dosamu dan jauhilah segala macam perbuatan durhaka didalam bulan haram yaitu bulan Rajab.

Sebagaimana firman Allah ta'aalaa:

يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌ

YAS-ALUUNAKA 'ANISY SYAHRIL HARAAMI QITAALIN FIIHI, QUL QITAALUN FIIHI KABIIRUN (Al aayah)
Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) mengenai peperangan dibulan haram; maka katakanlah bahwa peperangan dibulan haram itu dosa besar

Didalam ayat tersebut ada taqdim (mendahulukan kalimat yang mestinya diakhir) dan ada ta-khir (mengakhirkan kalimat yang mestinya di awal). Maka pengertiannya "Mereka akan bertanya kepadamu (Hai Muhammad) tentang peperangan dibulan haram, boleh atau tidak? Katakanlah: "Peperangan didalam bulan haram itu dosa besar".

Dan perbuatan khianat dibulan haram itu lebih jelek, sebab kemuliannya bulan itu di sisi Allah ta'aalaa; sebagaimana taat dilipat gandakan pahalanya dibulan itu.

Dinamakan bulan haram, karena diharamkan berperang dibulan itu. Kemudian larangan perang dibulan itu dihapuskan dengan firman Allah ta'aalaa:

وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ

WAQTULUUHUM HAITSU TSAQIF TUMUUHUM = "Dan perangilah mereka itu dimana kamu jumpai".

Larangan berperang tetap dan dosa-dosanya diampuni dan ketaatan diterima serta pahalanya dilipat gandakan dibulan haram, karena suatu kebagusan disemua bulan dibalas dengan sepuluh yang setimpal. Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah ta'aalaa:

مَنْ جَاءَبِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ اَمْثَالِهَا

MAN JAA-A BILHASSANATI FALAHU 'ASYRU AMTSAALIHAA = "Barang siapa datang dengan satu kebaikan, maka baginya sepuluh balasan yang sepadan".

Didalam bulan Rajab tujuh puluh lipat, didalam bulan Sya'ban tujuh ratus kali lipat dan dibulan Ramadhan seribu kali lipat. Dan kelipatan balasan itu hanya khusus untuk umat ini / umat Muhammad. (Khaziinatul 'Ulamaa)

Nabi Besar Muhammad 'alaihish shalaatu was salaamu bersabda: 

اِنْ اَرَدْتُمُ الرَّاحَةَ وَقْتَ الْمَوْتِ مِنَ الْعَطْشِ وَالْخُرُوْجَ مَعَ الْإِيْمَانِ وَالنَّجَاةَ مِنَ الشَّيْطَانِ فَاحْتَرِمُوْا هٰذِهِ الشُّهُوْرَ كُلَّهَا بِكَثْرَةِ الصِّيَامِ وَالنَّدَمِ عَلٰى مَاسَلَفَ مِنَ الْآثَامِ وَاذْكُرُو اخَالِقَ الْاَنَامِ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ بِاسَّلَامِ.

IDZAA ARADTUMUR RAAHATA WAQTAL MAUTI MINAL 'ATHSYI WAL KHURUUJA MA'AL IIMAANI WAN NAJAATA MINASY SYAITHAANI FAHTARIMUU HAADZIHISY SYUHUURA KULLAHAA BIKATSRATISH SHIYAAMI WAN NADAMI 'ALAA MAA SALAFA MINAL AATSAAMI, WADZ KURUU KHAALIQAL ANAAMI TADKHULUU JANNATA RABBIKUM BISALAAMI.
Apabila kamu sekalian menghendaki ringan diwaktu mati dari siksanya dahaga dan keluarnya ruh dengan tetap beriman serta selamat dari tipu daya setan maka muliakanlah bulan-bulan tersebut dengan memperbanyak puasa dan menyesali dosa-dosa yang telah berlalu serta ingatlah selalu kepada Tuhan Allah Pencipta semua manusia, niscaya kamu akan masuk surga Tuhanmu dengan selamat.
(Zahratur Riyadhi)

Anas bin Malik radhiyallaahu'anhu berkata:
"Saya berjumpa Mu'adz bin Jabal radhiyallaahu'anhu, maka saya bertanya: "Dari mana engkau hai Mu'adz? Dia menjawab: "Saya datang dari Nabi 'alaihish shalaatu wassalaammu". Saya bertanya lagi: "Apa yang engkau dengar dari padanya?" Mu'adz menjawab: "Saya mendengar, bahwa barang siapa mengucapkan 
لَااِلٰهَ اِلَّااللّٰهُ
 LAA ILAAAHA ILLALLAAH dengan murni lagi ikhlas, maka dia masuk surga, dan barang siapa berpuasa satu hari dibulan Rajab dengan hanya berharap keridhaan Allah maka akan masuk surga". Kemudian saya pergi kepada Rasulullah, dan saya bertanya: "Wahai Rasulullah, sungguh Mu'adz telah memberitahu kepada saya begini begini". Beliau Nabi 'alaihish shalaatu wassalaamu menjawab "Betul apa yang dikatakan oleh Mu'adz".
(Zahratur Riyaadhi)

Ketahuilah sesungguhnya yang berikut akan dibacakan / diceritakan adalah dari sebagian qisah ringan / pendek dan kata-kata mulia/mutiara dari Nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad Rasulullah.

Rasulullah shallallaahu ta'aalaa 'alaihi wa sallama berkhutbah pada hari Nahar (Hari Raya Besar) diwaktu hajji perpisahan demikian:

اَلَا اِنَّ الزَّمَانَ قَدْاِسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضَ السَّنَةُ اِثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا اَرْبَعَةُ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَةٌ ذُوْالْقَعْدَةِ وَذُوْالْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرِّ اَلَّذِىْ بَيْنَ جُمَادَىْ وَشَعْبَانَ

ALAA INNAZ ZAMAANA QAD ISTADAARA KAHAI-ATIHI YAUMA KHALAQAS SAMAAWAATI WAL ARDHA, ASSANATU ITSNAA 'ASYARA SYAHRAN, MINHAA ARBA'ATUN HURUMUN, TSALAATSATUN MUTAWAALIYATUN DZUL QA'DATI, WA DZUL HIJJATI WAL MUHARRAMU WA RAJABU MUDHAR ALLADZII BAINA JUMAADAA WA SYA'BAANA
Ketahuilah sesungguhnya zaman itu telah beredar seperti geraknya pada hari Allah menciptakan tujuh langit dan bumi, satu tahun itu dua belas bulan, dari antara dua belas itu empat bulan yang dimuliakan: tiga bulan berurutkan yaitu, Dzul Qa'dati, Dzul Hijjati, Muharram, dan Rajab bulannya bani Mudhar yang jatuh antara Jumadats Tsaanii dan Sya'ban.

Artinya: "Bulan -bulan itu kembali seperti semula dan ibadah Haji itu juga kembali pada bulan Dzul Hijjah. Berarti pula bahwa zaman yang terbagi menjadi beberapa bulan dan beberapa tahun itu juga kembali seperti semula, dan tahunpun kembali keasal perhitungannya yang telah dipilih/ditentukan oleh Allah ta'aalaa pada hari Dia Allah menciptakan tujuh langit dan bumi, dan ibadah Haji juga kembali kebulan Dzul Hijjah sesudahnya orang-orang Jahiliyah menghapuskannya dari tempatnya/waktunya dengan mengakhirkannya yang mereka adakan baru. Pengakhiran itulah yang telah disebutkan oleh Allah ta'aalaa didalam kitabNya:

اِنَّمَاالنَّسِئُ زِيَادَةٌ فِى الكُفْرِ

INNAMAN NASII-U ZIYAADATUN FIL KUFRI = Sesungguhnya pengakhiran itu menambah didalam kekufuran
Artinya: mengakhirkan bulan yang diharamkan kepada bulan lain. Karena orang-orang pada zaman jahiliyah sama mengagungkan bulan-bulan yang diharamkan sebagai pusaka dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alai himash shalatu wassalaamu. Maka mereka mengharamkan peperangan didalam bulan -bulan tersebut. Kemudian mereka itu mengadakan pengunduran dan merubah bulan-bulan yang diharamkan. Sebab mereka orang-orang yang gemar berperang, maka bilamana telah datang bulan yang diharamkan sedang mereka dalam peperangan, sulit bagi mereka meninggalkannya, sehingga mereka menghalalkannya dan mengharamkan peperangan itu dibulan lain. Dengan dimikian mereka telah menghilangkan dan merubah bulan-bulan yang telah dikhususkan/ditetapkan haramnya. 

Maka meka mengharamkan empat bulan dari bulan-bulan umu. Hal itu tepat seperti yang difirmankan oleh Allah ta'aalaa:
لِيُوَاطِئُوْا عِدَّةَ مَاحَرَّمَ اللّٰهُ
LIYUWAATHI-UU 'IDDATA MAA HARRAMALLAAHU = Mereka itu melampaui bilangan apa-apa/bulan yang telah diharamkan oleh Allah.
Artinya: mereka itu menyesuaikan bilangan yang sebanyak empat bulan, sehingga mereka tidak menyalahi bilangannya; akan tetapi mereka telah menyalahi ketetapan yang merupakan salah satu dari pada dua kewajiban.

Oleh sebab itu mungkin terjadi mereka itu memperbanyak bilangan bulan-bulan menjadi tiga belas bulan dan atau menjadi empat belas bulan.

Diterangkan bahwa hal tersebut itu terjadi bagi suku kinanah, yang mereka itu merupakan suku yang fakir dan sangat berhajat kepada peperangan.

Junadah bin Auf Al-Kinany adalah seorang yang ditaati pada zaman jahiliyah. Pada musim tertentu dia berdiri diatas untanya sambil berkata dengan suara yang keras: "Sungguh tuhan-tuhan kamu sekalian telah menghalalkan/membolehkan (peperangan) dibulan yang diharamkan, maka halalkanlah olehmu sekalian. Akan tetapi pada bulan mendatang dia berdiri pula dan berkata: "Sungguh tuhan-tuhan kamu sekalian telah mengharamkan/mencegah (peperangan), maka hindarilah oleh kamu sekalian".

Mengakhirkan/mengundurkan (yang telah ditetapkan) menjadikan sebab tambahnya dalam kekufuran. Karena sesungguhnya orang kafir itu apabila berbuat durhaka berarti menambah kekufurannya:

فَزَادَتْهُمْ رِجْسًااِلٰى رِجْسِهِمْ

FA ZAADAT-HUM RIJSAN ILAA RIJSIHIM = Maka (kedurhakaannya) menambah kekufuran kepada kekufuran yang sudah ada pada mereka.

Sebagaimana seorang mukmin apabila bertaat, maka akan bertambah imannya,

فَزَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ

FA ZAADAT-HUM IIMAANAN WA HUM YASTABSYIRUUNA = Maka menambah mereka beriman, dan mereka juga bergembira. (Kasysyaafun). (Mereka menambah bulan itu) agar supaya kesempatan mereka lebih longgar. Untuk itu nash yang menetapkan bilangan bulan terdapat didalam Al-Qur'an dan Hadits.

Adapun yang didalam Al-Qur'an sebagaimana telah terdahulu yaitu firman Allah ta'aalaa INNA 'IDDATASY SYUHUURI (Al Ayyah)

Adapun yang di dalam Hadits, maka beliau Nabi Besar Muhammad alaihish shalaatu wassalaamu menerangkan bahwa 1 tahun itu ada 12 bulan dan 12 bulan itu diperhitungkan dengan jalannya matahari sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli kitab.

Dari antara bulan-bulan Qomariah ada bulan-bulan yang dimuliakan sebanyak 4: Zulkaidah Dzulhijjah dan Muharam. dan yang satu sendirian ialah bulan Rajab.

Di dalam hadis yang terdahulu bahwa bulan Rajab dimudhafkan/disandarkan kepada kalimat “Mudhar” (Nama suku), Karena suku Mudhar  sangat mengagungkan bulan Rajab dan memuliakannya dengan sangat.

Bagi orang di zaman Jahiliyah, pada bulan Rajab itu terdapat beberapa hukum. dari antaranya mereka mengharamkan peperangan di bulan itu, Sebagaimana telah diterangkan dahulu. maka haram nya terus berlaku pada permulaan zaman Islam.

Para Ulama berselisih pendapat mengenai kelangsungannya (diharamkannya perang dalam bulan Rajab).

Para Jumhur Ulama ( Mayoritas)  berpendapat bahwa hukum haramnya itu telah terhapus. mereka menggunakan dalil, bahwa para sahabat sesudah Nabi Alaihish shalaatu wassalaamu selalu sibuk membuka dan menyerang kota-kota/ negara-negara dan melanjutkan peperangan serta berjuang dan tidak ada keterangan dari salah seorang pun mengenai berhenti berperang dalam bulan-bulan Haram tersebut. Hal ini menunjukkan ijma' persepakatan mereka dalam nasakh/ penghapusannya.

Dari antara beberapa hukum, bahwa pada zaman Jahiliyah tradisi mereka memotong binatang yang mereka namakan “Atiirah”.

Para  Ulama berselisih pendapat mengenai “Atiirah”  itu sesudah Islam.

Sebahagian besar para Ulama berpendapat bahwa Islam telah membatalkannya. karena telah ditetapkan di dalam hadits Bukhari Muslim yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah radhiyallaahu ta’aalaa ‘anhu:
لَافَرَعَ وَلَاعَتِيْرَةَ
LAA FARA'A WA LAA 'ATIIRATA = Tidak boleh menyelenggarakan 'fara'a' dan 'atiirah'.

Fara’un ialah anak onta yang pertama dilahirkan. orang-orang Jahiliyah memotong anak onta itu untuk Tuhan Tuhan mereka  dan mereka mengambil berkah dengan anak onta itu.

Atiirah ialah binatang yang dipotong pada 10 hari yang pertama dari bulan Rajab dan korban itu dinamakan rajabiyah.

Dan adalah orang-orang jahiliyah bermaksud mendekatkan diri kepada Tuhan Tuhan mereka dengan perantaraan korban itu dan demikian juga orang-orang Islam pada mula pertamanya; kemudian korban dengan cara itu dinasakh atau dihapuskan dengan sebuah hadits yang berbunyi.
لَافَرَعَ وَلَاعَتِيْرَةَ
LAA FARA'A WA LAA 'ATIIRATA = Tidak boleh menyelenggarakan 'fara'a' dan 'atiirah'.

Diriwayatkan bahwa Hasan Radhiyallahu ‘anhu berkata: “ tidak ada di dalam Islam acara ‘Atiirah’ dan adanya ialah pada zaman Jahiliyah: seseorang melakukan puasa di bulan Rajab kemudian mengadakan acara Atiirah yang waktu memotongnya itu dijadikan hari besar.

Diriwayatkan dari Thawus radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi 'alaihish shalaatu was salaamu bersabda:
لَا تَتَّخِذُوْا شَهْرًا عِيْدًا وَلَا يَوْمًا عِيْدًا
LAA TATTAKHIDZUU SYAHRAN 'IIDAN WA LAA YAUMAN 'IIDAN
Janganlah kamu sekalian jadikan bulan sebagai hari besar dan jangan pula suatu hari dijadikan hari besar.

Pada pokoknya, bahwa sesungguhnya orang-orang islam itu tidak dibolehkan menjadikan suatu waktu sebagai hari besar kecuali yang telah ditetapkan oleh syariat. yaitu dalam satu minggu jatuh pada hari Jumat dan 1 tahun jatuh pada hari raya Idul Fitri hari raya Idul Adha dan pada hari-hari Tasyrik ( tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah).

Adapun selain Yang tersebut itu, maka hari besar yang diadakan ialah Bid'ah yang tidak berpangkal pada syariat Nabi Muhammad. bahkan hari besar Fara’ah atau Atiirah adalah hari-hari besar orang musyrikin (orang-orang yang menyekutukan Allah).

Orang-orang musyrik itu mempunyai hari-hari besar yang dikaitkan dengan masa-masa tertentu atau tempat-tempat tertentu.

Tatkala Islam datang, maka Allah telah membatalkan semuanya dan menggantinya: yang berkaitan dengan masa masa tertentu diganti dengan hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik, sedang yang berkaitan dengan tempat diganti Ka'bah, Arafat, Mina dan Muzdalifah. mudah-mudahan Allah ta'ala memudahkan bagi kita sekalian untuk mengunjungi tempat-tempat atau kota-kota tersebut.

Maka tidak satu musim pun atau masa pun dan tidak ada satu tempat pun yang tersebut, melainkan di dalamnya sudah ada tugas-tugas yang di tertuju kepada Allah dan menunjukkan ketaatan kepadaNya dan bertaqarrub kepadaNya, Dan keharuman kasih yang dilimpahkan oleh Allah kepada siapa yang dikehendaki olehNya dengan fadhal dan anugerahNya serta rahmat dan kasih sayangNya.

Orang yang berbahagia ialah siapa yang bisa mengambil keuntungan di dalam masa-masa tersebut dan di tempat-tempat tersebut serta bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah ta'ala sebagai Pemimpinnya dengan segala macam perbuatan ibadah yang telah disyariatkan atau diperintahkan olehNya, sehingga bisa memperoleh keharuman pahalanya yang akan menyelamatkannya dari siksa neraka.

Adapun mengenai berpuasa di dalamnya (bulan Rajab), maka sesungguhnya telah banyak hadits yang menerangkan kesunahannya.

Diantaranya: seperti hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi di "Syu'bil Iimaani" dari Anas radhiyallaahu 'anhu bahwa beliau Nabi alaihish shalaatu wassalaamu bersabda: 
فِى الْجَنَّةِ نَهْرٌ يُقَالُ لَهُ رَجَبٌ اَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَاَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَبٍ سَقَاهُ اللهُ تَعَالٰى مِنْ ذٰلِكَ النَّهْرِ
FIL JANNATI NAHRUN YUQAALU LAHU RAJABUN, ASYADDU BAYAADHAN MINAL LABANI WA AHLAA MINAL 'ASALI, MAN SHAAMA YAUMAN MIN RAJABIN SAQAAHULLAAHU TA'AALAA MIN DZAALIKAN NAHRI

Di dalam surga terdapat sebuah sungai yang disebut sungai Rajab, yang airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. barangsiapa berpuasa 1 hari di dalam bulan Rajab, maka akan diberi minum oleh Allah dengan air dari sungai itu. Ini adalah berpuasa di sebahagiannya.

Adapun berpuasa di dalam bulan itu (bulan Rajab) sepenuh bulan maka tidak boleh dengan kekhususannya sesuatu dari Nabi Alaihish shalaatu wassalamu dan juga tidak dari para sahabatnya. Hanya saja ada hadis yang menerangkan puasa di bulan-bulan Haram seluruhnya dan satu dari antaranya ialah Rajab, maka semestinya tidak dilarang berpuasa di bulan Rajab itu.

Telah diriwayatkan bahwa Abu qilabah radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya di dalam surga terdapat 1 istana untuk mereka yang berpuasa bulan Rajab.

Kata Baihaqi: "Sesungguhnya Abu qilabah itu termasuk orang besar dari golongan Tabi'in dan dia tidak mengatakan seperti itu kecuali hanya menyampaikan dari orang yang lebih tinggi daripada nya dari orang atau sahabat yang mendengar dari Nabi alaihish shalaatu wassalaamu.

Memang telah diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas telah menghukumi makruh berpuasa di bulan Rajab sepenuhnya dan Imam Ahmad juga memakruhkan nya, dan dia mengatakan; hendaklah berbuka 1 hari atau 2 hari di dalam bulan Rajab itu", dan dia meriwayatkannya dari Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum akan tetapi hukum makruh nya itu bisa hilang bila puasanya bulan Rajab juga beserta dengan bulan lainnya.

Al Mawardi di dalam Kitab Iqna'nya berkata: "disunahkan berpuasa bulan Rajab dan bulan Sya'ban".

Adapun mengenai salat (sunah) di bulan Rajab, maka tidak ada ketetapan yang khusus mengenai hal itu Sebagaimana telah kami Terangkan terdahulu. (Dari Majaalisul Ruumy)

Kata Ibnu Hamam rahmatullahi ta'ala 'alaihi: "Keragu-raguan yang terjadi di antara wajib dan bid'ah, maka lebih hati-hati nya ialah mengerjakannya, dan keraguan terjadi di antara sunnah dan bid'ah, maka yang lebih baik ialah meninggalkannya, karena meninggalkan bid'ah itu harus dan mengerjakan sunnah itu tidak harus; maka salat untuk bulan Rajab itu termasuk sesuatu yang diragukan antara sunnah dan bid'ah. Oleh karena itu jelas lebih baik meninggalkannya dan tidak boleh mengerjakannya sendirian ataupun dengan berjamaah karena berjamaah termasuk bid'ah juga. (Keterangan ini dari Majalisur Ruumy di bab lain)

Telah diriwayatkan bahwa Abu Bakar Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata: "Apabila telah berlalu sepertiga malam di bulan Rajab pada awal Jum'at. maka para malaikat dilangit dan dibumi semua berkumpul di Ka'bah; dan Allah ta'aalaa melihat mereka sambil berfirman: "Hai para malaikat-Ku, mintalah kamu sekalian sekehendakmu!". Mereka berkata: "Wahai Tuhan kami, hajat kami ialah agar supaya Engkau mengampuni orang yang berpuasa bulan Rajab" Dia Allah ta'aalaa berfirman:  "Sungguh mereka telah Aku ampuni"

Siti Aisyah radhiyallaahu 'anhu berkata: "Nabi 'alaihish shalaatu wassalaamu bersabda:
كُلُّ النَّاسِ جُيَّاعٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اِلَّا الْأَنْبِيَاءَ وَاَهْلِيْهِمْ وَصَائِمَ رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَرَمَضَانَ فَاِنَّهُمْ شُبَّاعٌ لَاجُوْعَ لَهُمْ وَلَاعَطْشَ
KULLUN NAASI JUYYAA'UN YAUMAL QIYAAMATI ILLAL ANBIYAA-A WA AHLIIHIM WA SHAA-IMA RAJABIN WA SYA'BAANA WA RAMADHAANA FA IN-NAHUM SYUBBAA'UN LAA JUU'A LAHUM WA LAA 'ATHSYA
Semua manusia besok di hari kiamat semua lapar, kecuali para Nabi dan para Ahlinya dan orang yang berpuasa di bulan Rajab, bulan Sya'ban dan di bulan Ramadan. Maka sesungguhnya mereka itu semua kenyang dan tidak merasa lapar dan dahaga.
(Zubdatul Waa'izdiina)

Telah diceritakan, bahwa seorang wanita di Baitul Maqdis, seorang ahli ibadah, ketika datang bulan Rajab dia membaca:
قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ
QUL HUWALLAAHU AHAD = "Katakanlah bahwa Dia adalah Allah Yang Maha Esa" 11 kali setiap hari sebagai penghormatan dan memuliakan bulan Rajab itu. Dan dia menanggalkan pakaian kebesarannya dan mengenakan pakaiannya yang biasanya.
Di bulan Rajab si wanita itu sakit dan berwasiat kepada anaknya, agar supaya dia menguburkannya dengan pakaian yang biasa saja.
Akan tetapi anaknya mengkafaninya/ membungkusnya dengan kain yang tinggi nilainya hanya karena riya' (agar dilihat dan disanjung manusia).
Pada suatu malam dia bermimpi melihat ibunya dan ibunya berkata: "Hai anakku, mengapa engkau tidak melaksanakan wasiatku, maka saya tidak rela terhadap kamu".
Maka dia terbangun dan terkejut takut dan kemudian membongkar kubur ibunya, namun tidak dia dapatkan didalam kubur, sehingga dia bingung dan menangis keras sekali. Disaat itu dia mendengar suara yang mengatakan: "Tidaklah engkau ketahui, bahwa sesungguhnya barang siapa memuliakan bulanKu bulan Rajab, maka dia tidak ditinggalkan didalam kubur sendirian?" 
(Zubdatul Waa'izdiina)
 
;