Jumat, 10 April 2020 0 komentar

17 Sya'ban 1441 H (10 April 2020)

بسم الله الرّحمن الرّحيم


  1. Sesungguhnya dalam setiap pertemuan itu selain ada interaksi yang terlihat, sejatinya manusia akan ada interaksi rasa yang hanya dapat dirasakan oleh orang khusus. (13:52 WIB)
  2. Sesungguhnya Allah SWT itu berbicara mengenai hukum dan ketetapan, tidak berdasarkan apa yang menjadi perasaan. (13:56 WIB)
  3. Harusnya manusia bertauhid dahulu sebelum melaksanakan hukum-hukum Allah SWT, bukan sebaliknya melaksanakan hukum-hukum Allah SWT tetapi tidak berdasarkan ketauhidannya. (13:59 WIB)
  4. Hendaknya manusia yang melaksanakan hukum itu memiliki tauhid dan terbuka mata basyirahnya, karena dalam memutuskan perkara-perkara hukum terkadang mata lahiriyah ini dapat tertipu dan menjadi sangka buruk terhadap orang lain. (14:00 WIB)
  5. Sesungguhnya antara akal dan hati itu terhijab seperti perjalanan 500 tahun, dan begitu pula dari hati kepada ruh. (14:06 WIB)
  6. Sesungguhnya orang yang tidak memiliki ilmu itu dia akan merasa sendirian, kesepian dan stress. (14:2 WIB)
  7. Manusia itu menjadi tidak mulia disebabkan dalam kehidupannya dia sibuk dengan urusan-urusan yang tidak berharga, mana mungkin sesuatu yang tidak berharga itu menjadikan kemuliaan bagi yang memilikinya. (14:32 WIB)
  8. Sesungguhnya yakin itu mudah, namun yakin tanpa ibadah dia tidak akan mampu meyakini. (14:37 WIB)
  9. Sedikitnya ibadah orang yang berilmu itu lebih tinggi kedudukannya daripada orang yang banyak ibadaha namun dalam kebodohan. (14:51 WIB)
  10. Sesungguhnya letak niat dalam melaksanakan suatu hal ibadah itu adalah kunci, sedangkan ibadah yang rutin tanpa ada niat atau keinginan hendak menghadap kepada Tuhannya, niscaya akan tertolak. (14:53 WIB)
  11. Tanda-tanda orang yang miskin adalah tidak ada keinginan untuk berdoa, sehingga banyak hal yang selain urusan dengan Tuhannya. (15:08 WIB)
  12. Orang yang berdzikir dengan Tuhannya, dia akan sibuk mengingat dan banyak berdoa kepada Tuhannya. (15:10 WIB)
  13. Tidak ada doa yang lebih hebat melainkan hanya didalam sholat, tidak ada tasbih yang lebih hebat melainkan hanya didalam sholat, dan tidak ada sholawat yang lebih hebat melainkan hanya di dalam sholat. (15:20 WIB)
  14. Sesungguhnya didalam sholat itu mengandung banyak sekali doa didalamnya, dan tidaklah orang yang melakukan sholat apabila dia tidak memahami apa yang dibacanya, dan mengamalkan apa yang menjadi bacaannya. (15:26 WIB)
  15. Sedikit kamu mengetahui ilmu dan amal tetapi memahaminya dan sungguh-sungguh didalamnya itu lebih baik daripada banyak ilmu yang kamu tulis dan banyak amal yang kamu lakukan tetapi dalam kebodohan. (15:33 WIB)
  16. Keterlibatanmu dalam urusan Gurumu itu pasti tidak akan terlepas dari urusan dengan Tuhanmu. (15:38 WIB)
  17. Orang berdoa itu sesuai dengan niatnya, dan tidak ada satu doa itu tidak mengandung unsur meminta, dan hendaknya orang berdoa mengetahui apa yang diminta, sungguh dalam kelalaian orang yang berdoa tetapi tidak mengetahui apa yang menjadi permintaannya. (15:46 WIB)
  18. Janganlah kamu memaksakan kehendakmu kepada Tuhanmu yang sesungguhnya dirimu tidak mampu didalamnya, maka bersabarlah dalam menerima takdir Allah SWT. (15:55 WIB)
  19. Ujian sesungguhnya itu adalah didalam keimanan, yakni saat kamu diberikan taubat oleh Allah SWT apakah kamu mampu menjaga taubatmu atau tidak. (15:57 WIB)
  20. Sesungguhnya manusia itu cukuplah dia berusaha namun tidak memutuskan, karena keputusan itu letaknya pada Allah SWT. (15:59 WIB)
  21. Janganlah kamu bersedih atas kejadian yang buruk dalam hidupmu, tetapi sedihlah apabila kamu tidak bisa berdoa kepada Allah SWT. (16:03 WIB)
  22. Sesungguhnya disebut mengaji itu bukanlah kamu datang rutin dalam majelis, tapi setiap saat kamu menjaga waktu untuk selalu berbuat baik dan menambahkan kebaikan. (16:05 WIB)
  23. Amal yang tidak tertulis adalah mereka yang beramal karena manusia, dan amal yang tertulis adalah amal yang dilaksanakan semata karena Allah SWT. (16:06 WIB)
  24. Sesungguhnya orang yang beriman itu akan selalu digembirakan oleh Allah SWT, tidak ada kegelisahan hatinya. (16:09 WIB)
  25. Penuhilah urusan dengan Tuhanmu niscaya urusanmu juga akan dipenuhi, dan orang yang serba kekurangan didunia ini disebabkan memang dia banyak mengurangi dengan urusan Tuhannya. (16:10 WIB)
  26. Sesungguhnya manusia itu selalu merugi, tetapi yang beriman itu tidak akan pernah rugi dan selalu beruntung setiap waktunya. (16:10 WIB)
  27. Sesungguhnya rencana Allah SWT itu adalah perintah Allah SWT, dan perintahNya adalah sebuah derajat, ampunan, keuntungan yang sangat besar dan sedikit sekali yang mengetahuinya. (16:13 WIB)
  28. Sesungguhnya apabila manusia menyadari setiap ibadah itu adalah bentuk pengampunan maka manusia pasti akan merasa cukup. (16:14 WIB)
  29. Manusia yang beribadah mengetahui akan ampunan Tuhannya, niscaya dia akan menghilangkan segala aspek kepentingan selain Allah SWT. (16:15 WIB)
  30. Jadikanlah setiap amal ibadahmu kepada Allah SWT sekecil apapun sebagai bentuk meminta ampun. (16:17 WIB)
Selasa, 07 April 2020 0 komentar

Kisah Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Tangannya Terjepit

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Seperti biasa salah satu muhibbin beliau menutupkan pintu mobil setelah beliau masuk. Setelah mobil berjalan beberapa jauh (dari tempat tersebut), tiba-tiba beliau meminta kepada sopirnya untuk berhenti sejenak di jalan. Beliau berkata kepada Al Habib Ali Zainal Abidin Al jufri:

"Yaa Ali.. Lihatlah.. Bukakan pintu ini..!!"

Tiba-tiba Al Habib Ali sangat kaget ketika membukakan pintunya, melihat tangan beliau terjepit pintu mobil selama mobil berjalan dari tadi dan darah berkucuran dari tangan beliau.

Kemudian orang-orang di dalam mobil bertanya:

“Kenapa wahai Habib engkau tidak bilang dari tadi (kalau tangannya terjepit pintu mobil)?”

Beliau menjawab:

“Tidak, aku tidak akan membuat hati dia (si muhibbin yang menutup pintu mobilnya) merasa bersalah, aku tidak ingin dia tahu bahwa dia telah membuat tanganku terjepit mobil sedangkan dia tidak sengaja dan akan membuat dia sedih setelah membuat tanganku terjepit hingga berkucuran darah."
Senin, 06 April 2020 0 komentar

Makam Sayyid Abdurrahman Al-Makhdum (Sunan Makdum)

بسم الله الرّحمن الرّحيم



Sunan Makdum dengan nama lengkap Sayyid Abdurrahman Al Makhdum adalah salah seorang ulama berasal Timur Tengah yang telah diberikan mandat dari Khalifah Kerajaan Istanbul Turki. Yaitu Sultan Muhammad ke-1. Sultan Muhammad ke-1 menjadi salah satu raja sangat kaya di antara raja-raja Islam lainnya dengan andil besar dalam penyebaran ajaran Islam Nusantara. Salah satunya ada di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Sunan Makdum telah berdakwah sembari berdagang di Semenanjung Malaya serta di sekitar pulau Sumatera, Madura dan Jawa. Kepada Sultan Muhammad ke-1. Sunan Makdum melaporkan bahwa sebagian penduduk sudah memeluk agama Islam. Tetapi pulau Jawa masih belum banyak sebab masih di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit bagi Jawa di bagian timur. Serta tengah dan Kerajaan Pajajaran untuk kawasan Jawa sebagian barat.

Sunan Makdum merupakan seorang ulama yang gigih untuk menyebarkan agama Islam di Nusantara. Karenanya, Sunan Makdum banyak memiliki pengikut dan murid. Setelah misinya menyebarkan agama Islam di kawasan Pasai dirasa cukup. Sunan Makdum atau lebih dikenal Sayyid Abdurrahman pergi ke Pati sampai akhir hayat serta jasadnya dimakamkan di Desa Parenggan, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati yang kini berada di sekitar Jalan Dr. Susanto Pati.








Sabtu, 04 April 2020 0 komentar

Video Qasidah Thala'al Badru 'Alaina (Syeikh Ali Qudur)

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Video Qosidah Thala'al Badru 'Alaina
Cuplikan diambil dari video dokumentasi malam 17 Ramadhan 1432 H / 2011 M
Bersama Syeikh Ali Qudur (Makkah) dan para Habaib dan Masyayikh.









Jumat, 03 April 2020 0 komentar

10 Sya'ban 1441 H (3 April 2020)

بسم الله الرّحمن الرّحيم

  1. Puncak anugerah Ilahiyah terbagi menjadi 3, 
    1. Kesungguhan dalam mencari
    2. Penghadapan diri yang baik
    3. Niat yang benar. (13:57 WIB)
  2. Niat itu merupakan ruh dari sebuah amal, dan barangsiapa bersungguh-sungguh dalam pencarian niscaya dia akan mendapatkan, dan rentang waktu dalam pencarian itu tidak ada waktu pastinya. (13:59 WIB)
  3. Bentuk kesungguhan dalam mencari ilmu adalah kamu fokus, dan melebihkan perhatianmu daripada hal yang lain. (14:00 WIB)
  4. Proses manusia dalam belajar adalah dia mengerti tulisan itu, lalu mengetahui artinya, lalu belajar maknanya, baru kemudian mencari isi darinya, barulah kita mengetahui betapa besar dan beratnya mendapatkan ilmu itu. (14:02 WIB)
  5. Apabila manusia itu mengetahui akan kebutuhan ilmunya, maka dia akan menganggapnya sebagai kebutuhan, dan ilmu sebagai penentuan nasib apakah masuk surga ataukah neraka nantinya. (14:19 WIB)
  6. Sesuatu yang mengerti sebuah kebaikan dan kedudukan kebaikan tersebut pastilah dia akan melaksanakannya. (14:30 WIB)
  7. Sesungguhnya apa yang menjadi keuntungan dari setiap perintah Allah itu pastilah ada kemuliaan yang tersembunyi didalamnya. (14:31 WIB)
  8. Suatu kebaikan yang ditunda atau dibatalkan atau ditempatkan pada hal lain, maka itu pasti akan terhalang, dan semua aspek kehidupannya akan terhalang. (14:32 WIB)
  9. Apabila seorang hamba itu berjalan menuju kepada Tuhannya dengan banyak istighfar, niscaya maghfirah Allah akan mampu memadamkan segala kemarahan Allah, menghapus segala doa-doanya. (14:35 WIB)
  10. Tidak ada kemuliaan atau sesuatu yang besar tanpa memiliki sebuah resiko yang besar juga. (14:39 WIB)
  11. Besarnya cita-cita juga akan besar pula halangan dan resiko yang akan dialami, sehingga apabila patah di tengah jalan, maka menjadi orang yang putus asa
  12. Orang yang putus asa terhadap Tuhannya disebabkan dia tidak memiliki keinginan yang kuat pada Tuhannya dan selalu bersangka buruk terhadap Tuhannya. (14:15 WIB)
  13. Orang yang bodoh itu selalu melihat orang lain, dan mencari keburukan orang lain, dan tidak sadar akan keburukan dirinya. (14:46 WIB)
  14. Orang yang cerdas dia tidak akan sibuk dengan keburukan orang lain, karena dia tahu kalau dirinya lebih buruk hanya saja Allah SWT menutupi keburukannya. (14:17 WIB)
  15. Berbuatlah baik setiap ada kesempatan, dan jangan ikuti mereka yang sibuk dengan kehidupannya tapi lupa akan akhiratnya. (14:49 WIB)
  16. Ketahuilah keburukan atau hal buruk yang terlihat dihadapan kita sebetulnya adalah bentuk ilmu dan pembelajaran yang sangat bagus untuk mengenal diri. (14:51 WIB)
  17. Orang yang bijak dia akan selalu belajar, dan banyak mendengar daripada berbicara. (14:53 WIB)
  18. Orang yang bodoh pasti akan banyak bicara, supaya mendapatkan perhatian dari orang-orang yang mendengar, agar terlihat dan termasuk orang yang pandai, padahal tidak ada isinya sama sekali, dan terpeleset dari ucapannya karena ucapan yang tidak memiliki dasar ilmunya. (14:54 WIB)
  19. Seseorang apabila dia merasa penuh dia pasti tidak akan mau bertanya mengenai ilmu, padahal orang yang pandai dia selalu lapar dengan ilmu dan ingin belajar. (14:57 WIB)
  20. Iblis itu selalu membuat manusia itu lupa akan kesalahannya, dan sibuk mencari kesalahan orang lain. (15:01 WIB)
  21. Hiduplah sebagai musafir didunia ini, kamu datang sendirian dan pergi akan sendirian menghadap kepada Tuhanmu, hitunglah amalmu sendiri jangan sibuk mengurusi amal orang lain. (15:03 WIB)
  22. Persiapkanlah diri kita dan waspada, yaitu mempersiapkan apa yang akan menjadi bekal menghadap kepada Tuhanmu. (15:06 WIB)
  23. Sesungguhnya tingkat syukur yang paling tinggi adalah menikmati sesuatu didalam kesusahan. (15:12 WIB)
  24. Barangsiapa yang lemah lembut niscaya dia akan terinjak-injak, namun barangsiapa keras tidak akan ada orang yang mau bergaul dengannya. (15:15 WIB)
  25. Sesungguhnya selemah-lemah iman adalah menyingkirkan duri dari jalan, yaitu bukan bentuk mencari durinya, namun lebih kepada sifat kepeduliannya terhadap orang lain. (15:18 WIB)
  26. Sesungguhnya kalimat tauhid itu mudah di ucapkan namun sulit untuk dikerjakan. (15:19 WIB)
  27. Rasulullah SAW bersabda: Apabila ditengah suatu kaum ada maksiat, namun orang yang tidak melaksanakannya lebih banyak dan lebih kuat namun tidak mencegahnya, maka Allah SWT akan menghukumnya secara merata. (15:20 WIB)
  28. Sesungguhnya agama itu adalah pondasi dasar kehidupan, tiangnya adalah sholat. (15:24 WIB)
  29. Dengan pengetahuan agama itu manusia membuat benteng-benteng perisai yang akan melindungi diri dan keimanannya, dan janganlah kamu menyesal di masa tuamu, karena kamu tidak memiliki kesempatan lagi dalam memperbaiki segalanya. (15:26 WIB)
  30. Barangsiapa yang menyampaikan agama dengan tidak ikhlas, maka nasehatnya hanya akan sampai di bibir saja tetapi tidak akan sampai kepada hatinya. (15:33 WIB)
  31. Barangsiapa menyampaikan nasehat Allah SWT dengan hati dan bersama dengan Allah SWT, niscaya setiap nasehat itu akan masuk kedalam hati setiap orang yang mendengarnya. (15:34 WIB)
  32. Tidak ada kebenaran itu selain di sisi Allah SWT, maka carilah kebenaran di sisi Allah SWT bukan dari sisi yang lainnya. (15:38 WIB)
  33. Ilmu itu terbagi menjadi 2, yaitu ilmu yang sudah berpusat kepada Nabi Muhammad SAW atau memiliki nasab, ilmu yang seperti ini tidak memerlukan Guru yang lain. Dan yang satunya adalah ilmu yang harus dipelajari dan dengan usaha. (15:50 WIB)
  34. Sesungguhnya orang yang menjadi waliyullah adalah mereka yang paham dengan ilmu-ilmu, sehingga mampu mengaplikasikannya. (15:58 WIB)
  35. Segala sesuatu amal itu hendaknya dilaksanakan dengan memiliki ilmu yang di iringi dengan riyadhah, dan memerlukan waktu yang lama dalam pengenalan diri. (16:02 WIB)
  36. Orang yang bodoh itu mengambil contoh orang yang pandai, janganlah mengambil contoh sesama orang yang bodoh. Tetapi orang yang pandai dia akan mengambil contoh orang yang lebih pandai lagi. (16:09 WIB)
  37. Barangsiapa yang benar-benar menuntut ilmu, pastilah dia akan menjadi ilmuwan sekalipun dia tidak memiliki gelar. (16:10 WIB)
Selasa, 31 Maret 2020 0 komentar

Kisah Ayyub As-Sakhtiyani r.a (Tabi'in)

بسم الله الرّحمن الرّحيم

“Ayyub adalah pemimpin para pemuda Bashrah….(Hasan al-Bashri)

Seorang pemuda, pemimpin ahli ibadah yang disinari dengan cahaya keyakinan dan iman. Ayyub bin Kaisan As-Sakhtiyani bergelar Abu Bakar al-Bashri adalah seorang ahli Fiqh yang kaya Hujjah, ahli ibadah haji, pemilik akhlak yang selalu berteman dengan kebenaran

Begitulah Abu Nuaim menggambarkan sifatnya. Dia sangat teguh pada keislamannya dan selalu berteman dengan orang-orang pilihan. Ia pernah meletakan tangannya diatas kepalanya lalu berkata,”Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari syirik. Tak ada diantara kami kecuali Abu Tamimah (Ayahnya).”

Humaidi berkomentar, “Sufyan bin Uyainah menemui 86 Tabi’in. Dia berkata.”aku tidak melihat seorangpun seperti Ayyub.”

Hisyam bin Urwah berkata,”Aku tidak pernah melihat orang Bashrah seperti Ayyub.”

Ayyub tak melupakan nikmat Allah. Dia tidak henti-hentinya bersyukur dengan lisan dan anggota tubuhnya. Dia seorang berilmu, beramal dan khusyuk. Begitulah Malik mengomentarinya.

Suatu ketika Ayyub melakukan perjalanan bersama rombongannya. Ketika mereka tiba disuatu tempat, tiba-tiba seorang laki-laki berbadan besar, berpakaian kasar dari kain katun berkata,”Apakah diantara kalian ada yang mengetahui Ayyub bin Abi Tamimah?”

Salah seorang dari rombongan segera memberi tahu Ayyub. Ketika bertemu, keduanya segera berpelukan. Ternyata laki-laki yang baru datang itu adalah Salim bin Abdullah bin Umar bin Khathab.

Ayyub mempunyai kedudukan tinggi dikalangan orang-orang shalih. Ia dicintai, baik oleh kalangan umum maupun tokoh masyarakat. Suatu ketika, ia menemui Hasan al-Bashri dan menanyakan sesuatu. Ketika dia berdiri, dengan bangga Hasan al-Bashri berkata, ”Ini pemimpin para pemuda”.

Ubaidillah bin Umar selalu ingin bertemu dengan orang-orang dari Irak ketika tiba musim Haji. Ketika ditanya tentang hal itu, ia berkata,”Demi Allah, dalam setahun aku tak pernah segembira kecuali ketika tiba musim haji. Aku bisa bertemu dengan oran-orang yang hatinya telah disinari oleh Allah dengan cahaya iman. Jika melihat mereka, hatiku tenang. Diantaranya mereka adalah Ayyub!”

Demikianlah kedudukan Ayyub dimata orang-orang shalih. Apakah semua itu didapat dengan cara mudah? Tidak! Ia mendapatkannya dengan menjauhi banyak diam, selalu melakukan perjalanan, bergabung dengan oran-orang shalih yang terpilih, mengurangi tidur dan menghindari orang-orang jahat.

Ayyub selalu bangun malam tanpa memamerkannya pada orang lain. Ketika waktu shubuh datang, ia meninggikan suara bacaannya seolah ia baru bangun. Ayyub sering melaksanakan ibadah haji. Bahkan disebutkan ia sempat berhaji 40 kali

Ibadah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi sangat membekas di hati, menyucikan jiwa dan membersihkan kotoran-kotoran ibadah. Ia mentauhidkan Allah dengan ketaatan. Ketika dia keluar menemui oran-orang, nampaklah hal itu diwajahnya.

Ayyub mempunyai hati yang lembut. Bahkan sangat lembut. Malik menuturkan bahwa ia sering menemui Ayyub. Ketika ia memaparkan tentang hadis Nabi, ia selalu menangis. Malik berkata,”Kami kadang merasa kasihan melihatnya. Ketika hal itu terjadi, ia mengaku sedang kena Flu. Padahal, ia tidak sedang flu, tapi karena menahan tangisnya.”

Suatu ketika ada yang melihatnya berdiri dekat makam Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin dalam keadaan menangis. Sesekali ia melihat kesana kemari.

Kelembutan hati merupakan tanda penerimaannya terhadap sang Pencipta. Sibuk dengan ketaatan padaNya merupakan cara membersihkan hati dari segala kotoran. Bagaimana hati Ayyub tidak lembut kalau dia selalu menyibukkan dirinya dengan perkataan-perkataan baik.

Jamaah yang menghadiri majelisnya memintanya untuk terus berbicara. Ia berkata,”Cukup. Seandainya aku memberitahu kalian apa yang kuucapkan hari ini, tentu aku akan lakukan.” Ini menunjukan bahwa ia berkata sedikit dan mampu membatasi perkataannya.

Shalih bin Abil Akhdhar berkata,”Aku berkata kepada Ayyub, berilah aku wasiat!’Dia menjawab, sedikitkan bicara!”

Ayyub juga seorang ahli zuhud yang benar-benar mengetahui makna zuhud. Dalam sebuah ungkapannya ia berkata,”Zuhud di dunia ada tiga: Yang paling dicintai paling tinggi disisi Allah dan paling besar pahalanya adalah zuhud dalam ibadah kepada Allah dan tidak menyembah selainNya, baik raja, patung, batu maupun berhala. Kemudian zuhud terhadap apa yang diharamkan Allah dari mengambil atau memberi sesuatu. Lalu ia menemui orang-orang dan berkata,”Zuhud kalian wahai sekalian Qurra (ahli membaca al-Qur’an). Demi Allah, paling khusus bagi Allah, yaitu zuhud dalam hal yang dihalalkan Allah.

Simaklah ungkapan Hamad bin Zaid yang memberikan gambaran tentang pribadi Ayyub,”Seandainya kalian memberinya minum, kalian tak akan bisa. Dia mempunyai makanan cukup, minuman banyak, pakaian indah, penutup kepala bagus, celana kurdi yang baik dan selendang yang indah.”

Ayyub tidak membuat-buat seolah dirinya zuhud dengan tampilan miskin. Dalam hal ini, Ayyub menggabungkan antara kezuhudan dan kekayaan dalam bingkai ikhlas. Ia seorang Tawadhu dan jauh dari keinginan untuk terkenal.

Hamad bin Zaid memaparkan tentang kezuhudannya ketika menemaninya berjalan.”suatu saat Ayyub melewati jalan yang jauh (padahal ada jalan pintas).
”Lewat sini lebih dekat,”kata Hamad.
”Aku menghindari majelis ini, ” jawab Ayyub.
”Hal itu disebabkan ketika Ayyub memberi salam, mereka menjawab lebih dari mereka menjawab salam pada orang lain. Ayyub berkata,”Engkau tahu, saya tidak menyukai hal ini.”

Di Antara contoh ketawadhuannya, ketika ditanya dan dia tidak bisa menjawabnya, maka ia mengatakan,”Tanyakan pada Ulama!”Dia pun biasa menjawab,” Belum sampai padaku masalah ini!.”

Orang-orang pun mendesaknya,”katakan menurutmu!”

” Belum sampai padaku masalah ini!.”jawabnya.

Ayyub juga dikenal murah senyum dan ramah. Ia juga selalu menepati janjinya. Syu’bah berkata,”aku tidak pernah membuat janji dengan Ayyub kecuali ketika akan berpisah ia selalu berkata,”tidak ada antara kita janji.”
Namun, ia selalu datang lebih dulu.

Ketika ada yang baru mendapatkan anak, Ayyub memberi ucapan selamat,”Semoga Allah memberikan keberkahan padamu dan Umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.”

Ketika wabah Kolera menyebar pada 131 Hijriyah, Allah pun mewafatkannya. Ia meninggalkan Bashrah dan dunia seisinya...Semoga Syurga Allah Menantinya...Amien

Sumber:
Shuwar min Siyar at-Tabi’in, Azhari Ahmad Mahmud
Siyar A’lam at-Tabi’in, Shabri bin Salamah Syahin
Jumat, 27 Maret 2020 0 komentar

3 Sya'ban 1441 H (27 Maret 2020)

بسم الله الرّحمن الرّحيم


  1. Tawakkal itu adalah bentuk keimanan yang telah dikekalkan, ikhtiar adalah satu bentuk yang harus berusaha. (16:01 WIB)
  2. Tidaklah disebut takdir apabila terjadi karena tidak adanya ikhtiar, tetapi sebuah kebodohan, hendaknya dia memilih takdir yang lain dengan berusaha terlebih dahulu. (16:02 WIB)
  3. Barangsiapa tidak berusaha dan memperhatikan nasehat-nasehat janganlah kamu berharap hasil yang baik. (16:03 WIB)
  4. Sesungguhnya musibah itu bencana bagi orang munafik, dan rahmat bagi orang yang beriman. (16:04 WIB)
  5. Sesungguhnya orang yang selamat dari musibah adalah mereka yang selalu menuruti perintah, dan nasehat himbauan yang telah diberikan. (16:06 WIB)
  6. Sesungguhnya musibah itu ditimpakan kepada mereka yang meremehkan nasehat dan tidak mentaati apa yang telah dinasehatkan. (16:07 WIB)
  7. Sesungguhnya orang yang Islamnya hanya ikut-ikutan dia tidak akan memahami apa yang di amalkannya, banyak dari mereka membaca tetapi tidak memahami apa yang dibacanya. (16:10 WIB)
  8. Di akhir zaman ini banyaknya orang yang Islam tetapi tidak beriman sehingga selalu terjerumus dalam kelalaian, karena orang yang beriman itu selalu teliti terhadap detail setiap apa yang dilakukannya. (16:10 WIB)
  9. Sesungguhnya hidup ini adalah bentuk amanat, dan tidaklah semuanya mampu mengemban amanat kecuali manusia yang mau menerimanya. (16:11 WIB)
  10. Sesungguhnya seorang pemimpin itu berani dan mampu mengambil resiko untuk demi umat dan rakyatnya. (16:12 WIB)
  11. Sesungguhnya sebuah penyakit wabah adalah mahluk yang kecil dan tidak terlihat, karena banyaknya dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia, sehingga Allah timpakan sebuah musibah. (16:14 WIB)
  12. Sesungguhnya banyaknya musibah dan wabah itu manusia banyak beristighfar dan berdoa, akan lebih bagus lagi kalau dia banyak bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. (16:16 WIB)
  13. Barangsiapa yang ingin diberikan penjagaan oleh Allah SWT, maka jagalah Allah SWT agar selalu didalam hatimu, jagalah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT kepadamu, sesungguhnya Allah SWT adalah sebaik-baik pelindung. (16:17 WIB)
  14. Keyakinan itu hendaknya dilalui dengan sebuah ikhtiyar, sehingga keyakinanmu berproses dengan menjalankan syariat dan benar-benar meyakini. (16:18 WIB)
  15. Sesungguhnya orang yang bodoh itu tidak sedih atas waktu yang hilang, dan gelisah atas waktu yang panjang. (16:19 WIB)
  16. Orang yang istiqomah itu bukanlah mereka yang menjaga kehadirannya di majelis ilmu, melainkan dia yang menjaga hatinya untuk tetap berdzikir kepada Allah SWT. (16:21 WIB)
  17. Sesungguhnya pandangan orang awam dengan pandangan orang yang berilmu itu sangatlah beda, bahkan dalam hal musibah yang menyakitkan bagi orang awam tetapi anugerah bagi orang yang berilmu. (16:23 WIB)
  18. Sesungguhnya penyakit itu adalah bentuk ampunan dari Allah SWT, sehingga orang yang mati dalam keadaan sakit apabila dia beriman maka dia akan mati sebagai orang yang syahid. (16:24 WIB)
  19. Ikhlaslah terhadap takdir Allah SWT, janganlah kamu takut perihal kematian, karena manusia itu pasti akan mati. (16:25 WIB)
  20. Sesungguhnya orang yang benar-benar menuju akhirat itu akan dapat merasakan nikmat ibadah, mustahil manusia itu akan dapat merasakan nikmat apabila dia tidak fokus dan setengah-setengah dalam melakukan sesuatu. (16:29 WIB)
  21. Orang yang berilmu itu tidak akan merasa amalnya diterima, justru dia akan menambahkan ibadah dan amalnya karena semakin diketahui kebodohan dan kerusakan pada dirinya. (16:30 WIB)
  22. Hidup di dunia ini tidaklah ada yang aman, karena setiap detik dan waktu itu iblis tidak akan berhenti menggoda manusia untuk masuk neraka, maka orang yang beriman dia akan menjaga waktunya. (16:31 WIB)
  23. Sesungguhnya setiap kesenangan dan hiburan itu dibaliknya akan terselip akan sebuah maksiat, dan maksiat itu adalah dosa. (16:32 WIB)
  24. Sesungguhnya kecenderungan manusia terhadap Allah SWT itu akan menghasilkan ilmu rasa, dan rasa nikmat yang diberikan itu akan membuat manusia jadi istiqomah. (16:35 WIB)
  25. Kedudukan seseorang itu tergantung sejauh mana dia bertanggung jawab terhadap amanat yang diberikan kepadanya, yang akan dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT. (16:37 WIB)
  26. Janganlah kamu sibuk terhadap penyakit yang menimpamu, tetapi sibuklah dengan yang menciptakan penyakit. (16:39 WIB)
  27. Bentuk kepercayaan yang Allah SWT berikan kepada seorang hamba yang dapat dipercaya, pastilah dia akan ditunggu oleh banyak kesibukkan dan amanat dari Allah SWT. (16:41 WIB)
  28. Barangsiapa yang sudah mengerjakan sebuah pekerjaan Allah SWT, maka akan ditunggu 10 pekerjaan lainnya, 10 pekerjaan ditunggu 100 pekerjaan lainnya, 100 pekerjaan selesai ditunggu 1000 pekerjaan lainnya, begitulah seterusnya. (16:42 WIB)
  29. Apabila Allah SWT sudah mempercayakan kamu sebuah amanat, maka janganlah kamu menghapus kepercayaan tersebut. (16:43 WIB)
  30. Sesungguhnya bentuk amal itu tergantung dari niatnya. (16:45 WIB)
  31. Hendaknya kita menolong sesama manusia atas dasar kemanusiaan janganlah memandang amal manusia, karena amal itu akan dinilai oleh Allah SWT. (16:47 WIB)
  32. Janganlah menghukum manusia dan memandangnya buruk dari apa yang telah diamalkannya. (16:48 WIB)
  33. Sesungguhnya manusia itu akan dilihat dari bagaimana dia meninggalnya, dari apa yang dikerjakan semasa hidupnya. (16:48 WIB)
  34. Setiap perbuatan dan pekerjaan itu pasti akan memiliki resiko. (16:55 WIB)
  35. Sesungguhnya setiap doa itu harus disertai niat, apa yang menjadi hajatmu kepada Allah SWT. (16:57 WIB)
  36. Orang yang bodoh adalah mereka yang membaca doa tetapi tidak memiliki hajat, dan orang yang sombong yang tidak memiliki hajat dan keinginan dalam dirinya. (16:58 WIB)
  37. Berdoalah dengan sungguh-sungguh yang menjadi hajatmu, kemudian barulah kamu berikhtiar. (16:59 WIB)
  38. Janganlah kamu risau dan bingung terhadap kapan hari kiamat itu akan datang dan hari kiamat semakin dekat, tetapi risaulah apabila kamu kembali kepada Tuhanmu tidak membawa amal kebaikan sedikitpun. (17:04 WIB)
  39. Sesungguhnya orang yang beriman apabila ditimpakan musibah kepadanya dia akan semakin mendekat kepada Allah SWT. (17:04 WIB)
  40. Sesungguhnya saat banyaknya pintu-pintu manusia tertutup ingatlah pintu taubat Allah SWT tetap akan terbuka. (17:07 WIB)
 
;