Kamis, 08 Agustus 2024 0 komentar

Ciri Khas Orang Yang Sombong

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Jika ia berhujjah atau diajak bertukar pikiran / diskusi niscaya ia akan marah dan benci apabila alasannya atau hujjah nya ditolak.

Jika ia diberi pengajaran atau nasehat ia akan mempertahankan prinsipnya/idealisme nya dan menolak nasehat dalam kebenaran itu. Dan kalau ia bisa memberi nasehat ia akan bersikukuh dengan nasehatnya

Jika sesuatu perkataanya ditolak niscaya ia akan marah.

Maka besar bahayanya bagi orang yang sombong. Dan sangat sulit sekali utk memberi maaf kepada org lain. Dan ciri khasnya orang sombong itu tidak akan sanggup mencintai orang-orang mukmin.

Kecintaannya adalah kebanggaan bagi dirinya sendiri. Dan ia tidak sanggup untuk merendahkan diri karena disebabkan  sangat sulitnya untuk meninggalkan kebusukan hati.  Dan ia tidak sanggup berkekalan di atas kebenaran. Karena kebenaran itu tempat kemuliaan. Dan ia tidak akan sanggup meninggalkan kemarahan. Karena menahan kemarahan adalah kemuliaan.

Dan orang yang sombong itu tidak akan sanggup meninggalkan penyakit hasud / dengki. Karena meninggalkan kedengkian adalah sifat kemuliaan.
Dan ia tidak akan sanggup kepada nasehat yg lemah lembut. Karena nasehat yang lemah lembut itu adalah kemuliaan.
Dan ia tidak sanggup menerima nasehat karena nasehat itu tempat kemuliaan.
Dan orang yang sombong itu tidak akan selamat, karena dia masuk
dalam golongan yang gila pujian.
Dan apabila beramal bersedekah berinfaq dan beribadah hanya ingin mendapatkan pujian dari manusia.
Sesuai dengan firman Allah 
Qs.Al-mukmin: 56

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Tidak ada dalam dada mereka melainkan kesombongan yang tiada dapat disampaikannya.
Maka jelas tidak ada artinya untuk diperpanjangkan lagi.
Maka tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada seberat biji sawi daripada kesombongan.
Maka penyakit orang sombong itu yang paling jahat mencegah orang lain untuk meninggalkan kebaikan daripada menerima kebenaran dan mematuhinya.
Dan Allah sangat mencela bagi orang-orang yang memiliki kesombongan.

Qs. Al-An'am: 93

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.

Kemudian Allah SWT berfirman dalam Az-Zumar: 72

قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

Dikatakan (kepada mereka): "Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya" Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

Kemudian Allah mengancam dalam firmannya Surat An-Nahl: 22

إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ

Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.

Sebagaimana firman Allah SWT Qs. Al-A'raf: 146

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.

Diibaratkan orang yang sombong menurutt ahli hikmah, tidak akan tumbuh tanaman yang ditanam pada batu yang licin. Karena ilmu hikmah itu, tidak ditempatkan kepada orang-orang yang menyombongkan diri. Tetapi ilmu hikmah itu bekerja pada hati orang-orang yang merendahkan diri. Dan demikian itu bentuk macam kesombongan yang paling buruk dan keji. Dan tidak akan merubah kepadanya selain dalam kebodohan semata mata dan kedurhakaan.

Disifatkan dalam firman Allah SWT Qs. Al-Furqon: 60

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا ۩

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang", mereka menjawab: "Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).

Bahkan mereka membelokkan diri dari berfikir dan tertutuplah mata hati mereka. Maka terus meneruslah dia dalam kegelapan dan kebodohan disebabkan tidak mentaati Allah dan Rasul dan Ulama- ulamanya nya. Dan dia menyangka bahwa pendirian itu yang benar. Itulah orang yang tidak mau mengenal tentang ilmu Allah ta'ala sehingga dirinya tidak mau taat untuk mengikuti kebenaran dan merendahkan diri kepada Rasul-rasulNya dan para ulama-ulamaNya.

Dan bahayanya manusia yang sombong / menyombongkan diri dan yang membubarkan majelis dan mencerai beraikannya maka Allah ta'ala berfirman dalam ancamannya 
Qs.Al-An'am 52 :

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).

Dan disambung dengan firman Allah Qs.Al-Kahf: 28

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Karena sifat orang yang sombog sangat besarlah kehinaannya dan memiliki tanda-tanda yang menyalahi Allah taala pada segala petunjukNya. Apabila ia mendengar dan mengetahui kebenaran dari salah seorang hamba Allah niscaya ia akan enggan menerimanya dan ia akan terus menerus mengingkarinya.

Bahkan tidak pernah cocok dalam tukar pikiran untuk membahas hal rahasia agama. Mereka akan terus menyangkal dengan kebodohannya. Dan mencari usaha daya upaya untuk menolak kebenaran. Itu adalah akhlak yang kebanyakan dimiliki orang-orang kafir dan orang-orang munafik apabila mendapatkan pelajaran atau pengajaran dari manusia mereka tidak akan mematuhi dan mentaatinya dan keluarlah daripada imannya sebagaimana difirmankan Allah dalam 
Qs.Al-Baqarah: 206

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.

Itulah orang-orang yang disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW orang yang mengingkari kebenaran. Maka Allah Ta'ala berfirman dalam surat
Qs. As-Syu'ara:215

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.
Selasa, 06 Agustus 2024 0 komentar

Nasehat Dari Syeikh Arifin bin Ali bin Hasan

بسم الله الرّحمن الرّحيم


  • Jangan pernah engkau lepaskan apa yang ada pada tanganmu/usaha/ pekerjaan,
    dan jangan pernah engkau meniru orang lain/menjadi orang lain,
    dan jangan pernah merasa jenuh/bosan dalam meraih cita-cita,
    dan jangan pernah mengatakan aku tidak bisa sebelum mencoba,
    dan jangan pernah merasa sukses sebelum merasakan kegagalan,
    dan jangan pernah merasa benar sebelum orang lain membenarkan,
    dan jangan merasa yaqin sebelum mengetahui bukti keyakinan,
    dan jangan merasa beriman sebelum mengetahui nilai kecil dosa,
    dan jangan pernah merasa telah memiliki amal pahala/shaleh kebaikan sebelum mengetahui keikhlasannya,
    dan jangan pernah mengatakan ikhlas sebelum mengetahui sakitnya balasannya/cobaannya besar,
    dan jangan pernah mengatakan ini ujian sebelum mengetahui diri kita beriman pada Allah,
    dan jangan pernah mengatakan kami sudah beriman sebelum mengetahui ujian dari Allah,
    dan jangan pernah merasa memiliki/bangga sebelum merasakan penghinaan,
    dan jangan mengatakan cinta/mahabah sebelum berjuang dan berkorban, maka HIKMAH adalah dimulai dengan NIAT dan CITA-CITA dalam kesungguhan untuk meraihnya

  • Harta apakah yang paling menggembirakan bagi orang yang berakal?
    Dan harta manakah yang bisa menolong untuk menolak kesedihan?
    Dan harta apakah yang membuat ketenangan dalam hidupnya?
    Ahli hikmah menjawab:
    1. Harta yang paling menggembirakan setiap kali berbuat amal yang sholeh atau baik
    2. Harta yang dia rela dengan yang ditentukan oleh Qadha atau ketetapan Tuhannya.
    3. Orang yang Qanaah
  • "Masa muda adalah kesempatan untuk mencapai cita-cita dan menggapai derajat yang tinggi disisinya, maka raihlah dengan semangat serta kesungguhan demi mencapai kemuliaan dan tidak ada unsur terlambat untuk meraihnya. Kegagalan merupakan pintu menuju kesuksesan dan jangan menyerah oleh keadaan dan mulailah dengan YAKIN untuk memperolehnya" AMIN"
  • Manusia yang cerdas selalu memikirkan bekal amal akherat, kecerdasan akal adalah karunia dari Tuhanku, kesalahan akal hanya digunakan untuk mencapai kesuksesan dunia melupakan akherat, akal adalah alat, penggunaan alat adalah orang-orang yang berakal, orang yang berakal adalah orang-orang yang berilmu, disebut orang yang berilmu yang tidak menggunakan akal, karena orang yang tidak menggunakan akal hidupnya penuh dengan penyesalan-penyesalan disebabkan dengan kebodohannya, kebodohannya disebabkan kecintaannya pada dunia, dan dunia telah mempermainkannya, yang mempermainkannya adalah sifat dari iblis jahanam laknatullah, maka berusahalah MERAIH KEHIDUPAN AKHERAT untuk KEABADIANNYA.
0 komentar

Do'a Imam Ghazali

بسم الله الرّحمن الرّحيم


اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ النِّعْمَةِ تَمَامَهَا وَمِنَ الْعِصْمَةِ دَوَامَهَا وَمِنَ الرَّحْمَةِ شَمُوْلَهَا وَمِنَ الْعَافِيَةِ حُصُوْلَهَا وَمِنَ الْعَيْشِ أَرْغَدَهُ وَمِنَ الْعُمْرِ أَسْعَدَهُ وَمِنَ الْإِحْسَانِ أَتَمَّهُ وَمِنَ الْإِنْعَامِ أَعَمَّهُ وَمِنَ الْفَضْلِ أَعْذَبَهُ وَمِنَ اللُّطْفِ أَقْرَبَهُ وَمِنَ الْعَمَلِ أَصْلَحَهُ وَمِنَ الْعِلْمِ أَنْفَعَهُ وَمِنَ الرِّزْقِ

أَوْسَعَهُ اَللّٰهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَا تَكُنْ عَلَيْنَا.

اَللّٰهُمَّ اخْتِمْ بِالسَّعَادَةِ آجَالَنَا وَحَقِّقُ بِالزِّيَادَةِ أَعْمَالَنَا وَاقْرُنْ بِالْعَافِيَةِ غُدُوَّنَا وَآصَالَنَا وَاجْعَلْ إِلَى رَحْمَتِكَ مَصِيْرَنَا وَآمَالَنَا وَاصْبُبْ سِجَالَ عَفْوِكَ عَلَى ذُنُوْبِنَا وَمُنَّ عَلَيْنَا بِاإِصْلَاحِ عُيُوْبِنَا وَاجْعَلِ التَّقْوَى زَادَنَا وَفِي دِينِكَ اجْتِهَادَنَا وَعَلَيْكَ تَوَ كُّلَنَا وَاعْتِمَادَنَا إِلَهَنَا3x ثَبِّتْنَا عَلَى نَهْجِ الْإِسْتِقَامَةِ وَأَعِذْنَا مِنْ مُوْ جِبَاتِ النَّدَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَخَفِّفْ عَنَّا ثِقَلَ الْأَوْزَارِ وَارْزُقْنَا عَيْشَةَ الْأَبْرَارِ وَاكْفِنَا وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ الْأَشْرَارِ وَأَعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ ابَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا مِنَ النَّارِ وَالدَّيْنِ وَالْمَظَالِمِ يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ يَا كَرِيمُ يَا سَتَّارُ يَا حَلِيمُ يَا جَبَّارُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ وُصَحْبِهِ

ALLAAHUMMA INNAA NAS-ALUKA MINAN NI'MATI TAMAA MAHAA WA MINAL 'ISHMATI DAWAAMAHAA WA MINAR-ROHMAATI SYUMUULAHAA WA MINAL 'AAFIYATI
HUSHUULAHAA WA MINAL 'AYSYI ARGHODAH, WA MINAL 'UMRI AS'ADAH, WA MINAL
IHSAANI ATAMMAH, WA MINAL IN'AAMI A'AMMAH WA MINAL FADHLI A'DZABAH, WA
MINAL LUTHFI AQROBAH. WA MINAL 'AMALI ASHLAHAH, WA MINAL 'ILMI ANFA'AH, WA
MINAR RIZQI AWSA'AH. ALLAAHUMMA KUN LANAA WALAA TAKUN 'ALAYΝΑ.
ALLAAHUMMΜΑΚΗΤΙΜ BIS-SA'AADARI AAJAALANAA WA HAQQIQ BIZ ZIYAADATI
A'MAALANAA WAQRUN BIL 'AAFIYATI GHUDUWANAA, WA AASHOOLANA WAJ 'AL ILAA
ROHMATIKA MASHIIRONAA WA AAMAAALANAA WASHBUB SIJAALA 'AFWIKA 'ALAA
DZUNUUBINAA WA MUNNA 'ALAYNAA BI ISHLAAHI UYUUBINAA WAJ 'ALIT TAQWAA ZAADANAA WA FI DIINIKAJTIHAADANAA WA 'ALAYKA TAWAK-KULANAA WA'TIMAADANAA.
ILAAHANAA (tiga kali), TSABBITNAA 'ALAA NAHJIL ISTIQOOMAH, WA AIDZ MA MUN MUUJIBAATIN NADAAMATI YAUMAL QIYAAMAH, WA KHAFFIF 'ANNAA TSIQOOLAL AWZAARI WARZUQNAA 'AYSYATAL ABROORI WAKFINAA WASHRIF 'ANNAA SYARROL ASYROORI WA A'TIQ RIQOOBANAA WA RIQOOBA AABAA-INAA WA UMMAHAATINAA MINAN NARI WAD DAYNI WAL MAZHALIMI YAA 'AZIIZU YAA GHOFFARU YAA KARIIMU YAA SATTAARU YAA HALIIMU YAA JABBAR, BIROHMATIKA YA ARHAMAR ROOHIMIIN. WA SHOLLALLAAHU 'ALAA KHOIRI KHOLQIHI MUHAMMADIN WA AALIHI WA SHOНВІНІ AJMA'IIN.

"Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu nikmat yang sempurna, penjagaan yang senantiasa, rahmat yang meliputi, kesehatan yang tetap, kehidupan yang paling menyenangkan, umur yang paling membahagiakan, ihsan yang paling sempurna, nikmat yang paling merata, anugerah yang paling enak, kebaikan yang paling dekat, amal yang baik, ilmu yang paling bermanfaat, dan rezeki yang paling luas. Ya Allah, jadilah Engkau sebagai penolong kami, bukan yang menghadapi (melawan) kami.
Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan kebahagiaan, wujudkanlah amal kami semakin bertambah, sertailah saat pagi dan petang kami dengan kesehatan, jadikanlah akhir perjalanan kami dan harapan kami adalah menuju rahmatMu, tuangkanlah limpahan-limpahan ampunan Mu terhadap dosa-dosa kami, berikanlah kepada kami anugerah diperbaikinya aib-aib kami, jadikanlah takwa sebagai bekal kami, agama sebagai perjuangan kami, serta tawakal dan ketergantungan kami hanya kepadaMu.
Tuhan kami (tiga kali), tetapkanlah kami pada jalur istiqomah, lindungilah kami dari hal-hal yang dapat menyebabkan penyesalan di hari kiamat, ringankanlah beban dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari kejahatan orang-orang yang jahat, bebaskanlah kami, ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami dari neraka, hutang dan kedholiman. Wahai Yang Maha Mulia, wahai Yang Maha Pengampun, wahai Yang Maha Pemurah, wahai Yang Maha Menutupi, wahai Yang Maha Penyantun, wahai Yang Maha Perkasa, dengan rahmatMu, wahai Yang Paling Penyayang diantara yang penyayang. Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada makhluk terbaik Nya juga kepada keluarga dan para sahabatnya".


Diamalkan selepas sholat fardhu 1x
Fadhilahnya, Insya Allah: 
  1. Dikabulkan segala hajatnya
  2. Diampuni segala dosa-dosanya dan keluarganya
  3. Dimurahkan rezekinya
  4. Diakhirkan umurnya Khusnul Khotimah
0 komentar

Tentang Penuntut Ilmu

بسم الله الرّحمن الرّحيم

QS. AL AN'AM 153

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ * وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٥٣)

WA ANNA HAAZAA SHIROOTHII MUSTAQIIMANG FATTABI'UUH, WA LAA TATTABI'US-SUBULA FA TAFARROQO BIKUM 'ANG SABIILIH, ZAALIKUM WASHSHOOKUM BIHII LA'ALLAKUM TATTAQUUN
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa".

Seseorang itu tidak dapat menemuh perjalanan dhahir dan bathin kecuali dengan semangat yang tinggi dan penuh dengan kesungguhan. Sedangkan orang-orang yang bodoh membiasakan dengan kemalasannya, lemah, kurang akal dan suka menunda-nunda, sedikit yang dapat menyelesaikan suatu urusan dan tidak pernah mendapatkan apa yang dituju kecuali hanya sekedar pemberian Allah yang ia kehendaki dan penuh dengan keraguan yang tidak memiliki prinsip yang tetap, yang imannya selalu berubah-ubah (taqlit). Maka Al Imam Abdullah bin Alwi Al Haddad bermasah dalam syairnya:

يَا طَالِبَ التَّحْقِيقِ قُمْ وَبَادِرْ

وَانْهَضْ عَلَى سَاقِ الْهِمَمْ وَخَاطِرْ

وَاصْبِرْ عَلَى قَمْعِ الْهَوَى وَصَابِرْ

وَاصْدُقُ وَلَا تَبْرَحْ مُلَازِمَ الْبَابُ

Wahai penuntut Tahqiq, bangun dan bersegeralah

Dengan penuh semangat dan kemauan, bangkitlah

Bersabarlah dalam mengendalikan hawa nafsu

Berkatalah yang benar dan bersiaplah selalu di pintu

Sedangkan menurut Sayyidina Al Imam Al Arifbillah Ahmad bin Hasan Al Athas dalam kitab Qirthos mengatakan "Puncak anugerah Ilahiyyah terbagi menjadi 3:
  1. Kesungguhan dalam mencari
  2. Pengabdian diri sebagai hamba yang baik
  3. Niat yang benar
Apabila 3 syarat ini dimiliki bagi penuntut ilmu maka telah tercapai maksud dan cita-citanya. Maka dengan niat bersungguh-sungguh untuk mencari puncak anugerah Ilahiyyah dan penuh semangat merupakan puncak awal/dasar semua amal kebaikan, karena niat adalah ruh segala ketaatan. Dan semangat merupakan dasar modal semua amal kebaikan, apabila dibangun amal shaleh dan akhlak yang baik maka tercapailah tujuan menuntut ilmu. Maka yang didapatkannya akan mengetahui kelemahan-kelemahan pada diri sendiri. Karena semakin menuju tingkat kemuliaan akan semakin bertambah pula kelelahan dalam mencapainya. Dan kemuliaan itu tidak akan pernah diperoleh kecuali dengan proses yang perlahan-lahan dan membutuhkan waktu yang sangat lama dan tidak ada terwujud cita-cita itu hanya dengan mengaku-aku dan panjang angan-angan.

Menuntut ilmu menurut Asy Syeikh Al Imam Al Quthub As Sayyid Al Arifbillah Abdullah bin Abubakar Al Idrus mengatakan "Apabila penuntut ilmu semangatnya lemah dan kurang, dan malas maka membuat mata hati menjadi gelap, jiwa atau hati menjadi keras dan pikiran membeku dan tidak akan pernah tercapai cita-citanya yang diinginkan dan tidak akan pernah sampai kepada yang dicintainya. Dan barangsiapa yang menghendaki kejernihan hatinya dan masuk dalam alam Robbani, maka hendaklah ia banyak beribadah/sholat di tengah malam.

Menurut Al Imam Asy Sayyid Al Arifbillah Ahmad bin Zein Al Habsyi mengatakan "Seseorang itu tidak akan dapat mencapai sesuatu kedudukan kecuali seseorang itu benar-benar fokus pada kedudukan itu. Dan apabila seseorang itu banyak cabang pikirannya niscaya ia tidak akan sampai mencapai kedudukan itu. karena Allah tidak akan memberi kepada seorang hambaNya kecuali memiliki persiapan dan niat untuk itu. Berapa banyak orang-orang yang disebut sholeh yang semuanya tidak mampu untuk menambahkan atau menaikannya kepada kedudukan yang lebih tinggi sehingga ia tetap pada maqom kedudukan yang semula. Maka dengan persiapan melakukan aktivitas atau kegiatan dan berjuang di jalan Allah akan didapatkan keberkahan dan akan diperoleh pemberian Nya. Maka dengan mujahadah akan didapatkan Musyahadah (penyaksian kepada Allah), sesuai dalam firman Allah SWT

QS. Al Ankabut 69:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ، وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٦٩

WALLAZIINA JAAHADUU FIINAA LANAHDIYANNAHUM SUBULANAA, WA INNALLOHA LAMA'AL-MUHSINIIN

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang- orang yang berbuat baik".


Dalam syairnya, Al Mutanabbi berkata:

عَلَى قَدْرِ أَهْلِ الْعَزْمِ تَأْتِي الْعَزَائِمِ

 وَتَأْتِي عَلَى قَدْرِ الْكِرَامِ الْمَكَارِمُ 

وَتَعْظُمُ فِي عَيْنِ الصَّغِيْرِ صِغَارُهَا 

وَتَصْغُرُ فِي عَيْنِ الْعَظِيمِ الْعَظَائِمِ

Semangat kan datang senilai pemiliknya
Pun kemuliaan kan tiba sepadan pemiliknya
Hal sepele tampak besar di mata orang kecil
Hal besar di mata orang besar menjadi kecil

Dan penuntut ilmu harus siap dan mengetahui karena setiap kebaikan itu pasti banyak ujian dan
cobaannya dan rintangannya. Maka yang perlu dibutuhkan bagi penuntut ilmu adalah kesabaran
untuk menghadapinya dan barangsiapa yang bisa bersabar dalam menghadapi ujian dan kesulitan
maka ia akan sampai kepada tujuan, kesenangan dan mendapatkan kemudahan-kemudahanNya.
Jumat, 26 Juli 2024 0 komentar

Manaqib Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas (Pekalongan)

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas (Pekalongan)

Lahir

Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas dilahirkan di Kota Al-Hajarayn, Hadramaut, pada tahun 1255 H atau 1839 M, Orangtua tua beliau adalah Habib Abdullah bin Thalib Al-Atthas dan As-Syarifah Zaenab binti Ahmad Al-Kaff.

Riwayat Keluarga Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas

Dari pernikahannya Habib Ahmad bin Abdulah bin Thalib Al-Atthas dikaruniai putra, diantaranya adalah :
  1. Habib Ali bin Ahmad bin Abdullah Al-Atthas

Nasab Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas

Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib termasuk dari keturunan Nabi Muhammad Rasulullah SAW., dengan Silsilah sebagai berikut :
  1. Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
  2. Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib
  3. Al-Imam Al-Husain
  4. Al-Imam Ali Zainal Abidin
  5. Al-Imam Muhammad Al-Baqir
  6. Al-Imam Ja’far Shadiq
  7. Al-Imam Ali Al-Uraidhi
  8. Al-Imam Muhammad An-Naqib
  9. Al-Imam Isa Ar-Rumi
  10. Al-Imam Ahmad Al-Muhajir
  11. As-Sayyid Ubaidillah
  12. As-Sayyid Alwi
  13. As-Sayyid Muhammad
  14. As-Sayyid Alwi
  15. As-Sayyid Ali Khali’ Qasam
  16. As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath
  17. As-Sayyid Ali
  18. As-Sayyid Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad
  19. As-Sayyid Al-Imam Alwi Al-Ghuyur
  20. As-Sayyid Ali Shohibud Dark  
  21. As-Sayyid Muhammad Maula Ad-Dawilah
  22. As-Sayyid Abdurrahman Assegaf
  23. As-Sayyid Abdullah
  24. As-Sayyid Abdurrahman
  25. As-Sayyid Abdullah
  26. As-Sayyid Salim
  27. As-Sayyid ‘Aqil
  28. As-Sayyid Abdurrohman Al-Attas
  29. As-Sayyid Umar
  30. As-Sayyid Husein
  31. As-Sayyid Abdullah
  32. As-Sayyid Hasan
  33. As-Sayyid Ali (Shohib Mashad)
  34. As-Sayyid Hasan
  35. As-Sayyid Ali
  36. As-Sayyid Thalib
  37. As-Sayyid Abdullah
  38. As-Sayyid Ahmad

Wafat

Beliau meninggal pada malam Ahad tanggal 25 Rajab, tahun 1347 Hijriyah (6 Januari 1929) dan dimakamkan di Sapuro, Kota Pekalongan. Hari, tanggal dan tahun meninggalnya tertulis dalam batu nisan di makam beliau.

Sanad Ilmu dan Pendidikan Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas

Pada masa kecilnya, Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas  mendapat didikan dalam bidang , agama langsung dari kedua orangtua beliau, yaitu Habib Abdullah bin Thalib Al-Atthas dan As-Syarifah Zaenab binti Ahmad Al-Kaff.

Guru-guru Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas

  1. Habib Abdullah bin Thalib Al-Atthas ( Ayahanda Habib Ahmad)
  2. Habib Hasan bin Ali Al-Kaff (Hadramaut)
  3. Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Kaff (Hadramaut)
  4. Habib Quthb Sholeh bin Abdullah Al-Atthas (Hadramaut)
  5. Habib Quthb Abubakar bin Abdullah Al-Atthas (Hadramaut)
  6. Habib Quthb Thahir bin Umar Al-Haddad (Hadramaut)
  7. Habib Quthb Idrus bin Umar Al-Habsyi (Hadramaut)
  8. Habib Ahmad bin Hasan bin Sholeh Al-Bahar (Hadramaut)
  9. Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdor (Hadramaut)
  10. Habib Muhammad bin Ibrahim Al-Bilfaqih. (Hadramaut)
  11. Syekh Muhammad bin Said Babusailah (Makkah)
  12. Habib Salim bin Ahmad al-Atthas (Makkah)
  13. Al-Quthb Aqthab al-Sayyid al-Allamah Ahmad bin Zaini Dahlan [1817-1886] (Makkah)
  14. Habib Abdullah bin Muhammad Al-Habsyi. (Makkah)

Penerus Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas

Anak Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas

Habib Ali bin Ahmad bin Abdullah Al-Atthas

Perjalanan Hidup dan Dakwah Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas

Sekilas Tentang Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas

Kelahiran Setidaknya terdapat tiga rujukan penting yang memuat  cerita tentang kehidupan (manaqib) Habib Ahmad bin Abdullah Al-Atthas. Yang pertama adalah Manaqib Al-Imam Arif billah Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib  Al-Atthas karya Muhsin bin Muhammad Al-Atthas. Yang kedua adalah Mawrid Al-Thalib fi Manaqib Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib tulisan Ahmad bin Umar Al-Atthas, dan yang ketiga adalah Tajul ‘Aras ‘ Al-Habib Quthb Shalih bin Abdullah Al-Atthas karya Ali bin Husain al-Atthas. Dalam rujukan-rujukan tersebut diterangkan bahwa Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas dilahirkan di Kota Al-Hajarayn, Hadramaut, pada tahun 1255 H atau 1839 M. Pada masa kecilnya, beliau mendapat didikan dalam bidang agama langsung dari orangtua, yaitu al-Habib Abdullah bin Thalib Al-Atthas dan As-Syarifah Zaenab binti Ahmad al-Kaff.

Setelah dirasa cukup menimba ilmu dari ayahnya, beliau kemudian meneruskan menuntut ilmu kepada para ulama besar yang ada di Hadramaut. Di antara guru-guru beliau:
  1. Habib Hasan bin Ali Al-Kaff (Hadramaut)
  2. Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Kaff (Hadramaut)
  3. Habib Quthb Sholeh bin Abdullah Al-Atthas (Hadramaut)
  4. Habib Quthb Abubakar bin Abdullah Al-Atthas (Hadramaut)
  5. Habib Quthb Thahir bin Umar Al-Haddad (Hadramaut)
  6. Habib Quthb Idrus bin Umar Al-Habsyi (Hadramaut)
  7. Habib Ahmad bin Hasan bin Sholeh Al-Bahar (Hadramaut)
  8. Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdor (Hadramaut)
  9. Habib Muhammad bin Ibrahim Al-Bilfaqih. (Hadramaut)
Setelah, ditempa oleh para ulama besar dan guru di Hadramaut, keinginan beliau untuk menuntut ilmu tak pernah luntur. Hasrat untuk menambah ilmu sedemikian hebat, sehingga beliau kemudian melakukan perjalanan ke arah utara yaitu ke Kota Makkah. Di kota suci ini, beliau banyak  menjumpai ulama-ulama besar yang tinggal di Kota Makkah. Kesempatan baik ini tidak beliau sia-siakan. Beliau berguru kepada para ulama besar seperti :
  1. Syeikh Muhammad bin Said Babusailah (Makkah)
  2. Habib Salim bin Ahmad Al-Atthas (Makkah)
  3. Al-Sayyid Al-Alamah Ahmad bin Zaini Dahlan [1817-1886] (Makkah)
  4. Habib Abdullah bin Muhammad Al-Habsyi. (Makkah)
Dua ulama besar yang disebut  terakhir, juga merupakan guru para Ulama-uama di Nusantara waktu itu, seperti Syekh Mahfuz Termas, Syekh Abdul Hamid Kudus dan lain-lain.

Habib Ahmad selama sekitar 12 tahun menimba ilmu di Kota Makkah dengan penuh ketekunan dan keseriusan. Beliau terus mengembangkan keilmuannya, sehingga kapasitas beliau sebagai seorang ulama diakui oleh para ulama kota Makkah saat itu. Akhirnya beliau dianjurkan oleh gurunya, Al-Sayyid Al-Alamah Ahmad bin Zaini Dahlan, untuk memulai terjun ke masyarakat, mengajarkan ilmu dan berdakwah. Mula-mula beliau berdakwah di pinggiran Kota Makkah yang beliau lakukan selama kurang lebih 7 tahun, Dalam kurun waktu itu, beliau aktif melakukan kegiatan dakwah.

Perjalanan di Indonesia Menyebarkan  Cahaya Dakwah

Setelah tujuh tahun mengajar di Makkah, beliau kemudian kembali ke Hadramaut. Setelah tinggal beberapa lama di kota kelahirannya, Habib Ahmad merasa terpanggil untuk berdakwah ke Indonesia. Pada masa itu, sedang banyak-banyaknya penduduk Hadramaut yang pergi ke Indonesia, di samping untuk berdagang juga untuk menyebarkan agama. Komunitas Arab-Hadhrami yang sudah lama mukim di Indonesia juga sangat membutuhkan guru-guru keagamaan untuk membimbing mereka. Setelah melakukan perjalanan panjang melalui lautan, beliau akhirnya sampai ke Indonesia sekitar antara tahun 1295 sampai 1300 H atau tahun 1880-an M.

Setibanya di Indonesia, beliau menuju ke Kota Pekalongan dan menetap disana. Melihat keadaan kota itu yang dinilainya masih membutuhkan dukungan syiar Islam, maka tergeraklah hati beliau untuk menetap di kota tersebut. Saat pertama menginjakkan kakinya di kota ini, beliau melaksanakan tugas sebagai Imam Masjid Wakaf yang terletak di Kampung Arab (Jalan Surabaya). Kemudian beliau membangun dan memperluas masjid tersebut. Di samping menjadi imam, di masjid ini Habib Ahmad mengajar membaca al-Qur’an dan beberapa kitab, serta memakmurkan masjid dengan bacaan Ratib, Diba’i, Al-Barzanji, wirid dan hizib di waktu-waktu tertentu, sehingga semakin marak jama‘ah Masjid Wakaf sejak kehadiran Habib Ahmad. Pada setiap bulan, Rajab misalnya, di Masjid tersebut Habib Ahmad membaca kitab Shahih Al-Bukhari dan ketika selesai diadakan upacara khataman Bukhari, yang dihadiri oleh banyak jamaah.

Dalam amaliyah keseharian, sebagaimana yang ditulis dalam kitab “Tajul A’ras” karya Habib Al-Quthb Ali Bin Husein Al-Atthas diceritakan, Habib Ahmad tidak pernah meninggalkan sholat tahajud setiap harinya dan di dalamnya selalu membaca satu juz Al Qur’an dan satu juz lagi dibaca saat sholat dhuha.

Sementara itu setiap bulan Ramadhan sore, Habib Ahmad membaca kitab al-Nasha'ih al-Diniyyah karya Imam Al-Haddad. Karena jamaah semakin banyak dan ruangan masjid tidak dapat menampung maka pada tahun 1913, atas inisiatif Habib Ahmad, Masjid Wakaf tersebut direnovasi dan diperluas. Setiap hari, Habib Ahmad memimpin jamaah untuk membaca Ratib. Sedangkan pada malam Jumat antara sholat Maghrib dan Isya’, dan Jum’at pagi ba’da sholat Subuh hingga-terbit matahari, Habib Ahmad dan para jamaah duduk melingkar untuk membaca surat-surat dalam al-Qur'an yang disunnahkan untuk dibaca pada hari Jum’at seperti surat Al-Kahfi, Yasin, Ad-Dukhan, Al-Waqi’ah dan Al-Mulk.

Semuanya itu dilakukan di Masjid Wakaf. Sedangkan di rumah, beliau juga membuka pengajian untuk kalangan terbatas. Di antara kitab-kitab yang beliau baca di rumah adalah :
  1. Risalah Al-Mu’awanah karya Habib Abdullah Al-Haddad
  2. ‘Iqd Al-Yawagit karya Habib ‘Idrus bin ‘Umar
  3. Idhah Asrar ‘Ulum Al-Mugarrabin karya Habib Muhammad Al-Idrus
  4. Al-Anwar Al-Muhammadiyah karya Al-Nabhani
  5. Al-Riyadh Al-Muniqa karya Habib ‘Ali bin Hasan Al-Atthas
  6. Al-Washiyyah Al-Mardhiyyah karya Habib ‘Ali bin Hasan Al-Atthas
  7. Al-Khulashah karya Habib ‘Ali bin Hasan Al-Atthas
Dan masih banyak kitab-kitab lainnya.

Melihat suasana pendidikan agama waktu itu yang masih sangat sederhana, maka Habib Ahmad tergerak untuk mendirikan Madrasah Salafiyah, yang letaknya berseberangan dengan Masjid Wakaf. Begitu pesatnya kemajuan Madrasah Salafiyah waktu itu, hingga banyak : menghasilkan ulama-ulama. Madrasah ini, yang didirikan lebih sekitar satu abad lalu, menurut Habib Abdullah Bagir, ' merupakan perintis sekolah-sekolah Islam modern, yang - kemudian berkembang di kota-kota lain.

Berdakwah dengan Akhlak yang Mulia

Ilmu Habib Ahmad memang sangat luas, namun ilmu itu bukan hanya sekedar dikuasai dan tidak diamalkan. Selain diamalkan, Habib Ahmad tidak pernah menyombongkan  ilmunya, melainkan selalu tampil dengan rendah hati, suka bergaul, jujur, sabar, istiqomah dan disiplin dalam menjalankan agama.

Di Kota Pekalongan beliau aktif meneruskan kegiatankegiatan dakwahnya. Beliau tidak ambil pusing dengan urusan-urusan duniawi. Semua tenaga dan fikiran beliau semata ditujukan untuk kepentingan dakwah. Waktu beliau selalu dipenuhi dengan kegiatan dakwah, ibadah, dzikir kepada Allah dan membaca ayat-ayat suci al-Qur'an. Keluasan ilmu yang beliau miliki dihiasi pula dengan akhlak beliau yang mulia. Menurut sejumlah orang tua di Kota Pekalongan, berdasarkan penuturan ayah atau mereka yang hidup pada masa Habib Ahmad, habib ini selalu tampil dengan rendah hati (tawadhu), dan suka bergaul.

Amar Ma’ruf-Nahi Munkar

Habib Ahmad terkenal dengan ketegasannya dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. jika beliau melihat seseorang yang melakukan suatu kemungkaran, beliau tidak segan-segan untuk menegurnya. Namun perkataan-perkataan yang keluar dari lisan beliau, selalu beliau ucapkan dengan jujur‘dan niat yang suci. Beliau tidak dapat mentolerir terhadap hukum-hukum Allah yang dilanggar atau melihat orang yang meremehkan soal agama. Sebagai contoh, Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas dikenal dengan keketatannya pada kaidah pakaian wanita muslim. Orang-orang di Kota Pekalongan tahu betul akan hal itu, dan para wanitanya tidak pernah berani berjalan di antara rumah beliau dan masjid tanpa menutupi tubuhnya secara rapat. Oleh sebab itu para wanita, tidak akan berani lalu lalang di depan kediamannya tanpa mengenakan kerudung atau tutup kepala. Tidak peduli wanita Muslim, maupun wanita Cina atau Belanda, mereka menggunakan tutup kepala apabila lewat di tempat kediaman beliau.

Pernah seorang istri residen Pekalongan dimarahi karena berpapasan dengan beliau karena tidak menggunakan tutup kepala. Cerita-cerita yang berhubungan dengan tindakan Habib Ahmad ini sudah begitu tersebar luas di tengah masyarakat Pekalongan. Bahkan, setiap perayaan yang menggunakan bunyi-bunyian seperti drumband, mulai perempatan selatan sampai  perempatan utara Jl. KH. Agus Salim, tidak dibunyikan karena  akan melewati rumah beliau. Habib Ahmad juga sangat keras terhadap  perjudian dan perzinaan.'’° Bagi Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas, itu merupakan kewajiban yang harus beliau lakukan.

Wara dan Zuhud

Beliau dikenal sebagai orang yang sangat wara dan zuhud. Beliau sangat hati-hati dalam masalah harta supaya tidak ada harta haram yang beliau gunakan apalagi dimakan.  Demi kehati-hatian itu pula beliau tidak mau menerima sesuatu dari seseorang kecuali dari orang yang diketahui baik . pergaulannya dan benar niatnya.

Selama bertahun-tahun beliau hidup dalam keadaan yang sederhana. Suatu ketika beliau menitipkan uang dalam jumlah yang besar kepada seseorang, kemudian uang itu hilang semuanya. Ketika beliau diberi tahu, beliau hanya  tertawa dan sedikitpun tidak menunjukkan kemarahan serta sama sekali tidak terpengaruh dengan kejadian itu.

Beliau juga tidak suka, bergurau baik dalam perbuatan maupun ucapan dan selalu menghindari gurauan dalam semua majelisnya, sehingga yang ada di dalam majelisnya hanyalah kesungguh-sungguhan, Aib orang tidak pernah disebut dalam majelisnya. Majelis beliau sepenuhnya merupakan majelis ilmu, dzikir dan dakwah.

Keseharian Habib Ahmad disibukkan dengan kegiatan ta‘lim dan dakwah di Masjid Wakaf, Jl. Surabaya. Sebelum wafat beliau sempat mengalami patah tulang pada pangkal pahanya, akibat jatuh, hingga tidak dapat berjalan. Sejak itu beliau mengalihkan kegiatannya di kediamannya, termasuk sholat berjamaah dan pengajian. Beliau meninggal pada malam Ahad tanggal 25 Rajab tahun 1347 Hijriyah (6 Januari 1929) dan dimakamkan di Sapuro, Kota Pekalongan. Hari, tanggal dan tahun meninggalnya tertulis dalam batu nisan di makam beliau."

Setiap tahun diadakan acara haul untuk mengenang jasa beliau, namun peringatan haulnya diselenggarakan setiap tanggal 14 Sya’ban, bersamaan dengan malam Nisfsu Syaban. Acara haul ini setiap tahun dihadiri oleh ribuan orang. Perjuangan beliau kemudian diteruskan oleh keturunan beliau, yaitu Habib Ali, kemudian Habib Ahmad dan sekarang oleh Habib Muhammad Baqir.

Keteladanan Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib AL-Atthas

Di Kota Pekalongan Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas aktif melakukan kegiatan-kegiatan dakwah. Beliau tidak ambil pusing dengan urusan-urusan duniawi. Semua tenaga dan fikiran beliau semata ditujukan untuk kepentingan dakwah. Waktu beliau selalu dipenuhi dengan kegiatan dakwah, ibadah, dzikir kepada Allah dan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Keluasan ilmu yang beliau miliki dihiasi pula dengan akhlak beliau yang mulia. Menurut sejumlah orang tua di Kota Pekalongan, berdasarkan penuturan ayah atau mereka yang hidup pada masa Habib Ahmad, habib ini selalu tampil dengan rendah hati (tawadhu), dan suka bergaul.

Habib Ahmad terkenal dengan ketegasannya dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Jika beliau melihat seseorang yang melakukan suatu kemungkaran, beliau tidak segan-segan untuk menegurnya. Namun perkataan-perkataan yang keluar dari lisan beliau, selalu beliau ucapkan dengan jujur‘dan niat yang suci. Beliau tidak dapat mentolerir terhadap hukum-hukum Allah yang dilanggar atau melihat orang yang meremehkan soal agama.

Beliau dikenal sebagai orang yang sangat wara dan zuhud. Beliau sangat hati-hati dalam masalah harta supaya tidak ada harta haram yang beliau gunakan apalagi dimakan.  Demi kehati-hatian itu pula beliau tidak mau menerima sesuatu dari seseorang kecuali dari orang yang diketahui baik. pergaulannya dan benar niatnya.

Selama bertahun-tahun beliau hidup dalam keadaan yang sederhana. Suatu ketika beliau menitipkan uang dalam jumlah yang besar kepada seseorang, kemudian uang itu hilang semuanya. Ketika beliau diberi tahu, beliau hanya  tertawa dan sedikitpun tidak menunjukkan kemarahan serta  sama sekali tidak terpengaruh dengan kejadian itu.
0 komentar

Haul Habib Ahmad Al-Atthas Pekalongan 2004

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Habib Umar Melon






Hadratus Syeikh Arifin bin Ali bin Hasan

Habib Najib bin Hasan Al-Haddad 





Habib Zein bin Ibrahim bin Smith (Madina)







Habib Abdul Qadir bin Hadi Al-Haddar Banyuwangi













Habib Najib bin Hasan Al-Haddad dengan Syeikh Arifin bin Ali bin Hasan




0 komentar

Gallery Foto Habib Syech bin Muhammad bin Husein Al-Idrus (Anak Habib Neon, Surabaya)

بسم الله الرّحمن الرّحيم



 
;